Mental Issue Bukan Berarti Kurang Iman, Ustaz Felix Siauw Jelaskan dari Sudut Pandang Islam

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 14:56 WIB
Ilustrasi orang yang sedan depresi. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi orang yang sedang depresi. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN – Masalah kesehatan mental masih kerap dikaitkan dengan persoalan keimanan. 

Seseorang yang mengalami stres, kelelahan mental, atau kesedihan mendalam terkadang dianggap kurang beribadah atau kurang dekat dengan Tuhan.

Pandangan tersebut dibahas pendakwah sekaligus penulis Ustaz Felix Siauw melalui tayangan di kanal YouTube resminya berjudul Mental Issue = Kurang Ibadah?.

Baca Juga: Pernah Alami Burnout, Ariel Tatum Kini Lebih Selektif Kerja dan Utamakan Kesehatan Mental

Dalam kajiannya, Ustaz Felix menekankan bahwa tekanan mental merupakan pengalaman yang dapat dialami manusia.

Karena itu, kondisi tersebut tidak semestinya langsung diberi label sebagai akibat kurangnya iman.

“Orang mengalami stres atau mental illness bukan berarti karena mereka kurang salat atau kurang iman, melainkan karena mereka butuh salat dan butuh lebih dekat kepada Allah. Ini adalah proses mengkalibrasi ulang komitmen kita kepada-Nya,” ungkap Ustaz Felix dalam kajian tersebut.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan spiritual dapat menjadi salah satu bagian dari proses seseorang dalam menghadapi kondisi mentalnya.

Namun, orang yang mengalami masalah kesehatan mental juga tetap membutuhkan dukungan sosial dan, bila diperlukan, bantuan tenaga profesional.

Rasulullah SAW Juga Pernah Mengalami Kesedihan

Dalam pemaparannya, Ustaz Felix mengaitkan pembahasan tersebut dengan pengalaman Rasulullah SAW ketika menghadapi berbagai peristiwa berat.

Salah satunya adalah Perang Uhud. Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW menghadapi kehilangan dan kesedihan setelah Hamzah bin Abdul Muthalib gugur.

Pasukan Muslim juga mengalami kekalahan setelah terjadi pelanggaran terhadap strategi yang telah ditetapkan.

Peristiwa tersebut menjadi gambaran bahwa kesedihan dan tekanan bukan sesuatu yang hanya dialami orang yang jauh dari agama.

Manusia tetap dapat mengalami guncangan emosional meskipun memiliki keimanan.

Dalam kondisi seperti itu, seseorang membutuhkan proses untuk kembali menemukan ketenangan dan memahami hikmah dari peristiwa yang dialaminya.

Ustaz Felix juga menggunakan istilah wahan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang mengalami kelemahan atau penurunan kondisi mental yang bersifat sementara.

Analogi tersebut menggambarkan bahwa kondisi mental dapat mengalami penurunan sebagaimana kondisi fisik.

Ketika tubuh mengalami kelelahan, seseorang membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri.

Begitu pula kondisi psikologis membutuhkan perhatian dan proses pemulihan.

Jangan Hakimi, Tapi Temani dan Dengarkan

Salah satu hal yang juga ditekankan adalah cara orang terdekat memperlakukan seseorang yang sedang mengalami masalah mental.

Menurut Ustaz Felix, respons terhadap orang yang sedang mengalami tekanan tidak seharusnya hanya berupa nasihat atau perintah untuk lebih banyak beribadah.

Alih-alih menghakimi, orang terdekat perlu memberikan ruang agar mereka dapat merasa aman untuk bercerita.

Menemani dan mendengarkan menjadi bentuk dukungan yang penting.

Setelah mendapatkan dukungan, seseorang dapat memiliki ruang untuk kembali menata dirinya dan, secara sukarela, mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam kajian tersebut, pembahasan juga menyinggung kecenderungan manusia terlalu berfokus pada sesuatu yang hilang.

Perasaan kekurangan (sense of scarcity) dapat membuat seseorang sulit melihat hal-hal yang masih dimiliki.

Dalam perspektif spiritual, perhatian dapat dialihkan kepada berbagai hal yang masih menjadi karunia, termasuk iman, dukungan orang-orang terdekat, serta keyakinan terhadap kehidupan akhirat.

Namun, dukungan spiritual bukan berarti seseorang harus menghadapi masalah kesehatan mental seorang diri.

Jika tekanan yang dialami menetap, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau terasa semakin berat, mencari bantuan psikolog maupun psikiater merupakan langkah yang dapat dilakukan.

Pada akhirnya, persoalan kesehatan mental tidak tepat jika hanya dilihat dari satu sisi.

Keimanan dan spiritualitas dapat menjadi sumber kekuatan bagi seseorang, tetapi kondisi psikologis juga perlu dipahami dengan empati dan, ketika dibutuhkan, ditangani melalui bantuan profesional. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
masalah mental kurang iman felix siauw kesehatan mental