Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Oktober Diperingati Bulan Kesadaran Kanker Payudara, Dokter: Tidak Semua Penderita Diangkat Payudaranya

Dwi Setiyawan • Minggu, 29 Oktober 2023 | 15:08 WIB

 

Photo
Photo

 

RADARTUBAN-Setiap Oktober diperingati Bulan Kesadaran Kanker Payudara atau Breast Cancer Awareness Month. Momen ini merupakan salah satu Upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat dunia terhadap kanker payudara.

Harapan pengidap kanker payudara yang masih tetap bisa mempertahankan organ vital yang menjadi identitas kesempurnaan seorang wanita tersebut disampaikan dokter spesialis bedah Yadi Permana. 

Dikutip dari Antara, dia mengatakan, tidak semua pengidap kanker payudara harus menjalani operasi mastektomi atau pengangkatan payudara, khususnya jika kanker didiagnosis stadium awal.

"Kalau kita temukan kanker payudara dalam stadium awal, bentuk payudaranya bisa dipertahankan," ujarnya. 

Tak hanya memerlukan pengangkatan payudara, kata dia, perempuan dengan kanker payudara stadium awal juga tidak perlu kemoterapi. 

Menurut Yadi, apabila dalam pemeriksaan medis mendapati benjolan di payudara, tidak semua benjolan adalah tumor atau kanker.  

Begitu juga kalau dalam pemeriksaan ditemukan tumornya jinak, konsultan onkologi RSUP Fatmawati Jakarta itu mengatakan operasi yang dilakukan cukup pada pengangkatan tumor dan payudaranya dapat dipertahankan.

Yadi menjelaskan, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Di antaranya, menstruasi pertama pada usia terlampau muda, melahirkan anak pertama di usia lebih dari 35 tahun, serta gaya hidup tidak sehat seperti kerap mengonsumsi alkohol dan merokok.

Dia menyampaikan, faktor genetika, seperti ada anggota keluarga yang mengidap kanker, juga menjadi faktor yang meningkatkan risiko kanker.

Yadi memastikan gaya hidup sehat, melahirkan anak pada usia di bawah 35 tahun, dan menyusui bayi sampai usianya dua tahun dapat menurunkan risiko kanker payudara.

Dia menyebut deteksi dini dan pencegahan risiko merupakan langkah penting yang dapat mengurangi potensi kematian akibat kanker payudara dan memperbesar tingkat kesembuhannya.

"Pencegahan dan deteksi dini, dua itulah yang menjadi kunci utama untuk penanganan kanker yang lebih baik," tegasnya.

Data Globocan tahun 2020 menunjukkan jumlah kasus baru kanker payudara mencapai 65.858 kasus atau 16,6 persen dari total 396.914 kasus baru kanker di Indonesia. Jumlah kematian akibat kanker pada 2020 mencapai lebih dari 22 ribu jiwa.(ds)

Editor : Kifani Amalija Putri
#oktober #Bulan Kesadaran Kanker Payudara #kanker payudara