RADARTUBAN–Sepasang lansia di Bogor, Jawa Barat tepatnya di daerah Jonggol, ditemukan membusuk di kamarnya.
Warga terpaksa membuka paksa pintu rumah yang ditinggali sepasang lansia tersebut setelah beberapa hari tidak terlihat di luar rumah.
Dilansir dari akun Facebook Dian DeeDee, nama dari sepasang lansia tersebut, Hans Tomasoa (83) dan Rita Tomasoa-Wattimena (72).
Mereka merupakan jemaat SP3 GPIB Cipeucang.
Menurut penjelasan Dian pada akun Facebooknya, kronologi awal sebelum ditemukan jasadnya, pada Senin (8/7) Hans masih terlihat membeli mie ayam.
Itu merupakan hari terakhir tetangga melihatnya.
Kemudian, Jumat (12/7) malam sampai Sabtu (13/7) pagi, pintu rumah Hans dan Rita masih tertutup rapat dan tetangga tidak pernah lagi melihat mereka keluar rumah.
Ketua RT daerah setempat mencoba menelepon anak-anak pasangan lansia tersebut, namun tidak merespon.
Dikutip dari akun Facebook Dian, Sabtu (13/7) pagi, juga ada Penatua/Diaken gereja yang berkunjung untuk mengajak Hans dan Rita mengikuti perjamuan Kudus di rumah.
Selain itu, mereka ingin menyampaikan maksud baik untuk melakukan kerja bakti membersihkan tempat tinggal Hans untuk ibadah keluarga pada Rabu (17/7), namun tidak ada yang membukakan pintu.
Warga Jemaat dan Penatua/Diaken gereja bekerja sama menanggung konsumsi untuk kerja bakti membersihkan rumah Hans.
Rencana tersebut tidak terealisasi, karena pintu rumah terkunci dan diketuk tidak direspon.
Bersama dengan ketua RT, akhirnya mereka memutuskan mendobrak pintu rumah.
Pendobrakan pintu rumah rumah tersebut divideokan sebagai bukti tidak ada maksud buruk.
Begitu pintu terbuka, mulai tercium bau tidak sedap.
Setelah pintu terbuka, tampak jasad Hans dan Rita yang sudah membusuk di atas ranjang kamarnya.
Dilansir dari akun facebook Dian DeeDee, menurut keterangan tim visum dari Polsek dan RSUD, Hans dan Rita meninggal sekitar 4-5 hari lalu, Selasa (9/7) atau Rabu (10/7).
Dikutip dari platform X akun @_faktaindo, “Diduga Hans Tomasoa meninggal lebih dahulu, dan istrinya yang tidak mendapatkan makan dan minum kemudian ikut meninggal,” jelasnya.
Menurut keterangan Dian di akun Facebook, dari dahulu pihak gereja sudah sering menghubungi anak-anak Hans Rita ketika akan mengadakan kunjungan atau perjamuan Kudus ke rumah mereka.
Mereka juga pernah bergantian mengantarkan makanan antar warga dan presbiter SP3 gereja, sebelum akhirnya keluarga menyerahkan ke tetangga untuk memasakkan makanan untuk Hans dan Rita.
“Tapi memang anak-anak beliau tidak ada kepedulian sama sekali. Ketiga anak laki-laki beliau jarang sekali berkunjung atau mengajak oma (Bu Rita) dan opa (Pak Hans) tinggal bersama merekam” ujar Dina pada postingan Facebook-nya.
“Kalau emang gak mau di tumpangin sama ibu bapaknya ya berkorban uanglah sedikit,” komen pemilik akun X @mentrioctopus.
“gue menangis lihat bapaknya sampe membusuk hitam dikamar dikelilingin lalat, ya Allah,” komen pemilik akun @mariwpossa miris melihat keadaan jasad Hans.(*)