RADARTUBAN - Garpu, alat makan yang sekarang umum digunakan di meja makan masyarakat Indonesia, ternyata punya sejarah panjang sebelum akhirnya diterima luas oleh masyarakat Indonesia.
Alat makan dengan beberapa ujung runcing ini dulunya sempat ditolak keras oleh masyarakat Nusantara karena dianggap membawa makna negatif.
Menurut berbagai sumber sejarah, garpu pertama kali masuk ke wilayah Indonesia pada abad ke-17, dibawa oleh bangsa Eropa di masa kolonial Belanda.
Namun, alat makan ini diawal kehadirannya tidak langsung disambut baik oleh masyarakat lokal.
Bentuknya yang menyerupai trisula senjata yang lekat dengan dewa-dewa penghancur dalam mitologi Hindu dan Buddha membuat garpu dipandang menyeramkan dan tidak pantas digunakan sebagai alat makan sehari-hari.
Penolakan terhadap garpu juga diperparah karena penggunaan oleh tentara kolonial Belanda.
Yang menimbulkan persepsi di mata masyarakat pribumi, yang melihat garpu bukan sebagai alat makan tetapi sebagai alat penyiksa.
Di beberapa daerah, seperti tanah Batak, di masa lampau garpu bahkan mendapat julukan yang menyeramkan dan dianggap sebagai alat pencabut nyawa.
Di sisi lain, masyarakat Nusantara pada waktu itu sudah memiliki tradisi makan yang kuat menggunakan tangan.
Cara makan ini bukan sekadar kebiasaan, tapi juga sarat makna dan nilai budaya di berbagai kelompok masyarkat nusantara.
Bagi umat Muslim yang merupakan umat mayoritas di Indonesia, makan dengan tangan kanan merupakan sunah Nabi Muhammad SAW yang dianjurkan untuk diikuti, dan dipercaya membawa keberkahan tersendiri.
Sementara itu di Bali, masyarakat Hindu mengenal istilah ngurah-urah, praktik makan dengan tangan yang memiliki makna spiritual.
Sementara dalam budaya Jawa, makan dengan tangan dipercaya memberikan rasa keberkahan tersendiri dibandingkan menggunakan alat makan seperti garpu.
Namun seiring waktu, perubahan zaman dan pengaruh globalisasi membawa transformasi dalam cara hidup masyarakat.
Garpu, yang dulu ditolak, kini telah diterima sebagai bagian dari peralatan makan standar di banyak rumah tangga Indonesia.
Proses akulturasi budaya membuat garpu tak lagi ditakuti, melainkan dianggap sebagai alat makan praktis yang bisa berdampingan dengan tradisi makan menggunakan tangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni