Pergelaran wayang dengan dalang Ki Sigid Ariyanto tersebut sebagai penutup rangkaian kirab pataka setelah mengelilingi 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban selama tiga hari.
Pergelaran wayang kulit dengan lakon Kakrasana Kridha itu mengisahkan seorang anak Raja Mandura Prabu Basudewa yang sewaktu kecil dititipkan kepada seseorang yang sangat dipercaya, yakni Demang Sagupa.
Sosok Widara Kandang tersebut juga dititipi dua adiknya, Narayana dan Rara Ireng. Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng mendapat didikan untuk menjadi anak yang tangguh dan memiliki budi pekerti yang baik.
Didikan untuk selalu membela kebenaran dan keadilan tanpa memandang mereka sebagai anak seorang raja sukses.
Untuk Kakrasana yang suka bertapa, dewa memberikan senjata bernama Alugara dan Nenggala.
Ketika terjadi kesewenang-wenangan yang dilakukan keturunan Prabu Basudewa di Negara Manduran, maka Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng hadir untuk membela kebenaran dan menegakkan keadilan.
Pesan tersebut menjadi cerminan dan teladan yang bisa ditiru oleh para generasi muda.
Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky mengatakan, pertunjukan wayang kulit tersebut sebagai wujud komitmen Pemkab Tuban dalam mempertahankan warisan leluhur. Nguri-uri atau melestarikan budaya Bangsa Indonesia adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap negara.
‘’Selalu ada nilai-nilai luhur yang dapat dipetik dalam cerita wayang,’’ kata dia.
Mas bupati, sapaan akrabnya, mengatakan, dari cerita pergelaran wayang tersebut ada sejumlah teladan yang dapat diambil. Seperti kepemimpinan dan tanggung jawab yang perlu diteladani untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Juga pesan terkait penegakan keadilan dan kebenaran yang patut dijalankan.
‘’Menunjukkan bahwa sinergitas semua elemen masyarakat, termasuk seniman akan membawa manfaat bagi kemajuan Tuban,’’ tegasnya.
Kepala Satpol PP dan Damkar Gunadi mengatakan, lokon Kakrasana Kridha yang dibawakan dalang Ki Sigid Ariyanto memberikan pesan kepada masyarakat untuk menghindari keburukan dan menegakkan keadilan. Termasuk menghindari barang-barang ilegal.
Menghindari barang-barang yang dijual secara gelap adalah bentuk membela kebenaran.
‘’Sebab, peredaran barang ilegal sangat merugikan negara dan pengguna barang ilegal itu sendiri,’’ tegasnya.
Karena itu, tema yang diusung dalang asal Kabupaten Rembang, Jawa Tengah itu sangat cocok dipadukan dengan acara Sosialisasi Gempur Rokok Ilegal. Lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) itu mengatakan, kerugian pembeli barang ilegal sangat banyak.
Antara lain, kualitas barang yang patut dipertanyakan dan potensi bahaya tindak kriminalitas karena melanggar aturan.
‘’Melalui kegiatan ini, kami mengusung semangat memberantas rokok ilegal,’’ terangnya.
Gunadi mengatakan, komitmen pemberantasan rokok ilegal dilakukan dengan berbagai kegiatan operasi pasar yang digelar 12 kali pada 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban sejak Juli hingga akhir tahun ini. Sejauh ini, hasil operasi masih nihil temuan rokok ilegal.
Ini menjadi bukti bahwa kesadaran masya rakat dan pedagang dalam memberantas rokok ilegal terus meningkat.
‘’Kami pastikan tidak ada tempat bagi rokok tanpa pita cukai di Tuban,’’ tandasnya.
Sebelum pergelaran wayang sekaligus sosialisasi gempur cukai rokok ilegal tersebut, Pemkab Tuban melalui Satpol PP dan Damkar Tuban melakukan kirab pataka pada 20 kecamatan.
Gunadi juga membe berkan filosofi kirab pataka yang baru kali pertama dilakukan pemkab dalam rangkaian Hari Jadi Tuban.
‘’Melalui kirab pataka, pemkab berharap perayaan Hari Jadi Tuban dirasakan oleh semua masyarakat. Tidak hanya di kota saja, namun juga di desa-desa,’’ kata dia.
Terbukti, melalui kirab pataka tersebut, antusias masyarakat sangat tinggi. Sejumlah pertunjukan seni dan budaya ditampilkan saat rombongan kirab sampai di kantor kecamatan.
Hal tersebut, kata Gunadi, menjadi semangat tersendiri bagi pemkab untuk terus Bangun Deso Noto Kutho sesuai jargon Mas Bupati Aditya Halindra Faridzky.
‘’Hari Jadi Tuban harus dirayakan oleh semua masyarakat Tuban tanpa terkecuali,’’ tuturnya.
Puncaknya, pataka berhasil dikirab pada 20 kecamatan sejak Senin (7/11) dan berakhir di Alun-Alun Tuban, Rabu (9/11). Kedatangan pataka tersebut disambut dengan pergelaran wayang kulit.
Hadir pada acara tersebut forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda), staf ahli bupati, asisten setda Tuban, pim pinan organisasi perangkat daerah (OPD), pimpinan organisasi vertikal, camat, para seniman, budayawan, dan seluruh lapisan masyarakat. (yud/ds)