Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tunda Pernikahan Hingga Usia Matang. Mengapa? Berikut Alasan BKKBN

Muhammad Azlan Syah • Sabtu, 28 Oktober 2023 | 15:08 WIB
Photo
Photo

RADARTUBAN-Generasi muda Indonesia jangan menikah pada usia dini! Harapannyaagar pasangan muda tidak terjebak pada pendapatan kelas menengah dan bawah.

Imbauan tersebut disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo sebelum memasuki puncak Indonesia Emas pada 2045.

‘’Sebelum memasuki pundak Indonesia Emas, maka pada 2035, Indonesia sudah harus sukses dan bisa memanfaatkan dengan baik bonus demografi,’’ kata dia dikutip dari Antara.

Hasto mengatakan, kalau Indonesia terjebak pada pendapatan kelas menengah dan bawah, maka dikhawatirkan susah keluar dari jebakan. Menurut dia, generasi muda menjadi penentu memetik bonus demografi. ‘

’Kuncinya, harus tidak kawin pada usia dini, tidak putus sekolah, tidak menganggur, dan tidak sebentar-sebentar hamil,” kata dia.


Hasto mengungkapkan, sekarang ini, setiap 100 orang bekerja hanya untuk menanggung 44 penduduk tidak produktif.

‘’Jadi kalau mau kaya, ya sekarang pada era bonus demografi ini. Kalau tidak sekarang, kapan lagi, dan kalau tidak oleh generasi muda, oleh siapa lagi?" ucapnya.


Hasto juga mengatakan, pada 2035, Indonesia sudah melewati kesempatan windows opportunity atau beban penduduk usia produktif terhadap penduduk usia tidak produktif pada titik terendah.

Itu karena dependency ratio atau perbandingan usia penduduk usia tidak produktif 0-15 tahun dan di atas 65 tahun dengan usia produktif 16-64 tahun sudah naik.


Dia menegaskan, bonus demografi dapat meningkatkan bonus kesejahteraan. Hanya saja, untuk mencapai hal tersebut tentu membutuhkan upaya untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan kesehatan.


“Bonus penduduk menjadi bonus kesejahteraan. Tentu butuh upaya, di antaranya peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas penting. Utamanya untuk menurunkan angka stunting, mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kualitas hidup perempuan, anak dan keluarga," ucap Hasto.

Ia juga menyebutkan, kualitas sumber daya manusia ditentukan tiga hal. Yakni pendapatan per kapita, angka harapan hidup, dan pendidikan.


Di Indonesia, rata-rata lama sekolah masih 8,48 tahun, meski harapan lama sekolah seharusnya sudah 12 tahun. Kondisi ini menjadi hal serius untuk diperjuangkan agar indeks pembangunan manusia (IPM) bisa meningkat.

"Kesenjangan masih terlalu tinggi antara satu daerah dengan yang lain, sebagai contoh, IPM Yogyakarta 79, Bali 75, namun ternyata IPM Papua 60,44.

Pengaruh dari stunting itu sangat serius karena kualitas sumber daya manusia sangat erat dengan kemampuan intelektual, dan ini menjadi indikator penting dalam menentukan kualitas SDM di Indonesia," tuturnya.

Untuk mencegah stunting sejak dini, lanjut dia, remaja diedukasi tidak kawin dini. Dengan demikian, kualitas SDM bisa meningkat.(ds)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#stunting #menikah #bkkbn #SDM #nikah muda #muda