RADARTUBAN - Sebuah video yang memperlihatkan bentrokan antara anggota Kepolisian dan Brimob di Kota Tual, Maluku, pada Minggu (28/7) mendadak viral di media sosial.
Insiden ini mengakibatkan kepanikan warga setempat akibat suara tembakan yang terdengar berulang kali.
Berdasarkan rekaman video yang beredar, salah satunya yang diunggah akun @magelangzone (28/7), terlihat sejumlah aparat kepolisian berseragam lengkap dan bersenjata berlari menuju suatu lokasi.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara tembakan berulang kali. Beberapa orang berseragam hitam dan cokelat, serta sejumlah warga sipil juga terlihat berlari ke arah yang sama.
Video tersebut sontak memancing beragam komentar dari warganet. Mereka sangat menyayangkan kejadian tersebut. Salah satunya komentar akun instagram @perjuangnozzel (28/7). “Gini Amat NKRI,” ungkapnya.
Komentar serupa juga dilayangkan oleh akun @dracan_setiawan (28/7), “ko ngene Indonesia kok arep maju,” tulisnya yang kurang lebih dalam bahasa Indonesia artinya “kok seperti ini Indonesia bagaimana mau maju”
Komentar julid juga disampaikan oleh warganet, salah satunya akun @wizzkas. “Jangan sok memandang buruk pelajar yang pada suka ribut wahh, yang harusnya jadi pengayom masyarakat aja kya gitu,” tulisnya di kolom komentar Minggu, (28/7).
“Etdah malah pada tawuran, kek pelajar aje,” tulis akun @labib1752 (28/7).
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, "Iya dengar bunyi senjata berulangkali. Saya tidak tahu kenapa? Tapi warga semua lari menyelamatkan diri." Warga tersebut juga menyebutkan bahwa sehari sebelumnya telah terjadi keributan antara polisi dan Brimob, dikutip dari timesmaluku.com Senin (29/7).
Kepala Desa Tar Dullah Selatan, Kota Tual, Carles Tarenten, menyesalkan insiden tersebut.
"Ini sebuah tindakan yang berlebihan. Harusnya aparat keamanan itu menjaga keamanan masyarakat. Kami minta Kapolda dan Kapolri segera menarik Brimob Resimen III BKO dari Kota Tual, supaya Kota Tual lebih stabil," kata Taranten.
Tarenten menambahkan bahwa insiden serupa pernah terjadi sebelumnya antara aparat keamanan dan masyarakat sipil.
"Jika ini tidak ditarik, aksi warga besar-besaran akan dilakukan di kantor Walikota Tual, dan Polres agar tuntutan warga di dengar,'' kata petinggi desa tersebut.
Dikutip dari berbagai sumber, insiden ini bermula dari penganiayaan terhadap personel Polres Tual yang sedang bertugas di lapangan oleh sekelompok personel Brimob BKO Resimen Pas 3 Pelopor pada Jumat (26/7) sekitar pukul 23.40 WIT.
Korban penganiayaan termasuk Brigpol BI, Briptu Muhamad S. Rumles, dan Bripda Clif Sprendo Demny.
Kronologi kejadian dimulai sekitar pukul 23.00 WIT saat personel Polres Tual melaksanakan apel KRYD (Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan) dan razia kendaraan di depan Pos SS.
Sekitar pukul 23.40 WIT, sebuah motor CRF 150 dengan knalpot racing melintas dan pengendaranya mengeluarkan kata-kata makian kepada polisi lalu lintas yang sedang berjaga.
Tidak lama kemudian, sekelompok pengendara motor berjumlah sekitar 30 orang menghampiri personel yang sedang melaksanakan KRYD. "Letsoin mana, Letsoin mana," teriak salah satu orang dari kelompok itu yang kemudian melakukan penganiayaan terhadap personel SatLantas Polres Tual.
Diduga, penganiayaan ini dipicu oleh penahanan kendaraan pribadi salah satu anggota Brimob oleh Satlantas Polres Tual saat operasi Patuh Salawaku 2024 karena menggunakan knalpot racing.
Kapolres Tual AKBP Adrian telah memerintahkan seluruh personel yang melaksanakan kegiatan KRYD untuk kembali ke markas komando guna melakukan pengecekan dan koordinasi terkait insiden tersebut.
Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden ini. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama