RADARTUBAN — Fenomena ketidakpuasan hidup dan perasaan "selalu merasa kurang" kini semakin marak dialami masyarakat modern di tengah tingginya pemanfaatan media sosial dan pergeseran gaya hidup.
Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam sebuah pemaparan edukasi pengembangan diri yang disampaikan oleh kreator konten Ghibran Arrazi melalui kanal YouTube miliknya @Ghibran Arrazi.
Dalam pembahasan yang mendalam, Ghibran mengurai fenomena psikologis yang sering membuat seseorang terjebak dalam rasa tidak puas, meskipun pencapaian material maupun finansial sebenarnya telah terpenuhi secara memadai.
Fenomena Hedonic Treadmill dan Tekanan Validasi
Menurut pemaparan dalam video tersebut, salah satu pemicu utama mengapa manusia sukar merasakan kecukupan adalah konsep psikologi yang dikenal sebagai hedonic treadmill (ban berjalan hedonistik).
Baca Juga: Mental Issue Bukan Berarti Kurang Iman, Ustaz Felix Siauw Jelaskan dari Sudut Pandang Islam
Konsep ini menjelaskan kecenderungan alami manusia untuk dengan cepat kembali ke tingkat kebahagiaan standar setelah mengalami peristiwa positif, seperti kenaikan gaji, pembelian barang baru, atau pencapaian karier tertentu.
Akibatnya, kebahagiaan yang dirasakan dari suatu pencapaian kerap bersifat sementara. Setelah standar hidup meningkat, kebiasaan dan ekspektasi seseorang ikut bergeser ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga memicu keinginan untuk terus mengejar hal berikutnya tanpa pernah merasakan kepuasan yang stabil.
Selain itu, penetrasi media sosial disinyalir memperparah kondisi ini. Paparan konten digital yang secara terus-menerus menampilkan puncak keberhasilan orang lain memicu perilaku social comparison (perbandingan sosial) yang tidak sehat.
Lingkaran perbandingan ini mendorong seseorang mengejar validasi eksternal hanya untuk mengimbangi standar hidup orang lain yang terlihat di media sosial.
Di tengah pembahasan mengenai fenomena penyesuaian ekspektasi dan pentingnya kesadaran diri (self-awareness), Ghibran memberikan pencerahan mengenai pola pikir dalam menyikapi pencapaian hidup.
"Dari sini kita bisa lihat bahwa sebenarnya kita tuh bukan mengejar kebutuhan kita, tapi juga mengejar standar yang pada dasarnya standar itu nggak ada sebelumnya ." Ujar ghibran
Pernyataan tersebut menyoroti bahwa pangkal dari perasaan tidak pernah cukup sering kali bukan berasal dari kekurangan fisik atau materi, melainkan dari standar pencapaian yang terus digeser akibat membandingkan diri sendiri dengan citra ideal yang ditampilkan orang lain.
Dampak Terhadap Kesehatan Mental dan Solusi Praktis
Pembahasan dalam video tersebut juga menyoroti dampak jangka panjang dari perasaan kurang yang dipelihara secara terus-menerus. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan berlebih (anxiety), kelelahan mental (burnout), hingga penurunan rasa percaya diri.
Sebagai langkah solutif, penonton diajak untuk melatih rasa syukur melalui pendekatan mindfulness serta membatasi konsumsi media sosial secara bijak.
Membangun diferensiasi antara kebutuhan riil dan keinginan berbasis validasi dinilai sebagai kunci utama dalam mencapai ketenangan finansial maupun emosional.
Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan mampu membangun pola pikir yang lebih sehat, menghargai setiap tingkatan proses pertumbuhan pribadi, serta terbebas dari jebakan perbandingan sosial di era digital saat ini. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni