Generasi Muda Terjebak Serba Instan, Dr. Tirta Ingatkan Bahayanya Malas Belajar

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:58 WIB
Ilustrasi anak muda yang malas belajar. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi anak muda yang malas belajar. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuat kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus belajar semakin penting.

Di tengah perubahan tersebut, dr. Tirta Mandira Hudhi mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak dalam kebiasaan serba instan dan berhenti mengembangkan kemampuan diri.

Praktisi kesehatan sekaligus pengusaha itu membahas pentingnya konsistensi, budaya membaca, dan kesiapan menghadapi disrupsi teknologi dalam tayangan podcast di kanal Rintik Obrolan bertajuk Solusi untuk Generasi Malas Belajar.

Baca Juga: Dr. Tirta Ungkap Bedanya Orang Pintar dan Cerdas, Ternyata Bukan Sekadar soal Gelar

Menurut dr. Tirta, bakat tidak cukup untuk menjamin seseorang mampu berkembang.

Kemampuan perlu terus diasah melalui latihan dan kedisiplinan. Sebaliknya, keengganan untuk belajar berisiko membuat seseorang tertinggal ketika tuntutan dunia kerja dan persaingan semakin dinamis.

"Talenta itu akan mati kalau kamu tidak konsisten melatihnya. Bahkan, orang yang tidak punya talenta khusus pun jika konsisten berlatih akan mampu mengalahkan orang bertalenta yang malas, karena malas adalah musuh terbesar dalam hidup," ungkap dr. Tirta dalam tayangan tersebut.

Konsistensi dan Kebiasaan Membaca Jadi Tantangan

Dr. Tirta menyoroti kecenderungan sebagian orang yang lebih memilih informasi singkat dibandingkan mempelajari suatu persoalan secara mendalam.

Ringkasan instan memang dapat membantu memahami gambaran umum sebuah topik, tetapi tidak selalu cukup untuk membangun pemahaman yang utuh.

Kebiasaan hanya mengandalkan informasi singkat juga perlu diimbangi dengan kemampuan memeriksa sumber, membandingkan sudut pandang, dan membaca materi secara menyeluruh.

Dengan begitu, seseorang tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mampu menilai kebenaran serta memahami konteksnya.

Selain budaya membaca, konsistensi dalam berlatih menjadi hal penting yang ditekankan dr. Tirta. Bakat alamiah perlu didukung kebiasaan belajar yang berkelanjutan agar dapat berkembang menjadi keterampilan nyata.

Prinsip tersebut juga berlaku setelah seseorang menyelesaikan pendidikan formal. Gelar akademik bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan salah satu bekal untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Kemauan memperbarui pengetahuan dan meningkatkan keterampilan tetap diperlukan sepanjang perjalanan karier.

Adaptasi Teknologi Menentukan Kesiapan Generasi Muda

Perkembangan AI dan otomatisasi turut mengubah berbagai bidang pekerjaan, mulai dari fotografi, penyuntingan video, hingga sektor medis.

Teknologi dapat membantu menyelesaikan sejumlah tugas, tetapi juga menuntut pekerja untuk memahami perubahan dan meningkatkan kompetensi yang relevan.

Dalam situasi tersebut, generasi muda perlu mengembangkan kemampuan yang tidak berhenti pada penggunaan teknologi.

Berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, dan kemauan mempelajari keahlian baru menjadi bekal untuk menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.

Dr. Tirta juga menyinggung pentingnya pola pikir yang mendorong seseorang untuk terus bertumbuh dan berinovasi.

Dalam konteks menuju Indonesia Emas, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan, karya, dan usaha yang memberikan nilai tambah.

Dia turut menekankan bahwa proses belajar tidak berhenti setelah seseorang memperoleh gelar formal.

Mereka yang enggan memperbarui pengetahuan dan menolak beradaptasi berisiko kesulitan mengikuti perubahan zaman.

" Sekolah atau gelar formal bukan akhir dari proses belajar. Begitu gelar didapat, perjuangan baru justru dimulai; jika kamu berhenti belajar dan menolak beradaptasi, kamu akan tertelan oleh zaman," tambah dr. Tirta.

Pada akhirnya, konsistensi menjadi salah satu bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi perkembangan teknologi.

Kebiasaan membaca, berlatih, dan terbuka terhadap pengetahuan baru dapat membantu seseorang terus mengembangkan potensi sekaligus mempersiapkan diri menghadapi persaingan yang semakin dinamis. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
AI kecerdasan buatan konsistensi generasi muda