RADARTUBAN-Kasus bunuh dirinya seorang pelajar salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) di Tuban menjadi pukulan telak dunia pendidikan.
Pasalnya, korban berinisial MAI itu diduga nekat mengakhiri hidupnya karena depresi akibat tekanan debt collector yang menagih utang pinjaman online (pinjol).
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur wilayah Bojonegoro–Tuban Adi Prayitno mangaku turut perihatin sedalam-dalamnya atas kejadian memilukan tersebut. Karena itu, kasus ini benar-benar menjadi perhatian dan evaluasi bersama.
‘’Kepada semua guru dan orang tua, mari kita sama-sama mengedukasi anak-anak tentang bahaya internet. Tentang bahaya pinjol, judi online, dan hal-hal yang membahayakan lainnya,’’ tutur Adi—sapaan akrabnya.
Adi mengatakan, edukasi tentang bahaya internet bisa disampaikan melalui hal sederhana. Salah satunya, dari sambutan pembina upacara saat hari Senin.
Juga bisa melalui guru dari kelas ke kelas. Sehingga siswa tidak hanya melek teknologi, namun juga paham risiko yang harus dihadapi.
‘’Anak adalah tanggung jawab orang tua dan guru, jadi harus diawasi apa saja yang ada di ponselnya dan seberapa jauh dia memahami aplikasi di dalamnya,’’ ungkap dia.
Mantan Kacabdin Pendidikan Nganjuk ini menyayangkan ada bunuh diri yang dipicu dari judi online. Apalagi bunuh diri itu dilakukan oleh pelajar.
Seharusnya, tegas dia, persoalan seorang pelajar harus terdeteksi sejak dini oleh orang tua atau guru. Sehingga bisa dicarikan solusi dari setiap permasalahan tersebut.
‘’Tidak ada yang perlu disalahkan dalam peristiwa ini, tapi jangan sampai kejadian yang sama terjadi lagi dan harus diantisipasi sejak dini,’’ katanya.
Mantan Kepala SMAN 3 Nganjuk ini meneruskan, judi online dan pinjaman online saat ini menjadi persoalan serius di masyarakat.
Jika tidak diantisipasi dengan edukasi, maka persoalan tersebut bisa menjadi polemik baru di lembaga pendidikan. Maka dari itu, orang tua dibantu sekolah harus aktif memantau ponsel setiap peserta didik.
‘’Jadikan siswa itu sahabat dan teman para pendidik, sehingga jika ada persoalan bisa terselesaikan sebelum ada korban,’’ tandasnya.
Sebagaimana diketahui, siswa SMK di Tuban yang nekat bunuh diri ini diduga terjerat pinjol sekitar Rp 900.
Kapolsek Palang AKP Carito menuturkan, korban diduga bunuh diri karena terus-terusan diteror debt collector salah satu perusahaan finance online.
‘’Kami menduga korban depresi karena pinjaman online, berdasarkan sejumlah chat Whatsapp di ponsel korban,’’ tutur dia kepada Jawa Pos Radar Tuban. (yud/tok)
Editor : Muhammad Azlan Syah