RADARTUBAN – Merasa menguasai teori tidak selalu berarti seseorang benar-benar ahli dalam suatu bidang.
Tanpa pengalaman dan kemampuan menerapkan pengetahuan di lapangan, kepercayaan diri berlebihan justru dapat menjerumuskan seseorang ke dalam ilusi kompetensi.
Fenomena ini dapat ditemukan di berbagai lingkungan profesional, termasuk dunia bisnis dan kewirausahaan.
Sebagian orang merasa mampu menjalankan usaha sendiri setelah mempelajari dasar-dasarnya, tetapi belum tentu siap menghadapi persoalan nyata yang lebih kompleks.
Baca Juga: Produk Bagus Tak Cukup, Kemal Mukhtar Bongkar Skill Penting bagi Pelaku UMKM
Sikap tersebut tergambar dalam pernyataan, “Kayaknya kita mau nyoba sendiri dulu deh,”
Kalimat itu dapat mencerminkan keinginan untuk mencoba secara mandiri, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri perlu diimbangi pemahaman mengenai tantangan yang akan dihadapi.
Salah satu pendekatan untuk memahami proses seseorang dalam menguasai keterampilan adalah Dreyfus Model of Skill Acquisition.
Model ini menjelaskan bahwa kemampuan berkembang melalui sejumlah tahapan, dari pemula hingga ahli, seiring bertambahnya pengalaman dan pemahaman terhadap situasi yang dihadapi.
Mengenal Lima Tahap Penguasaan Keterampilan
Dalam model Dreyfus, proses penguasaan keterampilan terdiri atas lima tahap, yakni novice (pemula), advanced beginner (pemula tingkat lanjut), competent (kompeten), proficient (mahir), dan expert (ahli).
Pada tahap novice, seseorang masih mengandalkan aturan dan petunjuk dasar untuk menyelesaikan tugas.
Ketika memasuki tahap advanced beginner, dia mulai mengenali pola dari pengalaman awal, meskipun masih membutuhkan arahan dalam menghadapi situasi yang lebih rumit.
Selanjutnya, individu pada tahap competent mulai mampu merencanakan tindakan dan menentukan prioritas secara lebih mandiri.
Pada tahap proficient, pemahaman terhadap situasi menjadi lebih menyeluruh sehingga ia dapat menyesuaikan tindakan berdasarkan pengalaman.
Adapun pada tahap expert, seseorang telah mengembangkan pemahaman mendalam melalui pengalaman yang panjang.
Tidak sekadar mengetahui teori, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan dan menilai situasi dengan lebih matang.
Tahapan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan keterampilan membutuhkan proses.
Memahami konsep dasar merupakan bagian penting dalam belajar, tetapi belum cukup untuk membuktikan bahwa seseorang telah menguasai suatu bidang.
Pengalaman Menjadi Bagian Penting dalam Membangun Keahlian
Dalam dunia bisnis, kesenjangan antara pengetahuan dan pengalaman dapat terlihat ketika seseorang mulai menerapkan gagasannya.
Menjalankan usaha tidak hanya membutuhkan pemahaman teori, tetapi juga kemampuan menghadapi perubahan kondisi, mengambil keputusan, serta menyelesaikan masalah yang muncul.
Karena itu, kepercayaan diri perlu disertai evaluasi yang objektif terhadap kemampuan diri.
Seseorang perlu mengenali hal-hal yang sudah dikuasai sekaligus memahami bagian yang masih membutuhkan pembelajaran dan pendampingan.
Model Dreyfus dapat menjadi pengingat bahwa menjadi ahli bukan proses instan.
Pengalaman, latihan, evaluasi, dan kesediaan belajar dari kesalahan merupakan bagian dari perjalanan mengembangkan keterampilan.
Dengan memahami tahapan tersebut, para profesional maupun pelaku usaha diharapkan tidak terjebak dalam ilusi kompetensi.
Mengakui keterbatasan bukan berarti tidak mampu, melainkan langkah penting untuk terus berkembang dan membangun keahlian yang lebih matang. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari