Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Menggali Jejak Sejarah Situs Atas Angin, Tuban di Dieng, Wonosobo, Jateng (1)

Dwi Setiyawan • Jumat, 1 September 2023 | 17:05 WIB

Wartawan yang mengikuti Media Gathering dan Workshop PT Semen Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) GHoPO Tuban di Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jateng, Rabu (30/8).
Wartawan yang mengikuti Media Gathering dan Workshop PT Semen Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) GHoPO Tuban di Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jateng, Rabu (30/8).

Terpanggil untuk menguak situs yang diduga sebuah tempat pemujaan agama Hindu yang ditemukan di kawasan Atas Angin, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan  Semanding pada 1 November 2021, wartawan Jawa Pos Radar Tuban Dwi Setiyawan menggali referensi di Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jateng, Rabu (30/8). Dari jejak yang ditinggalkan, candi ini memiliki benang merah dengan situs Atas Angin. Berikut laporannya yang ditulis bersambung.

 

‘’TEMPAT kita berdiri ini adalah kaldera Gunung Purba Dieng,’’ ujar Nirwati, pemandu wisata Media Gathering dan Workshop di Dieng Wonosobo dan Semarang, Jateng kepada rombongan wartawan yang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) GHoPO Tuban, ketika memasuki pelataran Candi Arjuna. Ikut dalam rombongan tersebut wartawan koran ini.

Kaldera adalah lubang besar membentuk cekungan setelah pengosongan dapur magma dalam erupsi eksplosif gunung berapi.

Setelah letusan dahsyat Gunung Purba, kata Iner, panggilan Nirwati, Dieng tak lagi gunung, namun dataran tinggi.

Letusan itu pula yang membentuk gugusan gunung kecil bernama Gunung Bisma, Bukit Sikunir, Gunung Pakuwojo, Gunung Pangonan, Gunung Prahu, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing yang mengelilingi Dieng.

Merujuk buku sejarah yang jadi referensi pemandu wisata di Wonosobo, Iner menjelaskan, Candi Arjuna dibangun pada abad VIII untuk persembahyangan umat Hindu di masa Mataram Kuno wangsa Sanjaya.

Menurut perempuan yang sudah menerjuni guide sekitar 13 tahun itu, candi-candi di Dieng merupakan bukti penyebaran agama Hindu tertua di Jawa. Posisi berdirinya candi ini juga tertinggi di Nusantara.

Ketinggiannya 2.093 mdpl. Candi Arjuna terletak paling utara dari deretan percandian di kawasan yang dulu merupakan dapur magma Gunung Purba Dieng tersebut.

Sementara itu, Candi Semar adalah candi perwara atau pelengkap dari Candi Arjuna. Kedua bangunan candi ini saling berhadapan.

Candi lain yang mendampingi, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.

Merujuk artikel Wikipedia, kompleks Candi Arjuna merupakan bangunan menhir atau susunan batu tertua yang diketahui di Jawa Tengah.

Diperkirakan semula terdapat sebanyak 400 candi, namun hanya delapan yang tersisa saat ini.

Setelah mempelajari gaya arsitektur candi Jawa, arkeolog mengelompokkan kompleks Candi Dieng ke dalam gaya arsitektur Jawa Tengah bagian utara, bersamaan dengan Candi Gedong Songo, Candi Badut di Jawa Timur, serta Candi Cangkuang, dan Candi Bojongmenje di Jawa Barat.

Selain itu, para arkeolog juga mengemukakan bahwa semua candi pada kompleks ini dibangun dalam periode yang sama, berkisar antara abad ke-VII sampai abad ke-VIII.

Sebuah prasasti bertarikh sekitar tahun 808-809 M yang ditemukan di dekat Candi Arjuna, Dieng, menjadi salah satu contoh aksara Jawa kuno tertua yang masih bertahan.

Prasasti tersebut mengungkapkan bahwa Candi Dieng dihuni dari pertengahan abad ke-VII sampai awal abad ke-IX Candi-candi Dieng ditemukan kembali pada 1814 oleh seorang tentara Britania yang berkunjung yang melihat reruntuhan candi berada di tengah danau.

Saat itu, dataran sekitar Candi Arjuna kebanjiran dan membentuk danau kecil.

Pada 1856, Isidore van Kinsbergen memimpin upaya mengeringkan danau untuk mengungkap secara utuh candi-candi tersebut.

Pemerintah Hindia Belanda melanjutkan proyek rekonstruksi pada 1864. Dilanjutkan dengan studi lebih lanjut dan foto-foto yang diambil oleh Van Kinsbergen.

Penamaan candi-candi tersebut sesuai dengan nama para pahlawan dari epos Hindu Mahabharata.

Apa kaitan Candi Arjuna dengan situs Atas Angin? Kembali merujuk referensi sejarah yang didapat selama mengikuti pelatihan pemandu wisata dan cerita tutur pelaku wisata tertua di Wonosobo, almarhum Agus Tugiyono—yang dikenal sebagai bapaknya pariwisata Wonosobo, Iner menjelaskan lebih detail.

Dia menuturkan, setelah bertahun-tahun kawasan Candi Arjuna ditenggelamkan bah hingga membentuk danau kecil, pemuja para dewa, terutama Dewa Syiwa di Candi Arjuna eksodus besar-besaran ke timur.

Mereka pun menyebar di sejumlah daerah. Terbanyak di Pulau Bali dan Tengger, Bromo. Sebagian kecil di sejumlah daerah di pesisir utara Pulau Jawa. Termasuk Tuban.

Selama tinggal di daerah baru, para pemuka agama Hindu dan pengikutnya tidak hanya menyebarkan agama ardhi atau agama budaya tersebut. Mereka juga mendirikan tempat persembahyangan atau pemujaan.

Situs Atas Angin sangat mungkin termasuk salah satu yang didirikan pemuka agama dan penganut Hindu Mataram Kuno wangsa Sanjaya dari Dieng.

Wartawan koran ini mendatangi situs Atas Angin yang disurvei ekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim sesaat setelah ditemukan. Yang tersisa dari situs tersebut hanya struktur bangunan bata putih.

Kalau saja struktur tempat pemujaan di situs Atas Angin masih utuh, setidaknya bisa dicocokkan dengan kesesuaian sebagian struktur bangunan peninggalan sejarah di kompleks Candi Arjuna. Khususnya tempat pemujaannya.

‘’Kalau ada foto bangunan utuh, saya bisa membantu mencocokkan,’’ ujar salah satu petugas penjaga Candi Arjuna. Dia yang keberatan namanya ditulis tersebut sebenarnya sangat antusias membantu penelusuran.

Seperti halnya kepada banyak pengun jung dari Bali dan Tengger, Bromo yang kerap ingin tahu lebih banyak latar belakang leluhurnya.

Seperti diberitakan Jawa Pos Radar Tuban, situs tersebut ditemukan warga  Gedongombo, Semanding ketika kerja bakti di punden Nawang Murni.

Temuan ini pun dilaporkan ke BPCB Jatim dan selanjutnya dilakukan survei penyelamatan situs.

Ketua Tim Arkeolog BPCB Jatim Nonuk Kristiana menjelaskan, kegiatan survei ekskavasi tersebut merupakan langkah pelestarian untuk mencari potensi objek cagar budaya.

‘’Survei penyelamatan ini untuk menindaklanjuti rekomendasi, bahwa ada situs batu putih di Tuban. Ada salah satu struktur bangunan dan ada fragmen,” kata dia yang memerkirakan bangunan tersebut merupakan tempat pemujaan Hindu di era sebelum Majapahit.

Masa pemerintahan Majapahit diperkirakan berlangsung pada abad XII hingga XV.

Kalau fakta tersebut benar, berarti situs Atas Angin dibangun jauh sebelum perabadan Majapahit. Termasuk penyebaran ajaran Islam di tlatah Jawa yang baru masuk pada abad XV. (ds-bersambung)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#situs atas angin tuban #dieng #Gunung Purba #gathering pt semen indonesia #tempat pemujaan