Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ahli: Aset Berharga Kekayaan Ragam Hayati Nusantara Tak Terurus

Dwi Setiyawan • Kamis, 12 Oktober 2023 | 13:48 WIB
Photo
Photo

RADARTUBAN-Indonesia masuk dalam daftar sepuluh negara dengan keanekaragaman hayati biodiversitas yang besar.

 

Pengakuan dunia tersebut diputuskan dalam rapat Bank Dunia pada era 90-an.

 

 

Ahli zoologi dan biologi konservasi dari Universitas Indonesia (UI) Jatna Suptiatna menyebut potensi hayati yang dimiliki Nusantara hanya bisa disejajarkan dengan Brasil.

 

"Indonesia hanya 1,3 persen permukaan tanah, tetapi Indonesia masuk negara dengan keanekaragaman hayati yang besar," katanya dalam seminar transisi energi dengan konservasi daratan di Jakarta, Selasa (10/10), sebagaimana dikutip dari Antara.

 

Jatna menyebut Indonesia unggul dalam biodiversitas di wilayah laut.

 

Sedangkan Brasil unggul dalam hal keanekaragaman hayati di wilayah teristrial.

  

Dia memaparkan, kekayaan biodiversitas Indonesia meliputi 12 persen spesies mamalia, 10 persen spesies bunga, 15 persen spesies serangga, 17 persen spesies burung, 16 persen spesies reptil dan amfibi, 25 persen spesies ikan, dan 77 persen terumbu karang.

  

"Dengan kekayaan itu, Indonesia masih rendah sekali mengenai valuasi (keanekaragaman hayati)," kata Jatna.

Menurut dia, keanekaragaman hayati punya nilai valuasi hingga triliunan dolar.

Itu karena masyarakat dunia punya ketergantungan terhadap biodiversitas. 

 

Bahkan, sektor farmasi dari biota memiliki valuasi 643 miliar dolar AS, bioteknologi dari berbagai mikroba memiliki valuasi sebesar 70 miliar dolar AS, dan benih tanaman yang dihasilkan dari hutan punya nilai valuasi mencapai 30 miliar dolar AS.

 

Meski Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati yang besar, kata Jatna, belum ada biodiversitas yang memiliki nilai valuasi tinggi.

  

"Pisang punya value tinggi dan biodiversitas di Indonesia paling tinggi, tetapi kita tidak pernah ekspor pisang. Kita justru impor pisang dari Australia dan Filipina," ujarnya. 

 

Jatna kemudian memberikan gambaran Sejarah. Dia menceritakan, beberapa abad lalu, orang-orang barat pernah datang ke wilayah Indonesia karena terpikat dengan keanekaragaman hayati yang melimpah. 

Bahkan, kala itu satu kilogram rempah dihargai lima ons emas.

  

Seiring berjalannya waktu, biodiversitas tidak ada harga dan mengalami fluktuasi yang besar karena tidak pernah memasukkan sains ke dalam keanekaragaman hayati tersebut.

 

Jatna berharap agar riset-riset keanekaragaman hayati semakin ditingkatkan untuk mendongkrak nilai valuasi biodiversitas yang dimiliki oleh Indonesia.

 

Dengan demikian, keanekaragaman hayati tanah air menjadi aset berharga untuk ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi, maupun energi.(ds)

Editor : Kifani Amalija Putri
#keanekaragaman hayati biodiversitas #Indonesia #biodiversitas