Sebelum Usia 30, Kenali 4 Hal Ini agar Tak Terjebak Ekspektasi Orang Lain

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:45 WIB
Ilustrasi orang cepas akibat tuntutan sosial diusia 30 tahun. (unsplash.com/ christian erfrut)
Ilustrasi orang cepas akibat tuntutan sosial diusia 30 tahun. (unsplash.com/ christian erfrut)

RADARTUBAN – Memasuki usia 30 tahun tidak berarti seseorang harus sudah mapan secara finansial, memiliki rumah, menempati posisi karier tertentu, atau menikah.

Namun, tuntutan sosial yang berkembang di masyarakat kerap membuat angka tersebut terasa seperti batas waktu untuk mencapai berbagai target kehidupan.

Tekanan itu dapat memicu kecemasan, terutama ketika seseorang membandingkan pencapaiannya dengan teman sebaya atau orang lain di media sosial.

Baca Juga: Deretan Beban Berat Finansial Gen Z, Begini Cara Menyikapinya dengan Tepat

Kondisi ini kerap dikaitkan dengan quarter-life crisis, yakni periode ketika seseorang mengalami kebingungan atau tekanan saat menghadapi berbagai pilihan dan tuntutan kehidupan pada masa dewasa awal.

Dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, membahas persoalan tersebut dalam podcast di kanal YouTube Ruang Tunggu bertajuk Hal yang Harus Diketahui Sebelum Usia 30 Tahun.

Dalam perbincangan itu, dia mengajak pendengar meninjau kembali anggapan bahwa keberhasilan hidup harus dicapai pada usia tertentu.

Menurut pembahasan tersebut, setiap orang memiliki perjalanan dan tahapan perkembangan yang berbeda sehingga pencapaian seseorang tidak bisa dijadikan ukuran mutlak bagi kehidupan orang lain.

"Manusia itu butuh temporal landmark atau patokan angka bulat seperti usia 30 tahun untuk mengukur pencapaian. Padahal, hidup bukanlah perlombaan lurus dengan garis akhir yang sama; setiap orang punya fase, musim nabur, dan musim panen yang berbeda-beda," ungkap dr. Andreas dalam siniar tersebut.

Angka usia bulat memang dapat menjadi momen untuk mengevaluasi perjalanan hidup.

Namun, patokan itu tidak seharusnya berubah menjadi tuntutan yang membuat seseorang merasa gagal hanya karena belum mencapai target tertentu.

Berhenti Membandingkan Diri dan Temukan Nilai Hidup

Salah satu sumber tekanan menjelang usia 30 tahun adalah perbandingan sosial.

Media sosial membuat seseorang mudah melihat pencapaian orang lain, mulai dari keberhasilan bisnis, perkembangan karier, kepemilikan rumah, hingga kehidupan pernikahan.

Masalahnya, apa yang terlihat di layar sering kali hanya sebagian dari perjalanan seseorang.

Proses panjang, kegagalan, dan kesulitan yang menyertai pencapaian tersebut belum tentu ikut ditampilkan.

Akibatnya, seseorang dapat merasa tertinggal meskipun sebenarnya sedang menjalani proses yang sesuai dengan situasi dan kemampuannya.

Karena itu, membandingkan kehidupan secara langsung tanpa memahami konteks masing-masing justru berpotensi menambah tekanan.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, penting bagi seseorang mengenali core values atau nilai-nilai inti yang dianggap paling bermakna dalam hidupnya.

Nilai ini bisa berkaitan dengan kebebasan, kestabilan finansial, keluarga, pengembangan diri, maupun keinginan memberikan dampak bagi orang lain.

Dengan memahami nilai yang menjadi prioritas, seseorang dapat menentukan target berdasarkan kebutuhan dan prinsip pribadinya, bukan semata-mata mengikuti standar lingkungan.

Keputusan mengenai karier, hubungan, maupun keuangan pun dapat dibuat dengan pertimbangan yang lebih jelas.

Bangun Lingkungan Suportif dan Hargai Proses

Selain mengenali prioritas hidup, lingkungan pertemanan juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang pencapaiannya.

Lingkaran pertemanan yang sehat memberi ruang untuk berbagi kesulitan, menerima masukan secara jujur, serta saling mendukung tanpa menjadikan keberhasilan sebagai ajang saling menjatuhkan.

Persaingan yang sehat atau healthy rivalry dapat mendorong seseorang berkembang ketika disertai rasa hormat dan dukungan.

Sebaliknya, hubungan yang terus-menerus memicu rasa rendah diri dapat membuat proses pengembangan diri terasa semakin berat.

Pemahaman mengenai fase kehidupan juga penting. Ada masa ketika seseorang lebih banyak belajar, membangun keterampilan, memperbaiki kesalahan, dan mempersiapkan masa depan.

Proses tersebut dapat diibaratkan sebagai musim menabur sebelum tiba waktunya menuai hasil.

Belum tercapainya suatu target bukan berarti seluruh usaha sia-sia. Pengalaman yang diperoleh selama berproses tetap dapat menjadi bekal untuk mengambil keputusan dan menghadapi tantangan berikutnya.

Dalam menghadapi tekanan usia 30 tahun, seseorang dapat mulai dari langkah sederhana, seperti menetapkan tujuan yang realistis, mengevaluasi prioritas, mengurangi kebiasaan membandingkan diri, serta memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan belajar.

Pesan yang ditekankan dalam pembahasan dr. Andreas adalah pentingnya membangun kehidupan berdasarkan nilai yang diyakini, bukan sekadar mengejar tenggat sosial.

Usia 30 tahun bukan garis akhir yang menentukan keberhasilan seseorang, melainkan salah satu titik dalam perjalanan hidup yang masih terus berkembang. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
perbandingan sosial nilai hidup Quarter Life Crisis tuntutan sosial