RADARTUBAN - Dosen sekaligus akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag., membahas perbedaan true self dan fake self dalam kaitannya dengan proses seseorang mengenali jati dirinya.
Dalam tayangan yang diunggah kanal SAY Inspiratif, Fahruddin Faiz menjelaskan seseorang dapat mengalami kebingungan mengenai dirinya ketika terlalu lama menjalani peran berdasarkan tuntutan dan ekspektasi dari lingkungan sekitar.
Menurut pembahasannya, fake self tidak selalu berarti kepalsuan yang sengaja dibuat untuk menipu orang lain. Kondisi tersebut dapat terbentuk ketika seseorang menyesuaikan diri secara berlebihan agar diterima keluarga, lingkungan sosial, maupun masyarakat.
Baca Juga: Eka Juni Lutfiana, Point Guard Muda yang Temukan Jati Diri di Basket
Ketika standar kesuksesan, kebahagiaan, atau perilaku dari luar terus menjadi patokan, seseorang berpotensi semakin jauh dari keinginan dan nilai yang sebenarnya ia miliki.
Situasi tersebut dapat membuat seseorang merasa asing terhadap pikiran dan perasaannya sendiri.
"Seseorang sering kali kehilangan jati dirinya bukan karena tidak memiliki identitas, melainkan karena ia terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain hingga lupa mendengarkan suara hatinya sendiri," ujar Fahruddin Faiz dalam percakapan tersebut.
True Self dan Fake Self
Dalam pembahasannya, Fahruddin menjelaskan true self sebagai kondisi ketika seseorang mampu mengenali dan menerima dirinya secara lebih jujur, termasuk kelebihan maupun kekurangannya.
Kesejatian diri juga berkaitan dengan kesadaran terhadap nilai-nilai yang diyakini serta keberanian untuk menjalani kehidupan sesuai dengan nilai tersebut.
Sebaliknya, seseorang yang lebih banyak digerakkan oleh fake self cenderung bergantung pada penilaian dari luar.
Kebutuhan terhadap validasi, kekhawatiran tidak disukai orang lain, hingga kebiasaan membandingkan pencapaian dengan orang lain dapat menjadi bagian dari pola tersebut.
Menurut Fahruddin, persoalannya bukan sekadar bagaimana seseorang terlihat di hadapan orang lain. Hal yang lebih penting adalah apakah kehidupan yang dijalani benar-benar sesuai dengan nilai dan dirinya sendiri.
Tekanan untuk terus memenuhi ekspektasi eksternal juga dapat membuat seseorang mengalami kelelahan dan merasa tidak puas dengan kehidupan yang dijalaninya.
Pentingnya Muhasabah
Untuk kembali mengenali diri, Fahruddin menekankan pentingnya introspeksi atau muhasabah. Seseorang perlu menyediakan ruang untuk melihat kembali nilai, keinginan, keterbatasan, serta arah hidupnya.
Baca Juga: Jatim Siap Jadi Pusat Bela Diri Asia Tenggara? Ambisi Besar di Balik Kerja Sama dengan Jepang
Selain itu, keberanian menerima keterbatasan diri menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Tidak semua standar yang dibentuk lingkungan harus dijadikan ukuran keberhasilan pribadi.
Ketergantungan terhadap validasi dari luar juga perlu dikurangi agar seseorang tidak terus-menerus menentukan nilai dirinya berdasarkan penilaian orang lain.
Pembahasan tersebut pada akhirnya mengajak seseorang untuk menjalani kehidupan secara lebih otentik. Mengenali true self bukan berarti mengabaikan lingkungan, melainkan memahami diri dan menentukan pilihan hidup dengan kesadaran yang lebih baik.
Proses mengenali diri, sebagaimana pesan dalam tayangan tersebut, bukan sesuatu yang selesai dalam waktu singkat. Perjalanan tersebut membutuhkan kejujuran, keberanian, dan refleksi secara terus-menerus. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni