RADARTUBAN – Menceritakan masalah pribadi kepada orang lain tidak selalu mudah. Sebagian orang merasa takut dihakimi, dianggap lemah, atau justru dinilai terlalu banyak bercerita.
Padahal, mengungkapkan perasaan dan mengakui kelemahan merupakan bagian dari vulnerability atau kerentanan emosional.
Namun, keterbukaan tersebut perlu dibedakan dari oversharing atau kebiasaan membagikan cerita pribadi secara berlebihan tanpa mempertimbangkan situasi dan lawan bicara.
Dalam podcast Ruang Tunggu, psikiater Dr. Andreas bersama Sora membahas perbedaan vulnerability dan oversharing, termasuk cara membangun rasa aman ketika menceritakan masalah pribadi.
Pembahasan tersebut menyoroti pentingnya memahami batasan diri serta memilih orang yang tepat untuk mendengarkan cerita.
Dr. Andreas menjelaskan, vulnerability bukan berarti seseorang tidak memiliki kekuatan. Sebaliknya, keberanian mengakui kekurangan dan meminta bantuan ketika diperlukan merupakan bentuk keterbukaan yang sehat.
Baca Juga: Dari Denial hingga Acceptance, Ini 6 Tahap Emosional Saat Seseorang Menerima Kabar Buruk
“Dia mengakui ini ada kekurangan dariku dan butuh keberanian loh untuk ngomong kayak gitu,” jelas Dr. Andreas.
Dia mengibaratkan perbedaan tersebut melalui contoh kaus yang bolong. Ketika seseorang menyadari kausnya bolong lalu meminta bantuan untuk memperbaikinya, tindakan itu mencerminkan vulnerability.
Sementara itu, jika seseorang terus-menerus menunjukkan kekurangannya kepada banyak orang tanpa tujuan yang jelas, perilaku tersebut dapat mengarah pada oversharing.
Kecenderungan seseorang untuk terbuka juga dipengaruhi pengalaman masa lalu. Respons keluarga ketika anak mengungkapkan perasaan dapat membentuk pandangannya terhadap keamanan emosional.
Jika perasaannya sering diabaikan atau dihakimi, anak dapat tumbuh dengan ketakutan untuk bercerita.
Pengalaman serupa juga bisa terjadi dalam pertemanan, terutama ketika seseorang mendapat ejekan setelah mengungkapkan masalahnya. Akibatnya, dia memilih menyimpan perasaan atau kesulitan mempercayai orang lain.
Menurut Dr. Andreas, salah satu cara membedakan keterbukaan yang sehat dengan trauma dumping adalah memperhatikan respons lawan bicara.
Keterbukaan yang sehat mempertimbangkan kenyamanan kedua pihak, sedangkan trauma dumping dapat terjadi ketika seseorang terus mencurahkan pengalaman traumatis tanpa memperhatikan kesiapan orang yang mendengarkan.
“Karena untuk menjadi vulnerable itu untuk menjadi rentan kita perlu tahu bahwa ada lawan bicara kita,” ungkapnya.
Oleh karena itu, seseorang perlu mempertimbangkan kesiapan orang lain sebelum membagikan cerita pribadi. Kedekatan dan kenyamanan saat berbicara belum tentu menjamin seseorang dapat dipercaya untuk menjaga rahasia.
Dr. Andreas menyarankan agar seseorang memperhatikan cara orang lain membicarakan orang ketiga, respons mereka ketika mendengarkan cerita, serta sikap mereka terhadap batasan pribadi.
Jika lawan bicara menghargai keputusan seseorang untuk tidak menceritakan hal tertentu, hal tersebut dapat menjadi salah satu tanda bahwa dia mampu menghormati batasan.
Selain itu, keterbukaan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Seseorang tidak harus langsung menceritakan seluruh pengalaman pribadi kepada orang yang baru dikenal. Dia dapat memulai dari persoalan sederhana sambil melihat respons lawan bicara.
Pada akhirnya, vulnerability merupakan bagian dari sisi manusiawi yang tidak perlu disembunyikan. Namun, keterbukaan tetap membutuhkan kesadaran, batasan, dan kepercayaan yang dibangun secara perlahan.
Dengan memahami perbedaan antara berbagi cerita dan mengungkapkan masalah secara berlebihan, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih sehat tanpa mengabaikan kenyamanan diri maupun orang lain. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni