RADARTUBAN – Jatuh cinta bukan sekadar menghadirkan kebahagiaan dan keinginan untuk selalu dekat dengan seseorang.
Di balik perasaan tersebut, otak mengalami perubahan aktivitas yang melibatkan sistem penghargaan, motivasi, dan keterikatan emosional.
Proses biologis ini turut menjelaskan mengapa seseorang bisa terus memikirkan orang yang disukai, merasa bahagia ketika mendapat perhatian, atau mengalami kesulitan saat hubungan berakhir.
Baca Juga: Menikah Tak Cukup Modal Cinta, Ayoe Sutomo Ungkap Pentingnya Asesmen Pranikah
Dalam aspek tertentu, pengalaman jatuh cinta bahkan memiliki kemiripan dengan mekanisme kecanduan.
Dokter spesialis bedah saraf sekaligus pemerhati neurosains, dr. Roslan Yusni Hasan, membahas fenomena tersebut dalam tayangan di kanal MALAKA bertajuk Cinta Lebih Adiktif daripada Narkoba.
Pembahasan ini menunjukkan bahwa cinta tidak hanya berkaitan dengan perasaan, tetapi juga melibatkan proses biologis yang kompleks.
Meski demikian, kemiripan aktivitas otak saat jatuh cinta dan mengalami kecanduan tidak berarti keduanya sepenuhnya sama. Klaim bahwa cinta lebih adiktif daripada narkoba juga tidak dapat digeneralisasi untuk semua orang dan situasi.
Dopamin Membuat Jatuh Cinta Terasa Menyenangkan
Salah satu unsur yang berperan dalam pengalaman jatuh cinta adalah dopamin, zat pembawa pesan kimia di otak yang terlibat dalam motivasi, pembelajaran, dan sistem penghargaan (reward system).
Ketika seseorang mendapatkan perhatian dari orang yang disukai, pengalaman tersebut dapat memunculkan perasaan menyenangkan sekaligus memperkuat keinginan untuk mengalaminya kembali.
Hal ini membuat pesan singkat, pertemuan, atau perhatian kecil dari pasangan terasa begitu berarti.
Sistem penghargaan yang melibatkan dopamin juga berperan dalam perilaku adiktif.
Karena itu, terdapat kemiripan pada mekanisme otak yang berkaitan dengan dorongan untuk mendapatkan perhatian dari orang yang dicintai dan keinginan mengulangi perilaku yang memicu kecanduan.
Namun, dopamin bukan satu-satunya faktor yang menentukan perasaan cinta. Pengalaman emosional tersebut melibatkan berbagai sistem saraf dan proses psikologis yang saling berkaitan.
Saat jatuh cinta, seseorang juga dapat lebih berfokus pada orang yang disukai sehingga perhatian terhadap hal lain berkurang.
Dalam kondisi tertentu, emosi yang kuat bisa memengaruhi cara seseorang menilai hubungan dan mengambil keputusan.
Meski begitu, anggapan bahwa bagian otak yang mengatur logika sepenuhnya berhenti bekerja saat jatuh cinta tidak tepat.
Kemampuan berpikir rasional tetap berjalan, meskipun emosi dan motivasi dapat memengaruhi pertimbangan seseorang.
Putus Cinta dan Peran Hormon Keterikatan
Perasaan kehilangan setelah hubungan berakhir dapat menimbulkan tekanan emosional yang besar.
Seseorang mungkin mengalami kecemasan, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, hingga keluhan fisik ketika menghadapi penolakan atau perpisahan.
Pengalaman tersebut berkaitan dengan respons otak terhadap kehilangan dan perubahan rutinitas emosional.
Meski dalam beberapa aspek dapat menyerupai gejala putus zat, putus cinta tidak sama dengan withdrawal syndrome akibat ketergantungan zat.
Selain dopamin, oksitosin dan vasopresin turut berperan dalam sejumlah aspek keterikatan sosial dan hubungan jangka panjang.
Kedua zat tersebut terlibat dalam proses biologis yang berkaitan dengan ikatan sosial. Namun, kedekatan, kepercayaan, dan komitmen tidak ditentukan oleh hormon semata.
Hubungan yang bertahan lama juga dipengaruhi komunikasi, pengalaman bersama, rasa aman, dan komitmen kedua belah pihak.
Artinya, keberlangsungan relasi tidak hanya bergantung pada reaksi kimia di dalam otak.
Memahami proses biologis di balik jatuh cinta dapat membantu seseorang mengenali pengaruh emosi terhadap perilaku.
Perasaan yang kuat tetap perlu diimbangi kemampuan menilai hubungan secara objektif, mengenali tanda-tanda relasi yang tidak sehat, dan mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan penting.
Dengan demikian, sains tidak serta-merta membuat cinta dipandang sebagai ilusi. Sebaliknya, pemahaman mengenai cara kerja otak dapat menjadi bekal untuk menjalani hubungan dengan lebih sadar dan bijaksana. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari