Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Penyakit Difteri Mewabah di Sejumlah Daerah, BRIN: Subjek yang Terinfeksi Perlu Diisolasi

Dwi Setiyawan • Senin, 9 Oktober 2023 | 14:32 WIB
Photo
Photo

RADARTUBAN-Penyakit difteri menyerang beberapa daerah di Indonesia.
Pemkab Garut, Jawa Barat pun sudah menetapkan penyakit difteri sebagai kejadian luar biasa.


Pemkab Subang, Jawa Barat sekarang tengah melacak orang yang telah kontak dengan dua penderitanya. Setelah turun tangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan terkait penyebaran penyakit difteri.


Dikutip dari Antara, Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN Harimat Hendarwan menerangkan, difteri disebabkan bakteri  Corynebacterium Diphtheriae yang menginfeksi bagian faring, laring, dan tonsil.

"Gejalanya itu biasa didahului dengan gangguan pada saat menelan, bernapas juga bisa terjadi masalah di situ, karena ditandai di faring," ujarnya.


Harimat mengatakan, bagian selaput tenggorokan yang terinfeksi bakteri berwarna abu keputihan. Hal itu sebagai reaksi, karena bakteri tersebut sudah merusak lapisan kulit dalam yang melapisi berbagai rongga tubuh yang memiliki kontak dengan lingkungan luar (mukosa).

Dalam kasus berat, kata dia, bakteri difteri bisa menghasilkan eksotoksin yang dapat masuk aliran darah, sehingga bisa menyebar ke jantung, ginjal, atau saraf, dan menyebabkan gejala fatal lain.

Harimat menegaskan, jika tidak ditangani segera, penyakit difteri bisa mengancam masyarakat lainnya.


Penyebabnya, penyebaran penyakit ini sangat mudah. Yakni, melalui cipratan air liur (droplet), kontak secara langsung dengan penderita, serta kontak tak langsung dengan barang yang disentuh penderita difteri.

Jika penyebaran penyakit ini sudah masif, kata dia, angka penderita berpotensi mengalami kematian mencapai 10 persen.

"Ketika terjadi outbreak bisa menyebabkan kematian 10 persen bagi penderita difteri," kata Harimat.

Dia menyebut subjek yang terinfeksi difteri perlu segera diisolasi sekaligus mendapatkan perawatan intensif agar penyebaran virus tersebut dapat dibendung.

Kasus difteri di Subang kali pertama dilaporkan pada 30 September 2023 dan menyerang anak berusia sembilan tahun. Pemkab Garut juga telah menetapkan status kejadian luar biasa difteri selama Februari-November 2023.(ds)

Editor : Kifani Amalija Putri
#penyebaran penyakit #BRIN #difteri #bakteri