Bukan Joki Tugas, Kini Ada Joki Baca Buku hingga Rp1,6 Juta demi Terlihat Seperti Bookworm

Hardiyati Budi Anggraeni • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 16:36 WIB
Orang yang gemar membaca buku memiliki kepribadian unik
Orang yang gemar membaca buku memiliki kepribadian unik

RADARTUBAN - Jasa joki biasanya identik dengan pengerjaan tugas atau pekerjaan tertentu. Namun, tren baru muncul di media sosial.

Kini ada jasa joki baca buku yang menawarkan diri membaca buku milik orang lain dengan tarif mencapai Rp1,6 juta.

Layanan tersebut ditawarkan salah satu pengguna Threads melalui akun @inilin***. Pemilik akun membuka jasa membaca buku berbahasa Indonesia maupun Inggris, mulai dari fiksi hingga nonfiksi dan berbagai genre.

"Open jasa Joki Baca Buku. English, Indonesia. Fiksi, non fiksi, siap semua genre," tulis akun tersebut dalam unggahannya, dikutip pada Selasa (6/10).

Tarif yang tercantum dalam unggahan berkisar Rp 700 ribu hingga Rp 1,6 juta untuk buku dengan ketebalan sekitar 100 sampai 800 halaman.

Tak hanya membaca, layanan tersebut juga menawarkan sejumlah tambahan. Di antaranya crochet bookmark atau pembatas buku rajut, sticky note transparan, dan page marker untuk menandai halaman.

Baca Juga: Di Balik Kesibukan sebagai Legislator, Anggota DPRD Tuban Luqmanul Hakim Gemar Membaca Buku Politik

Pemilik akun juga menawarkan jasa memotret buku setelah selesai dibaca. Dokumentasi tersebut dapat digunakan pelanggan sebagai konten di media sosial.

Cara Kerja Joki Baca Buku

Unggahan mengenai jasa tersebut kemudian ramai diperbincangkan pengguna Threads. Pemilik akun bahkan mengaku tidak menyangka tawarannya mendapat banyak perhatian.

"Ya Allahhh, nggak nyangka rameeee, jangan dihujat plisss. Kalau mau order jasanya boleh DM ya," tulisnya.

Sejumlah warganet kemudian mempertanyakan konsep dan tujuan jasa tersebut. Menjawab pertanyaan itu, pemilik akun menyebut layanan yang ditawarkannya juga dapat disebut sebagai *ghost reader*.

Mekanismenya, pelanggan mengirimkan buku yang tidak ingin dibaca sendiri. Buku tersebut kemudian dibaca oleh penyedia jasa, diberi highlight serta berbagai penanda di halaman tertentu.

"Kakaknya punya buku tapi males bacanya, kirim ke aku nanti aku baca, buat highlight, kasih penanda, pokoknya dibuat sampe terlihat udah dibaca berkali-kali, nanti aku kirim kembali bukunya ke kakak hehehe," tulisnya.

Setelah selesai, buku dikembalikan kepada pemilik dalam kondisi yang dibuat seolah-olah telah dibaca dan dikaji berkali-kali.

Sasarannya Pengguna Media Sosial

Pemilik jasa tersebut juga secara terbuka menjelaskan target pasar layanan yang ditawarkannya. Menurut dia, jasa tersebut menyasar orang yang ingin membangun citra sebagai pencinta buku di media sosial.

"Target market utamanya untuk orang yang mau terlihat seperti bookworm/bookstagram," jawabnya.

Istilah bookworm umumnya digunakan untuk menyebut orang yang gemar membaca, sedangkan bookstagram merujuk pada komunitas atau konten bertema buku di Instagram.

Baca Juga: Fenomena Orang Lebih Suka Mendengarkan Podcast daripada Membaca Buku

Pemilik akun mengungkapkan bahwa jasa serupa sebenarnya bukan pertama kali ditawarkannya. Saat masih SMA, dia mengaku pernah menjalankan layanan tersebut untuk novel bergenre teenlit dan chicklit.

Kini, jasa tersebut kembali dibuka. Namun, dia mengatakan tarif yang tercantum dalam unggahan viral bukan merupakan *rate card* sebenarnya.

"Aku baru mulai lagi kak, pas SMA pernah in jadul way buat novel (teenlit, chicklit), postingan ini buat narik klien, rate card aslinya nggak segitu," katanya.

Memicu Perdebatan soal Etika Membaca

Kemunculan joki baca buku tersebut memunculkan beragam respons di Threads. Sebagian pengguna melihatnya sebagai peluang bisnis yang unik dan menemukan adanya pasar untuk layanan tersebut.

"This is weird... But very interesting business. Aku kira kamu bercanda kak, ternyata beneran ada marketnya. Keren sih," komentar salah seorang pengguna.

Ada pula pengguna yang menilai penyedia jasa mendapatkan keuntungan ganda. Selain memperoleh bayaran, penyedia jasa juga bisa membaca buku dan mendapatkan pengetahuan dari isinya.

Namun, sebagian warganet mempertanyakan tujuan layanan tersebut, terutama ketika buku yang telah diberi highlight dan penanda digunakan untuk menciptakan kesan bahwa pemiliknya telah membaca buku tersebut sendiri.

"Kamu peduli ga kalau yang pake jasa pura-pura dia sendiri yang baca dan jadi bisa ngaku-ngaku ke orang lain? Atau memang marketnya orang-orang ini?" tulis seorang pengguna.

Pengguna lainnya mengaku masih dapat memahami jasa tersebut apabila tujuannya membantu seseorang memahami atau merangkum isi buku.

Namun, mereka mempertanyakan layanan tersebut apabila tujuan akhirnya hanya membuat buku terlihat sudah dibaca untuk kemudian ditampilkan di media sosial.

Pertanyaan lain juga muncul mengenai manfaat membaca jika proses tersebut sepenuhnya diserahkan kepada orang lain. Sebab, membaca pada dasarnya dilakukan untuk memperoleh informasi, pengetahuan, dan pemahaman secara langsung.

Fenomena joki baca buku tersebut akhirnya berkembang menjadi diskusi lebih luas mengenai budaya membaca, pencitraan di media sosial, hingga munculnya peluang bisnis baru dari kebiasaan pengguna internet.

Di satu sisi, layanan itu menunjukkan adanya pasar untuk jasa yang sebelumnya tidak umum. Di sisi lain, kemunculannya memunculkan pertanyaan mengenai keaslian aktivitas yang ditampilkan seseorang di media sosial ketika pengalaman membaca tersebut sebenarnya dilakukan oleh orang lain. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Joki baca buku bookstagram Membaca Buku