Memahami Luka Orang Tua, Cara Memutus Rantai Trauma Antargenerasi

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi orang tua yang memutus rantai trauma dari generasi sebelumnya. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi orang tua yang memutus rantai trauma dari generasi sebelumnya. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN – Memahami pengalaman hidup orang tua dapat membantu seseorang melihat pola asuh masa kecil dari sudut pandang yang lebih luas.

Pengalaman sulit yang pernah mereka lalui, kondisi sosial pada zamannya, hingga keterbatasan pengetahuan tentang pengasuhan bisa memengaruhi cara mereka membesarkan anak.

Namun, memahami latar belakang orang tua bukan berarti membenarkan perlakuan yang menyakitkan.

Kesadaran tersebut justru dapat menjadi langkah awal untuk mengenali luka masa lalu sekaligus mencegah pola yang sama terulang dalam hubungan maupun pengasuhan generasi berikutnya.

Baca Juga: Pola Asuh Gentle Parenting vs VOC Parenting, Ini Penjelasan Dokter Anak soal Disiplin

Hal itu disampaikan praktisi hubungan Coach Rastrianez dan Yasher Fadhli dalam podcast CEMAS – Cerita Masyarakat.

Dia menyoroti pentingnya membangun empati terhadap pengalaman orang tua agar seseorang tidak terus terjebak dalam siklus saling menyalahkan.

Menurutnya, orang tua juga merupakan individu yang tumbuh dengan pengalaman dan keterbatasan pada zamannya.

Pola asuh yang mereka terapkan tidak selalu terbentuk dari pemahaman yang utuh tentang kebutuhan emosional anak.

Dalam perbincangan tersebut, Coach Anes mengingatkan bahwa generasi saat ini memiliki akses informasi yang lebih luas untuk memahami kesehatan emosional dan pola pengasuhan.

Pengetahuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki pola hubungan yang dirasa kurang sehat.

"Ketika kita bisa berempati dengan apa yang dilalui orang tua kita di masa lalu, lama-lama kita bisa sadar bahwa wajar mereka berbuat begitu karena keterbatasan zamannya. Tugas kita yang sudah lebih beruntung dan punya akses informasi luas di era sekarang adalah stop bikin generational trauma lagi," ungkap Coach Anes.

Memahami Masa Lalu Bukan Berarti Membenarkan Luka

Pengalaman masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri, mengelola emosi, dan membangun hubungan ketika dewasa.

Anak yang terbiasa menerima kritik berlebihan, misalnya, bisa membawa pola komunikasi tersebut ke hubungan lain jika tidak menyadarinya.

Meski demikian, pengalaman setiap orang berbeda. Tidak semua individu yang tumbuh dalam keluarga dengan pola asuh kurang sehat akan mengulangi perilaku yang sama.

Kesadaran terhadap pengalaman masa lalu dapat membantu seseorang mengenali kebiasaan yang perlu diubah.

Memahami keterbatasan orang tua juga tidak berarti seseorang harus mengabaikan rasa sakit yang pernah dialami.

Empati dapat berjalan beriringan dengan pengakuan bahwa perilaku tertentu berdampak buruk dan perlu dihentikan.

Seseorang tetap berhak menetapkan batasan yang sehat apabila menghadapi perlakuan yang menyakitkan. Memahami alasan di balik suatu perilaku berbeda dengan menerima perilaku tersebut terus berulang.

Generasi Sekarang Punya Pilihan untuk Memutus Trauma

Salah satu hal penting dalam memutus trauma antargenerasi atau generational trauma adalah menyadari pola yang selama ini dianggap biasa dalam keluarga.

Kebiasaan membentak, meremehkan perasaan anak, atau menyelesaikan konflik dengan saling menyalahkan dapat dievaluasi agar tidak terus diwariskan.

Generasi sekarang juga memiliki kesempatan untuk mempelajari cara berkomunikasi yang lebih sehat, mengenali emosi, dan membangun hubungan dengan pendekatan yang lebih empatik.

Perubahan tersebut tidak selalu berlangsung cepat, tetapi dapat dimulai dari kesediaan untuk mengevaluasi diri.

Dalam prosesnya, seseorang tidak harus menunggu orang tua mengakui seluruh kesalahan masa lalu untuk mulai memperbaiki perilakunya sendiri.

Fokusnya adalah memahami pengalaman yang membentuk diri, menentukan pola yang tidak ingin diteruskan, lalu mengambil langkah konkret untuk berubah. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
luka masa lalu orang tua trauma pengasuhan pengalaman masa kecil