Jangan Cuma Mengandalkan Passion, Ini Cara Mengubah Minat Menjadi Karier

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:56 WIB
Ilustrasi Homeschooling Membutuhkan Perencanaan Matang, Bukan Sekadar Jalan Keluar dari Perundungan. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi Homeschooling Membutuhkan Perencanaan Matang, Bukan Sekadar Jalan Keluar dari Perundungan. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN – Passion atau minat terhadap suatu bidang bisa menjadi modal untuk membangun karier. Namun, menyukai sesuatu saja belum cukup.

Minat tersebut perlu dikembangkan menjadi keahlian yang dibutuhkan orang lain agar memiliki nilai ekonomi.

Hal itu disampaikan Fellexandro Ruby dalam podcast di kanal YouTube Theo Derick.

Dalam perbincangan tersebut, Ruby membagikan pandangannya tentang cara mengubah passion menjadi sumber penghasilan, sekaligus menceritakan perjalanan kariernya yang sempat berubah arah.

Baca Juga: Dr. Tirta Ungkap Bahaya Kemalasan, Bakat Saja Tak Cukup untuk Meraih Kesuksesan

Menurut Ruby, passion yang berpotensi menghasilkan uang bukan sekadar aktivitas yang disukai, melainkan sesuatu yang ditekuni hingga seseorang memiliki kemampuan mumpuni.

"Passion yang bisa jadi duit kalau passion yang sudah diubah dari kesukaan menjadi kejagoan," ujar Ruby.

Dia menjelaskan, ada empat aspek yang perlu dipertimbangkan ketika seseorang menentukan arah karier, yakni hal yang disukai, kemampuan yang dikuasai, kebutuhan dunia, serta peluang untuk memperoleh penghasilan.

"Lu suka, lu jago. Dunia butuh ada duitnya," katanya.

Keempat aspek tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk menilai apakah sebuah minat berpeluang dikembangkan menjadi profesi.

Kesukaan menjadi titik awal, sedangkan keahlian dan relevansi dengan kebutuhan pasar membantu membuka peluang ekonomi.

Mengubah Kesukaan Menjadi Keahlian

Ruby mencontohkan perjalanan kariernya yang tidak selalu berjalan dalam satu jalur.

Dia mengawali karier sebagai karyawan di bidang penjualan alat berat sebelum akhirnya menekuni fotografi.

Ketertarikan pada dunia fotografi membuatnya belajar secara mandiri di sela-sela pekerjaan utama. Selain itu juga membangun portofolio untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membuka kesempatan mendapatkan pekerjaan sebagai fotografer.

Dalam proses tersebut, Ruby bersedia menerima pekerjaan dengan bayaran rendah, bahkan tanpa bayaran, demi menambah pengalaman.

Setelah sekitar dua tahun menekuni fotografi, dia kemudian memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa membangun karier dari passion membutuhkan proses.

Selain mengasah kemampuan, seseorang perlu menunjukkan hasil kerja yang bisa dinilai oleh calon klien atau pemberi kerja.

Langkah tersebut juga dapat dilakukan secara bertahap. Bagi orang yang masih bekerja, misalnya, keterampilan baru bisa dikembangkan di luar jam kerja sembari membangun portofolio dan mencari peluang.

Dengan begitu, keputusan berpindah karier dapat dipertimbangkan berdasarkan kesiapan kemampuan dan kondisi keuangan.

Karier Bukan Sekadar Mengejar Penghasilan

Bagi Ruby, menentukan arah karier juga berkaitan dengan nilai-nilai pribadi. Penghasilan memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Kebebasan dalam bekerja dan dampak yang diberikan kepada orang lain juga dapat menjadi pertimbangan.

Dia mengingatkan agar keinginan memperoleh penghasilan lebih besar tidak membuat seseorang mengabaikan kesehatan maupun hubungan sosial.

Karena itu, karier perlu dibangun dengan mempertimbangkan tujuan jangka panjang, bukan hanya keuntungan sesaat.

Selain itu, perkembangan teknologi turut mengubah kebutuhan dunia kerja. Ruby menyoroti pentingnya kemampuan beradaptasi, termasuk memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Kalau lu enggak belajar pakai AI, lu akan kalah sama teman-teman lu yang sudah pakai AI," ujarnya.

Pernyataan tersebut menekankan pentingnya mempelajari teknologi yang relevan dengan bidang pekerjaan.

AI dapat menjadi alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, tetapi penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan penggunanya.

Pada akhirnya, passion dapat menjadi titik awal untuk membangun karier yang menghasilkan. Namun, minat perlu disertai keahlian, pemahaman terhadap kebutuhan pasar, serta kemauan untuk terus belajar.

Dengan kombinasi tersebut, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan potensi diri menjadi pekerjaan yang bernilai secara ekonomi sekaligus sesuai dengan prinsip hidupnya. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
keahlian sumber penghasilan Passion Minat