Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengukur Arah Kiblat Sendiri Saat Posisi Matahari Tepat di Atas Kakbah, Sabtu-Minggu Ini Momennya

M. Mahfudz Muntaha • Rabu, 12 Juli 2023 | 15:30 WIB
MEMASTIKAN: Tim BHR Kemenag Tuban saat mengukur arah kiblat di masjid di Dusun Mahbeser, Desa Tuwirikulon, Kecamatan Merakurak beberapa waktu lalu. (Kemenag Tuban untuk Radar Tuban)
MEMASTIKAN: Tim BHR Kemenag Tuban saat mengukur arah kiblat di masjid di Dusun Mahbeser, Desa Tuwirikulon, Kecamatan Merakurak beberapa waktu lalu. (Kemenag Tuban untuk Radar Tuban)

RADAR TUBAN – Masyarakat yang ingin memastikan arah kiblat secara mandiri perlu memanfaatkan momen istimewa pada Sabtu (15/7) dan Minggu (16/7). Itu karena pada dua hari tersebut posisi matahari tepat berada di atas Kakbah. Karena itu, untuk menentukan arah kiblat cukup dengan melihat arah matahari.

Diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, Ali Mahfudz, tim ahli Badan Hisab Rukyat (BHR) Kemenag Tuban menjelaskan, matahari tepat berada di atas Kakbah atau istiwa a’zam merupakan fenomena tahunan yang terjadi dua kali setahun. Tahun ini, peristiwa posisi matahari melintas tepat di atas Kakbah terjadi kali pertama pada 28 Mei lalu. Saat itu, matahari dari posisi selatan, bergeser ke utara berada tepat di atas Kakbah.

Setelah matahari mentok di sisi utara, kata dia, pusat tata surya tersebut kembali bergeser ke selatan dan posisinya kembali melintas di atas Kakbah pada 15 dan 16 Juli mendatang.

‘’Posisi matahari tepat di atas Kakbah itu ketika zuhur waktu Arab Saudi. Untuk waktu Indonesia barat (WIB) pukul 16.27,’’ terangnya.

Ali berharap dalam istiwa a’zam ini masyarakat bisa memanfaatkan untuk melakukan kalibrasi atau mengukur ulang arah kiblat di tempat ibadah atau tempat baru secara mandiri.

‘’Kita tidak butuh hitungan atau alat, di mana arah matahari itulah arah kiblat,’’ tegasnya.

Pria yang juga kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Jatirogo itu memastikan arah kiblat bisa menggunakan tongkat atau alat lain. Bahkan, bangunan yang tegak lurus pun bisa. Ketika melihat bayangan ke arah timur, tinggal tarik lurus ke arah kiblat sesuai arah matahari. Dia menyebut kalibrasi yang pas untuk menentukan arah kiblat pada pukul 16.27.

Apakah ada permintaan dari masyarakat untuk pengukuran arah kiblat pada Sabtu dan Minggu tersebut? Ali mengatakan tidak ada permintaan.

Dikonfirmasi terpisah, Kasi Bimas Islam Kemenag Tuban Mashari menambahkan, arah kiblat masjid maupun musala sebaiknya dilakukan update atau kalibrasi ulang.

Salah satu pertimbangannya, bumi mengalami pergeseran dan memungkinkan arah kiblat awal yang digunakan bisa saja bergeser. Dia memastikan itu karena banyak yang posisinya tidak sesuai ketika Kemenag beberapa kali menerima permintaan update arah kiblat.

‘’Rata-rata saat kami melakukan pengukuran ulang, posisi arah kiblat pasti ada selisihnya,’’ ujarnya.

Karena itu, lanjut Mashari, momen istiwa a’zam bisa dimanfaatkan untuk mengukur arah kiblat.

Diakuinya selama ini masyarakat awam bisa mengukur arah kiblat secara mandiri termasuk ketika momen istiwa a’zam.

‘’Jika ingin lebih yakin setelah pengukuran mandiri itu bisa memanggil tim BHR untuk memastikan,’’ tegasnya. (fud/ds)

 

----------------------------------------------------------------

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Amin Fauzie
#bumi mengalami pergeseran #Posisi matahari tepat di atas Kakbah #arah kiblat #15 Juli #bhr #istiwa a zam #momen istimewa #matahari di atas kakbah #fenomena tahunan #mengukur arah kiblat sendiri #Kemenag Tuban #Menentukan arah kiblat tanpa alat #kalibrasi #16 Juli #mengukur arah kiblat #cara menentukan arah kiblat #update arah kiblat