Sesaji, Selamatan, Sinkritisme yang Menjadikan Keserasian
Kalau situs Atas Angin di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding dikaitkan dengan penyebaran Hindu di Tuban sebelum Buddha dan Islam masuk, tentu ajaran agama tertua di dunia tersebut memberi pengaruh pada masyarakat Bumi Ronggolawe, tempat agama tersebut disebarkan. Seperti apa pengaruh tersebut? Berikut lanjutan tulisan wartawan Jawa Pos Radar Tuban Dwi Setiyawan yang menggali referensi di Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jateng, Rabu (30/8).
SEJARAWAN Hari Iswahyudi mengatakan, mengaitkan situs Atas Angin dengan penyebaran agama Hindu oleh penganut Hindu Mataram Kuno wangsa Sanjaya dari Dieng, harus dibuktikan dengan catatan-catatan (prasasti) dan sumber lisan yang berkembang di masyarakat terkait kehidupan masa lampau. Juga didukung dengan ilmu arkeologi untuk pengujian karbon pada bangunan situs.
‘’Ini diperlukan untuk mengetahui umur situs Atas Angin,’’ ujar akademisi lulusan sastra sejarah Universitas Negeri Jember (Unej) itu.
Hari mengungkapkan, berkaca dari temuan sejumlah benda purbakala sejenis di Jawa, situs dengan struktur bangunan berbahan batu putih dimungkinkan merupakan penepen atau tempat perenungan bagi golongan ulama dan bangsawan dari kehidupan dunia pada masa Kesultanan Mataram Yogyakarta.
Seperti situs Mbah Pendem di kompleks pemakaman umum Kelurahan Jetis, Kabupaten Lamongan, Jatim yang mirip dengan model Giri Kedaton.
Sejumlah arkeolog pun mengaitkan temuan benda purbakala tersebut dengan fungsi Lamongan sebagai wilayah satelit dan pintu gerbang menuju Kesultanan Giri.
‘’Jika situs Atas Angin memiliki ciri yang sama atau mirip dengan situs Mbah Pendem, maka itu bisa mematahkan asumsi sebagai peninggalan di masa Hindu-Buddha,’’ ujar pria asal Lamongan itu.
Setelah wartawan koran ini mengirimkan sejumlah foto situs Atas Angin ketika dilakukan survei ekskavasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim, Hari langsung melakukan pengamatan dari sejumlah angel.
Dari pengamatannya, dia memerkirakan situs Atas Angin sama dengan situs Mbah Pendem di masa Giri Kedaton pada abad XV atau masa kewalian.
‘’Tentu ini antitesa dari pendapat situs Hindu,’’ tegas pendidik di Perguruan Muhammadiyah Gresik Kota Baru itu.
Di bagian lain, Hari mengakui pengaruh Hindu-Buddha di sepanjang pesisir utara Laut Jawa adalah sebuah keniscayaan.
Salah satu peninggalan yang tidak bisa dimungkiri adalah Masjid Menara Kudus di Kudus, Jateng.
Dia menyebut salah satu penyebab terkikisnya peradaban Hindu dan runtuhnya kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia dipicu dari masuknya ajaran Islam.
Mengutip buku Perkembangan Islam Indonesia, Hari mengungkapkan, penyebaran ajaran Islam di pesisir utara Pulau Jawa berlangsung pada abad XI.
Itu dibuktikan dengan situs Siti Fatimah binti Maimun di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik, Jatim berangka 1082.
Kalaupun benar situs Atas Angin dibangun pemuka agama dan penganut Hindu Mataram Kuno wangsa Sanjaya dari Dieng, kata pria 47 tahun itu, tentu jejak prasasti dan sumber lisan pengaruh ajaran agama tertua di dunia tersebut sekarang ini sulit ditemukan seiring dominannya budaya Islam.
Kalaupun masih ditemukan hanyalah sebagian kecil. Itu pun karena alkulturasi maupun sinkritisme budaya Hindu dan Islam masih memberikan pengaruh, meski tidak dominan. Mulai adat-istiadat hingga beribadah.
Menurut arsip dokumen Jawa Pos Radar Tuban, satu-satunya peninggalan Hindu-Buddha yang masih bertahan di Bumi Ronggolawe adalah Gua Suci di Desa Wangun, Kecamatan Palang.
Gua yang masuk dalam situs sejarah yang dilindungi BPCP Trowulan, Mojokerto tersebut dikait kandengan tempat pertapaan raja.
Pada salah satu dinding gua yang berbentuk piramida tersebut terpahat relief Arjuna Wiwaha yang tengah bertapa dan digoda dua bidadari.
Pemerhati budaya Tuban, Widayaka mengatakan, islamisasi sebagian besar daerah di Nusantara, termasuk Tuban menjadikan bangunan-bangunan peninggalan Hindu-Buddha ikut lenyap.
Kalaupun masih bertahan, bangunan tersebut hanya mempertahankan sebagian kecil strukturnya. Salah satunya adalah sumur di kompleks makam Syeh Subakir di Tanjung Awar-Awar, Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu.
Widayaka menyebut sebagian adat-istiadat Hindu-Buddha yang masih bertahan dan terpelihara di Bumi Ronggolawe adalah sesaji, selamatan, serta mencampurkan lafal doa dan mantra.
‘’Sinkritisme ini justru menjadikan perpaduan dan keserasian,’’ tuturnya.
Benar-tidaknya Hindu Mataram Kuno wangsa Sanjaya dari Dieng pernah memberikan pengaruh di tlatah Tuban pada masa lampau, harus dimakna sebagai sebuah keberagaman budaya yang menjadi identitas bangsa dan Tuban merupakan bagian dari Nusantara. (ds)
Editor : Muhammad Azlan Syah