RADARTUBAN – Personal branding tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang membangun citra di hadapan publik.
Identitas yang ditampilkan perlu tetap mencerminkan karakter dan nilai yang dimiliki agar citra tersebut tidak berbeda jauh dari kehidupan sebenarnya.
Hal tersebut disampaikan Erwin Parengkuan dalam kanal Coach Anez & Yash. Sosok yang telah berkecimpung selama 37 tahun di bidang komunikasi itu membahas personal branding sekaligus buku terbarunya, Your Brand, Your Story.
Menurut Erwin, langkah awal dalam membangun personal branding adalah mengenali diri sendiri.
Seseorang perlu memahami kemampuan, nilai, karakter, serta keunikan yang dimiliki sebelum menentukan bagaimana dirinya ingin dikenal oleh orang lain.
Baca Juga: Kunjungi Radar Tuban, Putri Pariwisata Jawa Timur Bagikan Pengalaman dan Tips Personal Branding
Pemanfaatan media sosial kemudian dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan kemampuan dan karakter tersebut.
Namun, apa yang ditampilkan di ruang digital sebaiknya tetap memiliki hubungan dengan kepribadian seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
“Dia harusnya tidak boleh terlalu jauh dari our actual self,” ujar Erwin.
Menurutnya, seseorang memang dapat menunjukkan versi terbaik dari dirinya. Namun, hal tersebut bukan berarti harus menciptakan karakter yang sepenuhnya berbeda demi mendapatkan perhatian atau membangun kesan tertentu.
Perbedaan yang terlalu jauh antara citra dan perilaku justru dapat membuat personal branding kehilangan kepercayaan.
Kesesuaian tersebut juga berkaitan dengan prinsip yang dipegang seseorang.
Erwin menjelaskan bahwa personal brand tidak hanya dibentuk melalui penampilan, tetapi juga melalui perilaku yang dilakukan secara konsisten.
Misalnya, seseorang yang mengaku menjunjung nilai tertentu perlu menunjukkan nilai tersebut melalui tindakannya.
Dalam membangun personal brand, terdapat beberapa komponen yang perlu diperhatikan, yaitu prinsip, skill set, kemampuan komunikasi, keunikan, gaya personal, dan people skill.
Keenam unsur tersebut saling melengkapi dalam membentuk identitas seseorang di hadapan orang lain.
Prinsip menjadi dasar karena menentukan nilai yang menjadi pedoman dalam bertindak. Sementara kemampuan dan komunikasi membantu seseorang menunjukkan kompetensi sekaligus menyampaikan cerita mengenai dirinya.
Baca Juga: 7 Rahasia Personal Branding untuk Konten Kreator Non-Influencer
Keunikan dan gaya personal kemudian membuat seseorang memiliki karakter yang mudah dikenali, sedangkan people skill berkaitan dengan kemampuan membangun hubungan dengan orang lain.
Karena itu, personal branding tidak seharusnya dipahami sebagai upaya membuat diri terlihat sempurna. Seseorang justru perlu menerima karakter yang dimiliki sambil terus meningkatkan kualitas dirinya.
“Just be yourself only better,” katanya.
Pesan tersebut menekankan bahwa membangun personal branding bukan berarti berhenti berkembang atau sekadar mempertahankan diri apa adanya.
Seseorang tetap dapat memperbaiki kemampuan, cara berkomunikasi, dan kualitas diri tanpa kehilangan identitas yang menjadi cirinya.
Dengan begitu, personal branding yang kuat tidak hanya ditentukan oleh bagaimana seseorang ingin dikenal, tetapi juga oleh kesesuaian antara nilai, komunikasi, dan tindakan.
Keaslian menjadi bagian penting agar citra yang dibangun dapat dipercaya dan bertahan dalam jangka panjang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni