Kelelahan Mental Makin Marak, Budaya Kerja Berlebihan Disebut Bisa Memicu Stres Kronis

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 18:15 WIB
Jaket identitas” dari Irenethejournal mengibaratkan rasa percaya diri yang cuma sekadar luaran, karena cuma bersumber dari prestasi dan pengakuan orang lain. (RADARTUBAN/AI)
Jaket identitas” dari Irenethejournal mengibaratkan rasa percaya diri yang cuma sekadar luaran, karena cuma bersumber dari prestasi dan pengakuan orang lain. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN – Uang, jabatan, penampilan, pencapaian, dan pengakuan dari orang lain sering menjadi hal yang dikejar untuk meningkatkan rasa percaya diri.

Namun, ketika nilai diri terlalu bergantung pada hal-hal tersebut, seseorang dapat mudah merasa kurang ketika pencapaian itu berubah atau muncul orang lain yang dianggap lebih unggul.

Hal tersebut disampaikan Irenethejournal melalui kanal pribadinya.

Dalam pembahasannya, Irenethejournal memperkenalkan istilah “jaket identitas” untuk menggambarkan berbagai pencapaian dan peran yang tanpa sadar digunakan seseorang sebagai sumber rasa aman dan berharga.

Menurut Irenethejournal, jabatan dapat membuat seseorang merasa penting, uang memberikan rasa aman, sedangkan penampilan dan pencapaian bisa menimbulkan perasaan layak dihargai.

Masalah muncul ketika seseorang mulai menganggap hal-hal tersebut sebagai bagian utama dari dirinya.

Baca Juga: Bahlil Mini Soccer U-17 Zona 4 Kediri Resmi Dibuka, Dorong Generasi Muda Disiplin dan Percaya Diri

“Masalahnya muncul ketika kita lupa bahwa kita sedang memakai jaket lalu mulai mengira jaket itu adalah diri kita,” jelas Irenethejournal.

Ketergantungan tersebut membuat seseorang cenderung terus mengejar target baru. Ketika keinginan berhasil dicapai, muncul rasa senang dan bangga.

Namun, setelah beberapa waktu, pencapaian itu dapat terasa biasa sehingga perhatian kembali tertuju pada sesuatu yang lebih besar.

Kondisi tersebut juga dapat memicu kebiasaan membandingkan diri. Kehadiran orang yang lebih sukses, lebih menarik, atau lebih berpengaruh bisa membuat seseorang kembali merasa kecil.

Padahal, menurut Irenethejournal, orang lain tidak selalu menjadi penyebab munculnya rasa tersebut, melainkan dapat memperlihatkan ketidakamanan yang sebelumnya sudah ada dalam diri.

Dia juga menjelaskan bahwa kepercayaan diri yang sehat tidak seharusnya bergantung pada hasil. Seseorang bisa saja mengalami penolakan, kegagalan, atau kehilangan suatu pencapaian tanpa harus menganggap kondisi tersebut sebagai gambaran keseluruhan tentang dirinya.

“Percaya diri adalah kepercayaan bahwa kita bisa tetap bersama diri kita bahkan ketika hasilnya enggak sesuai harapan,” ungkap Irenethejournal.

Untuk membangun cara pandang yang lebih sehat, seseorang dapat mulai mengenali hal yang paling menentukan nilai dirinya.

Setelah itu, penting untuk memahami perasaan yang selama ini dicari melalui pencapaian, memisahkan sebuah kejadian dari identitas diri, serta mengambil tindakan berdasarkan keyakinan bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh satu hasil.

Baca Juga: Tren Bukan Keharusan! Begini Tips Tampil Percaya Diri Lewat Fashion

Dengan begitu, pencapaian tetap dapat dinikmati tanpa menjadi satu-satunya sumber kepercayaan diri. Seseorang tetap bisa mengejar kesuksesan, menerima penghargaan, dan memiliki ambisi tanpa harus menunggu pencapaian tertentu untuk merasa berharga.

Pada akhirnya, rasa cukup bukan berarti berhenti berkembang. Seseorang tetap dapat menginginkan kehidupan yang lebih luas sekaligus menerima dirinya dalam kondisi sekarang.

Dengan cara tersebut, pertumbuhan tidak lagi didorong oleh ketakutan merasa kurang, melainkan oleh keinginan untuk menjalani hidup secara lebih utuh. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Jaket identitas kesehhatan mental stres percaya diri