RADARTUBAN – Kisah pilu dan penuh perjuangan datang dari gadis Indramayu bernama Sopyah Suprianti.
Sopyah Suprianti menyamar menjadi laki-laki dan bekerja sebagai buruh serabutan di Indramayu demi menghidupi adik laki-lakinya.
Selama ini, Sopyah Suprianti tinggal bersama adiknya bernama Samsul Ramadhan berusia 15 tahun di Indramayu, karena ibunya meninggal dunia dan ayahnya merantau.
Dikutip dari laman Instagram, @folkative, kondisi serbakekurangan memaksa gadis berusia 22 tahun ini untuk putus sekolah.
Sopyah mencari nafkah dengan cara apa pun, rambut yang dipotong pendek hingga menyerupai laki-laki.
Pekerjaan kuli bangunan dan buruh kasar merupakan pekerjaan yang umum dikerjakan seorang laki-laki.
Kehidupan sehari-hari Sopyah dan Samsul sangatlah berat. Mereka kerap menahan lapar, karena kekurangan makanan.
Meski tetangganya sering memberikan bantuan, Sopyah bertekad untuk tidak membebani orang lain.
Dia lebih memilih untuk bekerja keras demi menghidupi dirinya dan adiknya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Sopyah sebenarnya adalah anak yang berpretasi.
Dia pernah meraih juara 2 dalam ajang Wall Climbing Competition (WCC) bersama Mahameru Climbing Club (MCC).
Lomba ini diadakan Mahasiswa Kehutanan Pecinta Alam (Mahakupala) Universitas Kuningan.
Prestasi ini menunjukkan bahwa Sopyah merupakan sosok yang berbakat dan memiliki potensi besar.
Kisah Sopyah Suprianti ini merupakan cerminan dari keteguhan hati dan pengorbanan seorang kakak demi adiknya.
Di tengah keterbatasan dan kesulitan hidup, dia tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi adiknya.
Perjuangannya menyamar sebagai laki-laki demi mendapatkan pekerjaan adalah bukti nyata kasih sayang dan tanggung jawab yang besar. (*)
Editor : Amin Fauzie