RADARTUBAN — Fenomena perdebatan sengit di media sosial maupun kehidupan sehari-hari kerap kali berakhir buntu tanpa menghasilkan solusi yang nyata.
Banyak diskusi publik justru berujung pada aksi saling serang pribadi atau kekeliruan logika karena pihak-pihak yang terlibat tidak memahami aturan dasar berargumen.
Menanggapi persoalan tersebut, cendekiawan sekaligus budayawan Sabrang Mowo Damar Panuluh, memaparkan kerangka berpikir penting dalam mengelola diskusi melalui konsep Eigen Rules dan kemampuan pilah ranah.
Penjelasan tersebut disampaikan Sabrang dalam video edukatif bertajuk Menyelesaikan Debat Apa Saja Lewat "Eigen Rules" yang diunggah di kanal YouTube Sabrang MDP Official.
Baca Juga: dr. Ryu Hasan Ungkap 99 Persen Kehidupan Manusia Dipengaruhi Emosi, Bukan Logika
Kegagalan utama banyak orang dalam berdiskusi adalah ketidakmampuan untuk membatasi arena pembicaraan dan menentukan aturan dasar yang disepakati bersama sebelum argumen dilemparkan.
Dalam video tersebut, Sabrang menegaskan pentingnya kedisiplinan berpikir saat dua pihak saling beradu argumen di dalam sebuah arena diskusi.
Dia menekankan bahwa sebuah argumen yang disampaikan di luar batas ranah pembicaraan tidak otomatis bernilai salah, melainkan sekadar tidak valid dalam arena yang sedang dibahas.
"Ingat argumentasi di luar ranah itu bukan selalu benar atau salah. Argumentasi di luar ranah itu cuman gini, 'enggak valid di ranah pembicaraan ini.' Argumenmu enggak valid itu di ranah yang berbeda, enggak di sini tempat ngobrolnya, gitu aja sebenarnya," ujar Sabrang.
Guna menjelaskan bagaimana kerangka Eigen Rules bekerja, Sabrang membaginya ke dalam empat tingkatan hierarki berpikir yang saling berkesinambungan.
Tingkat paling dasar dimulai dari konsep primitif, yaitu unit dasar atau konsep mentah yang belum terikat oleh konteks maupun makna khusus.
Contoh dari konsep primitif ini antara lain kata tumbuh, angka dua, atau bahan seperti cabai. Angka dua atau kata tumbuh itu sendiri belum memiliki arah makna yang spesifik sebelum dimasukkan ke dalam satuan tertentu seperti kilogram, meter, atau ranah disiplin ilmu.
Di atas konsep primitif, terdapat Eigen Rules yang bertindak sebagai aturan fundamental atau garis batas penentu ranah pembahasan.
Eigen Rules berperan menetapkan aturan main dalam sebuah arena diskusi. Sebagai gambaran, dalam ranah ekonomi, harga terbentuk dari titik temu antara penawaran dan permintaan.
Apabila seseorang mendiskusikan harga berdasarkan batasan di luar ekonomi, argumen tersebut secara otomatis keluar dari arena diskusi ekonomi.
Baca Juga: Jiwa Besar Pertamina dan Logika Mbrebet Massal yang Sulit Dipahami
Dari pertemuan antara konsep primitif dan Eigen Rules, lahirlah konstruk, yakni istilah atau kosakata spesifik yang dipakai pada arena tertentu.
Kata yang sama bisa memiliki arti yang bertolak belakang apabila diletakkan di ranah yang berbeda. Sabrang mencontohkan kata pertumbuhan, di mana dalam dunia ekonomi pertumbuhan usaha dipersepsikan sebagai indikator keberhasilan.
Sedangkan dalam biologi, pertumbuhan sel tanpa batas justru berbahaya karena menjadi kanker. Selanjutnya, konstruk-konstruk tersebut dirangkai menjadi konjektur, yaitu gabungan kalimat utuh atau preposisi yang disampaikan seseorang saat berargumen.
Lebih lanjut, Sabrang menjelaskan bahwa kemampuan pemilahan ranah ini menjadi bekal yang sangat krusial bagi generasi muda, terlebih di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Kecerdasan buatan bekerja secara ketat pada ranah yang ditentukan, sehingga manusia dituntut memiliki keluwesan sekaligus ketajaman berpikir. Ketika diskusi ditujukan untuk mencari solusi, semua pihak harus disiplin dan rigid menjaga batas ranah agar menghasilkan konklusi yang optimal.
Sebaliknya, jika diskusi bertujuan untuk pemikiran kreatif, seseorang diperbolehkan melompat antar-ranah guna menghubungkan pelbagai disiplin ilmu untuk melahirkan gagasan baru.
Di akhir pemaparannya, Sabrang berharap agar fondasi berpikir kritis melalui pemilahan ranah ini terus dilatih sejak dini. Melalui pembukaan kanal edukasi khusus seperti Ground Zero, diharapkan lahir generasi yang tidak sekadar menjadi konsumen narasi, melainkan pribadi yang cerdas, mampu belajar dengan cepat, serta sanggup memecahkan masalah-masalah kompleks secara rasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni