Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kuliner Khas Tuban Bubur Sura Kembali Dibuat setelah Dua Tahun Dihentikan

Amin Fauzie • Minggu, 26 Maret 2023 | 01:58 WIB
MENJAGA TRADISI: Para pengantre berebut bubur sura di halaman Masjid Muhdor Tuban, Jalan Pemuda kemarin (24/3). (Andhika Feriawan/Radar Tuban)
MENJAGA TRADISI: Para pengantre berebut bubur sura di halaman Masjid Muhdor Tuban, Jalan Pemuda kemarin (24/3). (Andhika Feriawan/Radar Tuban)
Radartuban.jawapos.com-Setelah selama dua tahun (2021--2022) dihentikan karena pandemi Covid-19, bubur syura kembali dibuat pada puasa Ramadan 1444 Hijriah tahun ini.

Kembali dibuatnya bubur di perkampungan Arab Tuban di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban tersebut tidak hanya mempertahankan tradisi turun-temurun, namun juga mengobati kerinduan masyarakat Bumi Wali terhadap kuliner khas tersebut.

Ya, di perkampungan Arab Tuban, bubur suro atau bubur Arab identik dengan puasa Ramadan. Selain hanya dibuat pada Bulan Suci, juga karena rasanya khas rempah Arab. Berbeda dengan bubur sura pada umumnya yang dibuat warga pribumi.

Bahan utama penganan yang dimasak pada sebuah kuali besar berbahan kuningan selama 3-4 jam tersebut memang beras.

Hanya saja, untuk pelezatnya menggunakan beraneka rempah, santan, dan balungan sapi.

Ditambah seluruh pemasaknya dari kalangan keturunan Arab, menjadikan bubur ini berasa original Hadramaut, Yaman.

Hadramaut adalah kampung leluhur mayoritas keturunan Arab di Kutorejo.

''Saya membuat bubur sejak tahun 2000. Berarti sudah 23 tahun,'' ujar Abdul Tahir alias Habibi, 43, salah satu warga keturunan Arab pembuat bubur tersebut.

Habibi adalah  generasi keenam penerus pembuat bubur sura.

''Seperti para pendahulu, saya memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan pembuatan bubur sura ini sampai kapan pun,'' tutur lulusan SMP Mualimin Tuban itu.

Di perkotaan Tuban, bubur ini hanya dibuat dalam jumlah besar di halaman Masjid Muhdor, Jalan Pemuda dan halaman Masjid Astana kompleks makam Sunan Bonang Tuban yang juga merupakan kawasan perkampungan Arab. Tradisi pembuatan bubur sura sudah  berlangsung sejak ratusan tahun silam.

Karena bubur ini menjadi takjil puasa, maka pembagiannya pun menjelang maghrib sekitar pukul 16.30. Sebelum dibagikan, pengantre bubur dari berbagai daerah di Tuban sudah menyerbu sejak sore.

Mereka tidak hanya membawa mangkok dan rantang. Sebagian membawa panci dan timba. Pengantre yang membawa dua wadah yang disebut terakhir tersebut biasanya dari perwakilan musala.

Saiful, salah satu pengantre mengatakan, dirinya setiap tahun dirinya rutin mengantre. ‘’Rasanya enak, cocok untuk takjil buka puasa,’’ ujarnya. (ds)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

  Editor : Amin Fauzie
#bubur suro tuban #tradisi ramadan #bubur suro #tradisi tuban #tradisi bubur suro