RADARTUBAN-Dunia Pendidikan saat ini dikejut dengan cleansing atau pemberhentian guru honorer.
Lebih mengejutkan lagi, cleansing guru honorer dilakukan secara mendadak dan tanpa surat.
Problem cleansing guru honorer diunggah akun X @zanatul_91 milik Iman Zanatul Haeri yang juga Ketua Bidang Advokasi Guru P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru), Kamis (11/7).
Pada Kamis (4/7), Iman Zanatul mengikuti audiensi Rapat Dengar Pendapat Umum (RPDU) bersama Komisi X DPR RI untuk membahas kondisi guru honorer di Indonesia, khususnya untuk daerah Jawa Barat, Lampung, dan Jakarta.
Pada audiensi tersebut, Iman mengatakan bahwa di Indonesia sedang terjadi upaya untuk mengusir guru-guru honorer dari sekolah dengan cara halus.
Hal tersebut dilakukan tanpa surat, namun melalui broadcast verbal dan nonverbal atau pengurangan jam mengajar.
Hal tersebut terjadi menjelang kedatangan guru PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja).
“Pada tanggal 5 Juli 2024 atau pada minggu pertama masuk sekolah negeri tahun ajaran baru 2024/2025 di DKI Jakarta, para guru honorer mendapatkan pesan horor. Yaitu bahwa mereka sejak hari pertama masuk menjadi hari terakhir berada di sekolah. selain itu Kepala Sekolah mengirimkan formulir Cleansing Guru Honorer kepada para guru honorer agar mereka isi,” kata Iman dalam keterangan tertulis, Senin (15/7) dikutip dari jawapos.com.
Iman menilai cleansing guru honorer adalah kebijakan yang tidak manusiawi.
Hal tersebut karena pemberitahuannya yang mendadak, sehingga tanpa persiapan secara psikologis maupun ekonomi bagi guru honorer terdampak.
Cleansing guru honorer terjadi pada sekolah negeri di tingkat provinsi.
Sejauh ini penerapan kebijakan cleansing guru honorer baru ditemui di Jakarta. Guru terdampak cleansing bisa mencapai ratusan guru.
Ada 173 guru yang akan dan sudah mengalami cleansing untuk daerah Jakarta Utara.
Iman juga membagikan cerita guru honorer terdampak melalui akun X-nya.
“Bang, PMM gue udah tamat. Aksi nyata gue banyak. Masa gue dipecat? Bagus banget PMM gue, bisa dijual gak sih?’’ tulisnya mengutip pernyataan seorang guru honorer yang status dapodiknya berubah berwarna merah.
‘’Kami mengobrol sambil tertawa-tawa. Tawa pahit,” cerita Iman di akun X-nya, Jumat (12/7).
“Ril ya ampun ini jg terjadi di sekolahku, mana ada temen guru yg kena,” komen @snwputri08 menanggapi cuitan Iman di X.
Iman mengatakan, guru honorer adalah korban dari gagalnya negara menciptakan seleksi yang memenuhi kebutuhan tenaga pendidik untuk penyelenggaraan pendidikan Indonesia.
“Indonesia kekurangan guru, tapi pemerintah tidak mau merekrut secara resmi dgn bayaran layak maka terbukalah jalur bayaran becanda dgn status honorer,” tulis @ikhwanuddin, Jumat (12/7).
Sejauh ini belum ada penjelasan resmi terkait alasan penerapan cleansing guru honorer.(*)