RADARTUBAN – Rasa gugup saat berbicara di depan umum atau public speaking tidak selalu bisa dihilangkan sepenuhnya.
Menurut praktisi komunikasi Choky Sitohang, hal yang lebih penting adalah memahami dan mengelola rasa grogi agar tidak menghambat penyampaian pesan.
Pandangan tersebut disampaikan Choky saat menjadi narasumber dalam siniar Dad's Talk di kanal YouTube Nikita Willy Official.
Dalam perbincangan yang dipandu Indra Djokosoetono itu, dia membahas kepercayaan diri, persiapan sebelum tampil, pengalaman masa lalu, hingga pentingnya menjaga etika ketika berkomunikasi.
Choky menjelaskan bahwa seseorang yang menguasai suatu bidang belum tentu merasa percaya diri ketika harus berbicara di hadapan banyak orang.
Pengalaman masa lalu dan lingkungan yang kurang mendukung dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Baca Juga: Tren Bukan Keharusan! Begini Tips Tampil Percaya Diri Lewat Fashion
Grogi Bukan Sesuatu yang Harus Dihilangkan
Menurut Choky, rasa gugup merupakan respons yang juga dapat dialami oleh orang yang sudah terbiasa tampil di depan publik. Karena itu, seseorang tidak perlu menganggap rasa grogi sebagai tanda bahwa dirinya tidak mampu.
“Jangan menganggap bahwa saya tidak akan punya grogi lagi, mustahil, setiap orang punya grogi, saya aja punya grogi setiap kali saya bicara. Tapi bagaimana mengubah rasa grogi menjadi kekuatan baru yang ditonjolkan, bukan negatifnya, tapi positifnya kekuatan kita, karena orang lain si pendengar ingin melihat yang kuat dari kita,” ujar Choky dalam perbincangan tersebut.
Pendekatan ini menekankan pentingnya mengenali respons diri ketika menghadapi situasi yang menegangkan. Alih-alih berfokus pada ketakutan melakukan kesalahan, pembicara dapat mengarahkan perhatian pada pesan yang ingin disampaikan dan kebutuhan audiens.
Kepercayaan Diri Dibangun Lewat Persiapan
Choky juga menekankan bahwa kepercayaan diri tidak cukup dibangun dengan keberanian untuk tampil. Persiapan dan latihan menjadi bagian penting agar seseorang memahami materi yang disampaikan serta mampu menyusun gagasan secara terarah.
Tanpa persiapan yang memadai, pembicara berisiko kehilangan fokus, kesulitan menjelaskan pokok pembahasan, atau tidak mampu merespons pertanyaan audiens dengan baik.
Karena itu, latihan sebelum tampil dapat membantu seseorang mengenali bagian materi yang belum dikuasai, mengatur alur pembicaraan, dan membiasakan diri menghadapi situasi yang sebelumnya terasa menegangkan.
Dalam konteks public speaking, persiapan juga perlu disertai kemampuan menyampaikan pesan dengan jelas. Pilihan kata, intonasi, jeda, ekspresi, dan bahasa tubuh dapat mendukung penyampaian pesan apabila digunakan secara selaras.
Namun, keberhasilan komunikasi tidak ditentukan oleh penampilan atau bahasa tubuh saja. Isi pembicaraan, ketepatan informasi, dan kemampuan menyesuaikan pesan dengan audiens tetap menjadi bagian penting.
Pengalaman Masa Lalu Dapat Memengaruhi Rasa Percaya Diri
Dalam diskusi tersebut, Choky turut menyoroti kemungkinan pengaruh pengalaman masa kecil terhadap keberanian seseorang menyampaikan pendapat.
Lingkungan yang kerap membentak, membatasi ruang berbicara, atau menggunakan intimidasi dapat membuat seseorang merasa tidak aman ketika harus mengungkapkan gagasan.
Pengalaman semacam itu dapat memengaruhi kepercayaan diri, meskipun dampaknya berbeda pada setiap orang. Karena itu, rasa gugup tidak seharusnya langsung dianggap sebagai akibat trauma.
Faktor lain, seperti kurangnya pengalaman, minimnya persiapan, atau ketakutan dinilai orang lain, juga dapat berperan.
Membangun rasa aman, mengenali pemicu kecemasan, dan berlatih secara bertahap dapat membantu seseorang menghadapi situasi komunikasi dengan lebih baik. Jika kecemasan terasa berat atau terus mengganggu aktivitas, mencari bantuan profesional juga dapat menjadi pilihan.
Adab dan Kerendahan Hati dalam Berkomunikasi
Selain kemampuan teknis, Choky mengingatkan pentingnya adab dan kerendahan hati ketika berinteraksi. Menurutnya, kemampuan berbicara tidak semestinya membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Pembicara yang baik bukan hanya mampu menguasai perhatian audiens, tetapi juga bersedia mendengarkan, menghargai pendapat yang berbeda, dan memberikan ruang bagi orang lain untuk berbicara.
Sikap terlalu mendominasi percakapan atau merasa paling benar dapat membuat komunikasi tidak berjalan seimbang. Sebaliknya, kesantunan dan penghargaan terhadap lawan bicara membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman, baik dalam lingkungan kerja maupun kehidupan sosial.
Dengan demikian, kepercayaan diri perlu berjalan beriringan dengan kemampuan menghargai orang lain. Keberanian menyampaikan gagasan tidak harus berubah menjadi sikap arogan.
Kegagalan Bukan Akhir Perjalanan
Choky juga membagikan pengalaman ketika dirinya pernah jatuh sakit pada 2005 dan harus berhenti bekerja selama beberapa bulan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup yang mengingatkannya pada pentingnya pemulihan sebelum kembali melanjutkan aktivitas.
Dia turut menyinggung penolakan dalam audisi atau casting yang kerap dialami seseorang saat merintis karier. Penolakan tidak harus dimaknai sebagai akhir dari kesempatan, tetapi dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kemampuan.
Pesan tersebut relevan bagi siapa pun yang sedang menghadapi hambatan dalam pekerjaan atau perjalanan karier.
Proses untuk bangkit tidak selalu berlangsung cepat, tetapi pengalaman dan evaluasi dapat membantu seseorang menentukan langkah berikutnya.
Pada akhirnya, kemampuan berbicara di depan umum tidak hanya berkaitan dengan keberanian tampil. Persiapan, latihan, pengelolaan rasa gugup, dan sikap menghargai orang lain turut membentuk komunikasi yang efektif.
Setiap kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri dapat menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan diri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni