Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Berikut Deretan Fakta dari Gempa Tuban yang Merusak di Perairan Laut Jawa

Dwi Setiyawan • Senin, 25 Maret 2024 | 05:31 WIB

Balai Desa Dagangan, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban yang rusak berat karena bangunan yang lapuk ditambah terdampak gempa.
Balai Desa Dagangan, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban yang rusak berat karena bangunan yang lapuk ditambah terdampak gempa.


RADARTUBAN- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan fakta terkait gempa yang terpusat di perairan laut Tuban, Jawa Timur pada Jumat (22/3).

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menerangkan, hasil monitoring BMKG hingga Minggu (24/3) pukul 10.00 WIB mencatat sebanyak 239 kali gempa, dengan frekuensi yang semakin jarang.

Jika pada Jumat (22/3) dalam satu jam dapat terjadi 19 kali gempa, data terkini menunjukkan dalam 1 jam terjadi 2–3 kali gempa.

Dia menyebut gempa tersebut menambah catatan gempa kuat di Laut Jawa.

Sebelumnya, hanya terjadi empat kali gempa kuat di Laut Jawa. Yakni, pada 1902, 1939, 1950, dan terkini pada 2024.

‘’Gempa Bawean memberi pelajaran penting bahwa ancaman gempa merusak di Jawa Timur tidak hanya berasal dari selatan, yaitu sumber gempa subduksi lempeng dan sesar-sesar aktif di daratan, namun juga dari sumber-sumber gempa di Laut Jawa di utara Jawa Timur,’’ tulis Daryono di akun X nya @DaryonoBMKG.

Daryono juga menyampaikan, gempa tersebut merupakan jenis gempa kerak dangkal.

"Gempa kerak dangkal itu dipicu aktivitas sesar aktif dengan mekanisme geser atau mendatar di Laut Jawa," terangnya.

Dia mengatakan, gempa tersebut bersifat merusak atau destruktif.

Terbukti, kerusakan bangunan tidak hanya di Pulau Bawean, namun juga di Gresik, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Bojonegoro, Pamekasan Madura, dan Banjarbaru.

Guncangan gempa ini, kata dia, memiliki spektrum luas, sehingga dirasakan hingga jauh. Mulai Banjarmasin, Banjarbaru, Sampit, Balikpapan, Madiun, Demak, Semarang, Temanggung, Solo. Yogyakarta, Kulon Progo, dan Kebumen.

Meski berpotensi merusak, Daryono memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Dia mengatakan, data lapangan hasil monitoring muka laut dengan menggunakan Tide Gauge milik Badan Informasi Geospasial (BIG) di Karimunjawa, Lamongan, dan Tuban menunjukkan muka laut yang normal tanpa anomali catatan tsunami.

Fakta berikutnya yang diungkap BMKG adalah gempa tersebut berpusat di zona aktivitas kegempaan rendah, sehingga masyarakat awam menilai gempa sebagai gempa tidak lazim karena terjadi di wilayah yang jarang terjadi gempa dangkal.

Selama ini, terang Daryono, wilayah Laut Jawa lazimnya menjadi episenter gempa-gempa hiposenter dalam akibat deformasi slab Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi di bawah Lempeng Eurasia tepatnya di bawah Laut Jawa dengan kedalaman sekitar 500–600 km.

Kenyataannya, gempa di Laut Jawa tersebut berpusat di zona Sesar Tua Pola Meratus.

Gempa Bawean juga membuktikan bahwa ternyata jalur sesar di Laut Jawa masih aktif.

"Gempa dapat berulang dan terjadi kapan saja. Meski termasuk dalam zona kegempaan rendah, Laut Jawa utara Jawa Timur tetap memiliki potensi gempa karena secara geologi dan tektonik terdapat jalur Sesar Tua Pola Meratus," ujar Daryono.

Lebih lanjut, dia menyampaikan gempa di Laut Jawa dipicu reaktivasi sesar tua. Episenter Gempa Bawean terletak tepat di jalur sesar yang sudah terpetakan.

Jika mencermati lokasi pusat gempa, tampak episenternya terletak tepat pada jalur Sesar Muria (Laut).

"Jalur sesar itu berada di zona Sesar Tua Pola Meratus. Salah satu jalur sesar di zona Pola Meratus ini diduga mengalami reaktivasi dan memicu gempa," katanya.

Fakta terakhir yang diungkap BMKG adalah gempa tersebut memiliki susulan dengan kekuatan magnitudo lebih besar, yaitu sebesar 6,5 SR, sedangkan gempa pertama kekuatan magnitudo 5,9 SR.

"Hal itu bisa terjadi karena bidang bakal geser di bidang sesar yang ukurannya lebih besar mengalami pecah belakangan. Salah satunya karena dipicu tekanan dari gempa pertama dengan aspertity yang ukurannya relatif lebih kecil,’’ tegasnya.

Bidang sesar yang pecah pertama kali adalah asperity pada struktur batuan yang lebih lemah, sehingga mengalami pecah duluan sebagai gempa pembuka.

Gempa susulan tersebut cukup banyak. Hal itu disebabkan karakteristik gempa kerak dangkal di Bawean yang terjadi pada batuan kerak bumi permukaan yang batuannya bersifat heterogen.

Dengan demikian, kerak bumi itu mudah rapuh dan patah, tidak seperti gempa kerak samudra yang batuannya bersifat homogen dan elastik sehingga tidak terlalu banyak gempa susulan, bahkan terkadang tanpa gempa susulan meski magnitudo gempanya cukup besar. (ds)

Editor : Amin Fauzie
#BMKG #fakta #gempa tuban