RADARTUBAN - Hipnoterapi kian menjadi perhatian seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental.
Metode ini kerap dikaitkan dengan proses pemulihan psikologis, tetapi cara kerja dan pendekatan yang digunakan masih sering disalahpahami.
Praktisi hipnoterapi Razima Rais menjelaskan konsep tersebut dalam diskusi edukatif di kanal YouTube Kata Dokter.
Dalam praktik klinis, hipnosis tidak sama dengan gendam maupun pertunjukan panggung yang kerap digambarkan membuat seseorang kehilangan kendali.
Hipnosis merupakan kondisi ketika seseorang berada dalam keadaan fokus dan relaksasi.
Dalam kondisi tersebut, perhatian dapat lebih terpusat sehingga proses terapi dapat dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan individu.
Dua Pendekatan dalam Hipnoterapi
Razima menjelaskan bahwa praktik hipnoterapi mengenal pendekatan sugesti atau suggestion therapy. Metode ini menggunakan sugesti yang disampaikan kepada klien untuk membantu membangun pola pikir atau respons tertentu.
Pendekatan sugesti dapat digunakan untuk mendukung perubahan kebiasaan, meningkatkan motivasi, maupun membantu menghadapi ketakutan tertentu.
Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan klien, sehingga hasilnya tidak selalu sama pada setiap individu.
Metode berikutnya adalah hipnoanalisa atau hypnoanalysis.
Pendekatan ini berfokus pada eksplorasi pengalaman, emosi, dan pola pikir yang mungkin berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi seseorang.
Dalam penjelasannya, Razima menyoroti pentingnya memahami akar persoalan, bukan hanya berusaha mengurangi gejala yang terlihat.
Pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan dapat menjadi salah satu hal yang dieksplorasi dalam proses terapi, meskipun tidak semua masalah psikologis berasal dari trauma masa lalu.
Pemilihan Metode Disesuaikan dengan Kebutuhan
Pendekatan sugesti dan hipnoanalisa memiliki fokus yang berbeda.
Terapi sugesti lebih menitikberatkan pada pemberian arahan untuk mendukung perubahan tertentu, sedangkan hipnoanalisa berupaya mengeksplorasi persoalan emosional secara lebih mendalam.
Karena itu, pemilihan metode tidak dapat dilakukan secara seragam untuk semua orang. Kondisi psikologis, tujuan terapi, serta hasil asesmen menjadi pertimbangan dalam menentukan pendekatan yang sesuai.
Hipnoterapi juga bukan jaminan bahwa seluruh masalah psikologis dapat diselesaikan melalui satu metode.
Efektivitasnya dapat berbeda pada setiap individu, bergantung pada persoalan yang dihadapi dan pelaksanaan terapinya.
Dengan memahami perbedaan kedua pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat melihat hipnoterapi secara lebih tepat.
Bagi individu yang mengalami gangguan psikologis, konsultasi dengan tenaga kesehatan mental yang kompeten tetap penting untuk menentukan bentuk penanganan yang sesuai. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari