RADARTUBAN - Penjabat Gubernur Gorontalo Ismail Pakaya meminta warga Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato untuk tidak terpengaruh dengan isu liar.
Pernyataan Ismail Pakaya tersebut merespon aksi anarkis pendemo kasus tambang yang membakar kantor Bupati Pohuwato, Kamis (22/(9).
"Dalam situasi seperti ini harus berpikir secara tenang, tidak mengutamakan emosi. Kami berharap mereka mereka yang melakukan provokasi, perusakan dan pembakaran kantor Bupati untuk dilakukan langkah-langkah hukum," tegas dia, sebagaimana dikutip dari ANTARA
Setelah insiden yang meluluhlantakkan kantor bupati Pohuwato, Ismail Pakaya berencana bermalam di ujung barat Gorontalo.
Langkah tersebut sambil memastikan kondisi keamanan kondusif hingga esok harinya. Termasuk memastikan semua layanan berjalan dengan beberapa opsi.
"Saya akan ada di tempat ini sampai dengan besok untuk memantau kondisi keamanan dan ketertiban di Marisa (ibu kota kecamatan)," tuturnya.
Meski pusat kantor pemerintahan Kabupaten Pohuwato hangus terbakar, dia juga mendorong bupati dan semua pegawai tetap melakukan pelayanan pemerintah, sosial, dan kemasyarakatan esok harinya.
"Aksi tersebut harusnya tidak dilakukan, karena hanya akan merugikan masyarakat," ucap Ismail Pakaya saat meninjau lokasi.
Dia mengatakan telah melakukan rapat terbatas bersama Kapolda Gorontalo Irjen Pol Angesta Romano Yoyol, Danrem 133/NW Brigjen TNI Totok Sulistyono, dan Bupati Pohuwato Saipul Mbuinga.
"Saya terus terang saja menyesalkan adanya perusakan dan pembakaran yang dilakukan oleh massa. Sudah dilakukan upaya dialog oleh Pak Kapolda, ternyata massa aksi tidak bersedia dan melakukan perusakan," ujar dia.
Gubernur menyampaikan, kantor bupati adalah pusat layanan dan pusat pemerintahan yang dibiayai melalui pajak serta retribusi masyarakat.
"Jadi kalau kita membakar berarti merugikan kita sendiri sebagai masyarakat,"ujarnya.(ds)
Editor : Muhammad Azlan Syah