RADARTUBAN - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat informasi pribadi semakin mudah ditelusuri di internet.
Data yang tersebar di berbagai situs dan akun digital dapat saling dikaitkan hingga membentuk gambaran lengkap tentang identitas seseorang.
Kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan pelaku doxing, yakni tindakan mencari dan menyebarkan informasi pribadi seseorang tanpa izin.
Baca Juga: Meta Hentikan Sementara Program Pemantauan Karyawan untuk Investigasi Kebocoran Data
Informasi yang awalnya tampak sepele dapat menjadi celah bagi orang lain untuk mengetahui identitas hingga detail kehidupan seseorang.
Dikutip dari JawaPos.com, Kaspersky membagikan delapan langkah untuk mengurangi risiko doxing dan menjaga keamanan data pribadi saat beraktivitas di dunia maya.
1. Cari Informasi tentang Diri Sendiri di Internet
Langkah pertama adalah memeriksa informasi pribadi yang dapat ditemukan secara daring.
Pencarian tidak cukup hanya menggunakan nama lengkap, tetapi juga perlu mencakup alamat email, nama pengguna, dan nomor telepon.
Pengguna juga dapat memanfaatkan AI untuk merangkum informasi tentang dirinya yang tersebar di internet.
Namun, penggunaan layanan tersebut tetap perlu dilakukan dengan hati-hati karena berisiko menimbulkan kebocoran data atau kesalahan teknis yang membuat informasi terekspos.
2. Atur Akun Media Sosial Menjadi Privat
Mengubah pengaturan akun media sosial menjadi privat dapat membatasi akses orang lain terhadap informasi yang dibagikan.
Pengaturan ini juga dapat menyulitkan mesin pencari dan alat pengumpul data otomatis dalam mengakses unggahan baru.
Selain mengatur privasi, periksa kembali unggahan serta komentar lama. Hapus konten yang sudah tidak diperlukan atau memuat informasi pribadi yang sebaiknya tidak diketahui publik.
3. Hapus Akun yang Sudah Tidak Digunakan
Akun lama di berbagai layanan digital dapat menyimpan informasi pribadi selama bertahun-tahun. Jika layanan tersebut mengalami kebocoran data, informasi yang tersimpan berpotensi terekspos.
Untuk memeriksa akun yang pernah dibuat, pengguna dapat menelusuri kotak masuk email dan mencari pesan pendaftaran dari berbagai situs.
Hapus akun yang tidak lagi diperlukan agar jejak digital dan jumlah data pribadi yang tersimpan semakin berkurang.
4. Aktifkan Autentikasi Dua Faktor
Autentikasi dua faktor atau two-factor authentication (2FA) memberikan perlindungan tambahan ketika seseorang mencoba masuk ke akun menggunakan kata sandi yang telah diketahui.
Kaspersky menyarankan penggunaan kode sekali pakai sebagai lapisan autentikasi tambahan.
Kode autentikasi dari aplikasi tertentu dapat diperbarui setiap 30 detik dan disimpan melalui pengelola kata sandi tepercaya.
5. Hapus Metadata Sebelum Mengunggah Foto atau Video
Foto dan video tidak hanya memuat gambar, tetapi juga dapat menyimpan metadata. Informasi tersebut bisa mencakup lokasi dan waktu pengambilan gambar hingga model perangkat yang digunakan.
Sebelum mengunggah konten ke internet, periksa metadata yang tersimpan dan hapus informasi yang tidak ingin dibagikan kepada publik.
Langkah ini membantu mengurangi kemungkinan orang lain memperoleh petunjuk tambahan mengenai aktivitas atau lokasi pengguna.
6. Gunakan Kata Sandi Berbeda untuk Setiap Akun
Menggunakan kata sandi yang sama di banyak layanan dapat meningkatkan risiko keamanan.
Jika satu akun mengalami kebocoran, akun lain yang menggunakan kata sandi serupa juga berpotensi diakses pihak tidak bertanggung jawab.
Hindari kata sandi yang mudah ditebak, seperti tanggal lahir atau nama gadis ibu kandung. Menambahkan karakter khusus hanya di bagian akhir juga tidak otomatis membuat kata sandi menjadi kuat.
Pengguna dapat memanfaatkan aplikasi pengelola kata sandi atau password manager untuk membuat dan menyimpan kata sandi yang kuat serta berbeda bagi setiap akun.
7. Pantau Kebocoran Data Secara Berkala
Periksa secara berkala apakah alamat email atau informasi akun pernah muncul dalam kebocoran data.
Sejumlah layanan daring menyediakan pemberitahuan ketika alamat email terdeteksi dalam kebocoran yang telah diketahui.
Kaspersky Password Manager, misalnya, dapat memeriksa data login yang tersimpan serta memberikan peringatan apabila kata sandi digunakan di beberapa situs atau kombinasi nama pengguna dan kata sandi diketahui telah disusupi.
8. Periksa Pengaturan Privasi Perangkat dan Aplikasi
Pengaturan privasi pada ponsel, komputer, dan aplikasi perlu diperiksa secara berkala. Pastikan akses terhadap informasi pribadi tidak diberikan secara berlebihan kepada aplikasi yang digunakan.
Kaspersky menyediakan layanan daring bernama Privacy Checker yang dapat membantu pengguna memeriksa dan menyesuaikan pengaturan privasi.
Dengan meninjau izin aplikasi dan membatasi informasi yang dibagikan, risiko terbukanya data pribadi dapat dikurangi.
Menjaga keamanan digital membutuhkan kebiasaan yang konsisten. Dengan memeriksa jejak digital, membatasi informasi yang dibagikan, dan memperkuat keamanan akun, pengguna dapat mengurangi risiko menjadi korban doxing di tengah perkembangan teknologi AI. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari