RADARTUBAN- Tagar tolak desain paspor ramai di media sosial X.
Ramainya isu tolak desain paspor tersebut menyusul rencana Dirjen Imigrasi untuk mengganti desain paspor dengan alasan meningkatkan keamanan paspor lama.
Salah satu yang paling vokal mengkritik kebijakan tolak desain paspor adalah Surya Vandiantara, akademisi Universitas Muhammadiyah Bengkulu.
Melansir dari akun X @piratess, Surya mempertanyakan apakah paspor yang diterbitkan Dirjen Imigrasi masih belum memenuhi standar keamanan?
Fitur baru yang ditambahkan dalam paspor meliputi, tinta UV dan tinta intaglio, kertas, pita pengaman, teknologi hologram, serta chip elektronik yang mampu memuat data biometrik.
“Apakah di paspor yang sebelumnya tidak terdapat hal tersebut? Jika sudah, apa urgensinya karena kita perlu tahu keamanan paspornya selama ini. Lalu sekarang urgensinya dilakukan perubahan desain paspor apa?” katanya.
Surya mengatakan, jika kebijakan perubahan desain paspor tetap dilakukan, maka akan ada masalah yang menanti.
Urgensi pemerintah mengganti desain paspor masih menjadi pertanyaan.
Terlebih, kebutuhan desain baru hanya untuk meningkatkan sistem keamanan.
Berbagai fitur yang ditambahkan dalam desain paspor masih belum menjadi kebutuhan utama di Indonesia.
Pasalnya, hingga saat ini masyarakat belum menemukan informasi terkait kasus maraknya pemalsuan paspor.
Karena itu, pemerintah tidak perlu meningkatkan keamanan paspor.
Menurut Surya, karena tidak ditemukannya kasus maraknya pemalsuan paspor Indonesia, maka mengubah paspor demi meningkatkan sistem keamanan hanyalah omong kosong belaka.
Pemilihan warna dalam desain paspor serta peluncuran desain baru di akhir masa pemerintahan juga harus diperhatikan secara serius oleh Dirjen Imigrasi.
“Pertanyaan yang akan timbul, mengapa dirjen imigrasi tidak menunggu pemerintahan baru dilantik? Agar setiap kebijakan dapat dianalisis secara lebih mendalam oleh pemerintahan baru yang akan datang,” pungkasnya. (*)
Editor : Amin Fauzie