Mengapa Perempuan Mudah Iri Melihat Pencapaian Orang Lain? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:32 WIB
Ilustrasi seseorang yang tidak membandingkan diri dengan kesuksesan orang lain. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi seseorang yang tidak membandingkan diri dengan kesuksesan orang lain. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN -  Melihat pencapaian orang lain terkadang memicu rasa iri, membuat seseorang merasa tertinggal, bahkan meragukan kemampuan diri sendiri.

Irene Irawan mengajak perempuan memahami perasaan tersebut secara jujur agar dapat mengenali keinginan pribadi tanpa terus membandingkan kehidupan dengan orang lain.

Dalam pembahasan di youtube pribadinya IreneTheJournal, dia menjelaskan bahwa rasa iri tidak selalu harus dipandang sebagai sifat buruk. 

Perasaan itu dapat menjadi kesempatan untuk memahami hal-hal yang sebenarnya diinginkan, tetapi belum berani diakui atau diwujudkan.

Baca Juga: Rendah, Minat Anak Muda Jadi Petani Milenial, Hanya Tiga Pendaftar, Satu Peserta Sudah Mengundurkan Diri

Menurutnya, masalah muncul ketika keberhasilan orang lain dijadikan standar untuk mengukur kehidupan sendiri. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.

“Penderitaan muncul ketika kita percaya bahwa semua orang seharusnya mencapai hal yang sama pada usia yang sama,” ungkapnya

Media Sosial Membuat Kebiasaan Membandingkan Diri

Kebiasaan membandingkan pencapaian semakin mudah terjadi melalui media sosial.

Dalam waktu singkat, seseorang bisa melihat keberhasilan karier, perkembangan bisnis, kepemilikan rumah, hingga kehidupan keluarga orang lain.

Berbagai gambaran tersebut dapat membentuk anggapan bahwa ada standar kehidupan ideal yang harus dicapai setiap orang.

Perasaan tertinggal pun semakin kuat ketika pencapaian itu dibandingkan dengan kehidupan teman sebaya atau orang yang memiliki latar belakang serupa.

Padahal, apa yang terlihat dari kehidupan orang lain tidak selalu menggambarkan keseluruhan perjalanan mereka.

Kondisi, peluang, dan hambatan yang dihadapi setiap individu berbeda sehingga pencapaian seseorang tidak bisa dijadikan ukuran mutlak bagi orang lain.

Rasa iri juga terkadang mendorong seseorang mencari kekurangan orang yang dianggap lebih berhasil. Keberhasilan tersebut bisa dianggap tidak istimewa atau sekadar pencitraan demi mengurangi rasa rendah diri.

Cara itu mungkin memberikan kelegaan sesaat. Namun, kebiasaan meremehkan pencapaian orang lain tidak serta-merta membantu seseorang memahami sumber ketidakpuasan dalam dirinya.

Rasa Iri Bisa Menjadi Petunjuk Keinginan Pribadi

Irene menekankan pentingnya mengakui rasa iri tanpa langsung menghakimi diri sendiri. Merasakan iri bukan berarti seseorang harus bersikap buruk kepada orang yang memicunya.

Baca Juga: Pejabat MBG Tuban Irit Bicara, Fitra Jatim: Jika Tak Ada Korupsi, Kenapa Harus Tertutup?

Sebaliknya, seseorang dapat tetap menghargai keberhasilan orang lain sambil mengakui bahwa dirinya juga menginginkan sesuatu yang serupa.

“Iri adalah informasi, bukan instruksi,” jelasnya.

Ungkapan tersebut menekankan bahwa rasa iri dapat digunakan sebagai bahan refleksi, bukan sebagai dorongan untuk menjatuhkan orang lain atau memaksakan diri mengikuti jalan hidup mereka.

Seseorang mungkin tidak benar-benar menginginkan kehidupan orang lain secara keseluruhan.

Hal yang memicu rasa iri bisa jadi adalah kebebasan, rasa aman, keberanian, pengakuan, atau kesempatan yang terlihat dimiliki orang tersebut.

Dengan mengenali sumber perasaan itu, seseorang dapat membedakan keinginan pribadi dari dorongan untuk sekadar menyamai pencapaian orang lain.

Empat Pertanyaan untuk Memahami Rasa Iri

Untuk membantu mengenali keinginan yang tersembunyi di balik rasa iri, dia mengajak pendengarnya menjawab empat pertanyaan berikut.

1. Apa yang memicu rasa iri? Kenali pencapaian atau situasi tertentu yang membuat diri merasa tertinggal.

2. Apa yang dikatakan kepada diri sendiri? Perhatikan pikiran yang muncul setelah melihat keberhasilan orang lain, termasuk penilaian negatif terhadap diri sendiri.

3. Apa yang sudah berani dilakukan orang tersebut? Pikirkan tindakan atau kesempatan yang telah diambil orang lain, tetapi belum berani dilakukan untuk diri sendiri.

4. Bagaimana mewujudkan keinginan itu dengan cara sendiri? Tentukan langkah yang sesuai dengan kondisi, kemampuan, dan tujuan pribadi.

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat menjadi awal untuk memahami kebutuhan diri secara lebih jelas. Setelah mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan, seseorang bisa mulai mengambil langkah sederhana untuk mendekatinya.

Misalnya, mulai berani menyampaikan pendapat, menunjukkan karya kepada orang lain, atau mencoba kesempatan yang selama ini dihindari.

Pada akhirnya, rasa iri tidak harus berujung pada perasaan rendah diri atau kebiasaan meremehkan pencapaian orang lain.

Jika dipahami dengan tepat, perasaan itu dapat menjadi titik awal untuk mengevaluasi diri, mengenali keinginan pribadi, dan menentukan langkah hidup tanpa terus bergantung pada pencapaian orang lain. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
irene iraan pencapaian orang lain rendah diri IRI