RADARTUBAN-Beberapa perangkat vital pada dua pesawat tempur EMB-314 Super Tucano milik TNI Angkatan Udara yang jatuh di Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (16/11), diprioritaskan untuk diangkut dari lokasi kejadian.
Dilansir dari Antara, Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI R. Agung Sasongkojati mengungkapkan beberapa perangkat vital pesawat tempur Super Tucano yang diperlukan untuk kepentingan invetigasi. Perangkat tersebut, kanon pesawat, engine throttle, kursi lontar, dan propeller. ‘’Karena cuaca tidak bersahabat dan lokasi jatuh medannya cukup ekstrem, sehingga beberapa perangkat diprioritaskan untuk diangkut lebih dulu,’’ kata dia menjelaskan proses evakuasi puing-puing pesawat tempur Super Tucano dalam siaran resmi Dinas Penerangan TNI AU di Jakarta, Selasa (21/11).
Agung menegaskan, badan dua pesawat tidak dapat diangkut seluruhnya dalam satu kali.
"Pesawat akan dipotong-potong beberapa bagian agar mudah diangkut melalui jalan darat," ujarnya.
Kadispenau juga menyampaikan tim investigasi dari Pusat Kelaikan dan Keselamatan Terbang Kerja TNI AU tidak bisa langsung membaca voice and data recorder (DAVR) yang merupakan perangkat yang menyimpan rekaman video, suara, data performa pesawat, dan performa mesin pesawat.
Karena itu, perangkat tersebut akan dikirim ke pabrik pesawatnya, sehingga tim investigasi dapat meminjam alat pembacanya dan mengakses data-data pesawat yang terekam dalam perangkat tersebut.
Untuk membaca perangkat network-centric data cartridge (NCDC) yang menyimpan data rekaman suara, video, dan tampilan navigasi penerbangan, dia menyebut tim investasi memiliki kemampuan.
Pesawat tempur EMB-314 Super Tucano TNI AU yang memperkuat Skadron Udara 21 Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh Malang dibuat oleh Embraer Brazil. Pesawat tersebut termasuk dalam pesawat latih lanjut berkemampuan COIN (counter-insurgency) atau pesawat anti-perang gerilya.
Dua pesawat tempur tersebut jatuh di lereng Gunung Bromo, kawasan Taman Nasional Gunung Bromo, Tengger, Semeru, di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (16/11) saat menjalani sesi profisiensi latihan formasi bersama dua pesawat tempur Super Tucano lainnya.
Akibat jatuhnya dua pesawat tersebut, empat prajurit meninggal dunia. Mereka adalah Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Subhan, Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Widiono Hadiwijaya, Kolonel Penerbang (Anumerta) Sandhra Gunawan, dan Letkol Pnb (Anumerta) Yuda A. Seta.(ds)
Editor : Kifani Amalija Putri