[irp posts="12730" ]
Ketua DKT Joko Wahono mengungkapkan, pada masa silam memang kawasan tersebut menjadi pusat keramaian yang ditunjang oleh pertunjukan kesenian—kebudayaan kerakyatan.
Pusat keramaian di Jalan Yos Sudarso itu, terang Joko, berlangsung pada periode 1990-an ke bawah. Pertunjukan kesenian—kebudayaan populer dan khas di jalan tersebut yakni Sindir Dingklik.
Joko Wahyuono, seniman lainnya membenarkan hal ini. Dia bahkan menyebut beberapa seniman—seniwati pertunjukan Sindir Dingklik itu masih keluarganya.
Sindir Dingklik ini, ungkap Joko, dapat dikatakan khas Kota Tuban. Dulu pentasnya hanya di Pasar Sore dan eks terminal lama (kini Rest Area Tuban, Red).
Dia melanjutkan, ketika sindir dingklik tampil, animo masyarakat sangat tinggi karena pertunjukan ini amat membaur dengan masyarakat atau para penontonnya.
‘’Sindir Dingklik dipentaskan apa adanya. Para seniman-seniwati hanya sindiran dengan cara duduk di dingklik tanpa panggung. Masyarakat juga tak wajib bayar ketika menonton Sindir Dingklik ini,’’ jelas seniman yang juga pengelola channel Youtube Keluarga Widaswara itu.
Dia meneruskan, jika nanti Jalan Yos Sudarso dijadikan wisata pedestrian malam seperti Malioboro atau Maliogoro, sangat mungkin para seniman—seniwati akan kembali menggeruduk kawasan tersebut untuk menampilkan kepiawaiannya masing-masing karena kawasan tersebut sesungguhnya sudah punya historis.
‘’Pada era ini, tinggal meneruskan atau melanjutkan saja,’’ kata dia.
Widayaka, budayawan senior di Bumi Ronggolawe menambahkan, jika Jalan Yos Sudarso dijadikan wisata pedestrian malam maka Pemkab Tuban mengembalikan konsep tata inti kota Catur Gatra Tunggal peninggalan nenek moyang era Mataram yang kini sedang luntur.
Dalam konsep tersebut, terang dia, alun-alun adalah pusat. Dikelilingi masjid, kantor pemerintahan, penjara, dan pasar.
Sedangkan kondisi saat ini, menurutnya, Kota Tuban tidak mencerminkan konsep Catur Gatra Tunggal itu. Penyebabnya, Pasar Sore dan Kedatom yang berada di sisi utara alun-alun sepi aktivitas ekonomi.
‘’Jika nanti wisata pedestrian malam di Jalan Yos Sudarso itu terealisasi, konsep Catur Gatra Tunggal akan utuh kembali. Sebab, sangat mungkin Pasar Sore dan Kedatom akan ramai lagi,’’ kata Pak Wik, sapaan akrabnya.
DLHP Rekomendasikan Jalan Yos Sudarso
Opsi wisata pedestrian malam di Jalan Teuku Umar dinilai kurang ideal oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Tuban.
Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Jalan DLHP Tuban Imam Isdarmawan menerangkan, terlalu berisiko jika ruas jalan tersebut digunakan untuk pusat keramaian masyarakat seperti Malioboro Jogjakarta maupun Maliogoro Bojonegoro.
Sebab, terang Imam, Jalan Teuku Umar termasuk jalur padat lalu lintas. Kalau digunakan, perlu merekayasa lalu lintas. Secara ukuran, jalan tersebut juga terlalu panjang dan lebar.
‘’Lebih dari itu, jalan Teuku Umar statusnya jalan nasional. Sehingga, Pemkab Tuban kurang berotoritas mengelola jalan tersebut,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Menurut Imam, paling ideal untuk wisata pedestrian malam seperti Malioboro maupun Maliogoro adalah opsi pertama yakni Jalan Yos Sudarso.
Jika Disbudporapar Tuban memplot Jalan Yos Sudarso untuk wisata pedestrian malam, pihaknya sangat mendukung. Lalu lintas di jalan tersebut sangat lengang. Segala sesuatu yang berhu bungan dengan penataan atau kondusivitas di jalan tersebut lebih cepat diatasi.
Selain itu, Jalan Yos Sudarso merupakan jalan kabupaten sehingga pemkab punya otoritas penuh mengelolanya.
‘’Keuntungan lain jika jalan tersebut dijadikan lokasi objek wisata malam adalah wisata Pantai Boom, Alun-Alun, Café Di sabilitas, Pasar Sore, dan Kedatom hingga ekonomi kerakyatan di seputarannya bisa lebih ramai saat malam hari,’’ kata pejabat asal Semarang, Jawa Tengah ini.
Intinya, tandas Imam, wisata pedes trian malam di Jalan Yos Sudarso dampaknya besar. Bisa menjadi pusat beberapa objek strategis lain di sekitarnya. Untuk kebutuhan parkir, buang hajat, maupun ibadah pun sudah tersedia.
‘’Parkir ada di timur kawasan wisata Pantai Boom, beribadah di Masjid Agung, kamar mandi di Pasar Sore dan Kedatom,’’ terang ayah dua anak ini.
Terkait pembangunan maupun pengelolaannya, kata dia, perlu pikiran Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman (DPUPR PRKP) dan Disbudporapar Tuban.
‘’Yang jelas, kami siap mendukung,’’ tandas alumni Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Bekasi itu. (sab/wid)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Amin Fauzie