RADARTUBAN – Marah merupakan emosi yang wajar dialami setiap orang. Namun, ketika tidak dikelola dengan baik, amarah dapat memicu tindakan impulsif, merusak hubungan sosial, hingga menimbulkan penyesalan setelah konflik berakhir.
Karena itu, kemampuan mengelola emosi menjadi penting agar seseorang dapat menyampaikan ketidakpuasan tanpa memperburuk keadaan.
Bukan dengan memendam seluruh perasaan, melainkan mengenali pemicu amarah dan menentukan respons yang lebih tepat.
Topik tersebut dibahas praktisi kesehatan sekaligus pengusaha dr. Tirta Mandira Hudhi dalam podcast Ruang Tunggu bertajuk Ternyata Begini Cara dr. Tirta Mengelola Marah.
Baca Juga: Sering Cekcok dengan Pasangan? Tsamara Fahrana Ungkap Cara Mengelola Emosi Agar Hubungan Tetap Sehat
Dalam pembahasan itu, amarah dipandang sebagai emosi yang dapat memberikan sinyal ketika seseorang merasa dirugikan, menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan, atau mengalami pelanggaran batas pribadi.
Tantangannya adalah bagaimana mengolah respons tersebut agar tidak berubah menjadi perilaku destruktif.
“Marah itu emosi yang sah dan manusiawi, tapi kuncinya ada di regulasi. Kalau kita enggak bisa mengelola amarah dengan kepala dingin, energi besar itu justru akan menghancurkan relasi kita sendiri dan membuat kita kehilangan kendali atas diri kita,” ungkap dr. Tirta dalam tayangan tersebut.
Kenali Pemicu Sebelum Bereaksi
Salah satu langkah penting dalam mengelola amarah adalah mengenali penyebabnya.
Perasaan marah tidak selalu muncul hanya karena tindakan orang lain. Kelelahan, tekanan pekerjaan, ekspektasi yang tidak terpenuhi, atau persoalan yang menumpuk juga dapat memengaruhi cara seseorang merespons situasi.
Dengan memahami pemicunya, seseorang memiliki kesempatan untuk membedakan persoalan utama dari emosi yang sedang dirasakan.
Langkah ini membantu menentukan apakah masalah perlu dibicarakan, diselesaikan, atau justru membutuhkan jeda sebelum ditanggapi.
Memberikan waktu untuk menenangkan diri juga dapat membantu mengurangi risiko reaksi impulsif.
Ketika emosi sedang memuncak, seseorang bisa mengambil napas perlahan, menjauh sejenak dari situasi yang memicu konflik, atau menunda percakapan sampai lebih tenang.
Cara tersebut terutama penting ketika menghadapi konflik di ruang publik maupun media sosial.
Unggahan atau komentar yang dibuat saat sedang marah berpotensi memperluas persoalan dan menimbulkan konsekuensi yang sulit diperbaiki.
Bukan berarti seseorang harus menghindari setiap konflik. Sebaliknya, menyampaikan keberatan dengan jelas dan tegas dapat membantu menyelesaikan masalah tanpa harus menyerang atau merendahkan pihak lain.
Salurkan Amarah tanpa Merusak Diri Sendiri
Selain mengenali pemicu, seseorang perlu menemukan cara yang sehat untuk menyalurkan energi emosional.
Aktivitas fisik, menulis, berbicara dengan orang tepercaya, atau mengerjakan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi dapat membantu sebagian orang mengelola ketegangan.
Namun, mengubah amarah menjadi produktivitas bukan berarti mengabaikan persoalan yang mendasarinya.
Jika penyebabnya adalah konflik atau batas pribadi yang dilanggar, masalah tersebut tetap perlu ditangani melalui komunikasi dan tindakan yang sesuai.
Memberi ruang bagi diri sendiri untuk menenangkan pikiran juga bukan bentuk kelemahan.
Jeda dapat membantu seseorang mempertimbangkan pilihan respons dan konsekuensinya sebelum mengambil keputusan.
“Jangan biarkan emosi sesaat mendikte keputusan hidup jangka panjang kita. Belajar melatih kesadaran diri saat marah adalah investasi mental terbaik untuk menjaga kewarasan di tengah tekanan hidup yang tinggi,” tambah dr. Tirta dalam sesinya.
Pada akhirnya, mengelola amarah bukan tentang menghilangkan emosi tersebut sepenuhnya.
Kemampuan ini lebih berkaitan dengan mengenali apa yang dirasakan, memahami penyebabnya, dan memilih tindakan yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Jika amarah terus terasa sulit dikendalikan hingga mengganggu pekerjaan, hubungan, atau kehidupan sehari-hari, mencari bantuan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang bermanfaat. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari