Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Viral Dokter Muda Bunuh Diri Akibat Bullying, Warganet Singgung Perundungan di Lingkungan Dokter

Wastiana • Kamis, 15 Agustus 2024 | 22:28 WIB

 

Ilustrasi dokter Undip yang meninggal bunuh diri dengan menyuntiikan diri sendiri.
Ilustrasi dokter Undip yang meninggal bunuh diri dengan menyuntiikan diri sendiri.

RADARTUBAN – Berita meninggalnya seorang dokter muda RSUD Kardinah Tegal yang tengah mengikuti PPDS Anestensi Undip Semarang karena bunuh diri menjadi kabar duka untuk dunia kesehatan. Kasus ini seakan kembali membuka dunia perundungan di dunia kesehatan yang dulu pernah ramai dibahas.

Korban yang merupakan dokter bunuh diri dengan cara menyuntikkan obat ke dalam tubuhnya sendiri. Indikasi sebab bunuh dirinya korban dikarenakan tidak kuat menahan bullying yang diterimanya selama mengikuti PPDS Anestesi.

Berita tersebut secara langsung lantas menjadi pertanyaan besar bagi publik. Sekelas lingkungan dokter yang notabenya diisi oleh orang-orang cerdas dan berpendidikan tinggi juga terdapat bullying hingga memakan korban jiwa.

Menilik cuitan @VTarawan79494 yang diunggah pada Rabu (14/08) malam, melampirkan tangkapan layar ruang chat berisi aturan PPDS Anestensi Undip memancing berbagai komentar heran dari publik.

Aturan tersebut yang dibuat oleh sesama mahasiswa itu menerangkan bahwa pada intinya junior harus selalu tunduk dengan perintah senior.

Beberapa aturan-aturan tersebut diantaranya sebagai berikut.
Pasal Anestesi :
1. Senior selalu benar
2. Bila senior salah kembali pasal 1
3. Hanya ada kata ya dan siap
4. Yang enak hanya untuk senior
5. Bila junior dikasih enak tanya kenapa
6. Jangan pernah mengeluh karena semua pernah mengalami
7. Jika masih mengeluh, siapa suruh masuk anestesi

Larangan di Anestesi :
1. Berkelahi
2. Selingkuh
3. Narkoba

Selain itu, potongan tangkapan layar tersebut juga menjelaskan bahwa telepon mahasiswa harus online 24 jam. Segala bentuk chat dan telepon harus segera mendapatkan respons. Bahkan semester 0 hanya diperbolehkan berbicara dengan semester 1 dan dilarang berbicara dengan semester di atasnya.

Aturan-aturan tersebut tentu dianggap tidak masuk akal dan langsung menuai kontroversi dari berbagai kalangan publik. Poin-poin di atas dianggap kuno dan tidak ada keuntungannya sama sekali.

Seperti halnya yang disampaikan @NESVERLAND. “Sembah tuham senior* plis hal kuno gini kenapa masih berlanjut si, apa keuntungannya buat di “SENIOR”? keren kah atau bisa jadi duit kah?” tulisnya heran.

Komentar serupa juga dilayangkan @jejeasp. “Biar apa sih kaya gini tu? Umur udah dewasa ngapain masih seniooritas kaya gini? Merasa udah yang paling top kah di dunia ini?” tambahnya.

Hingga saat ini publik hanya bisa menanti kelanjutan tindak lanjut dari pihak instansi terkait. Mengingat dari dalam lembaganya sendiri secara tidak langsung telah memakan korban jiwa.

Kejelasan aturan-aturan tidak formal seperti yang telah dijelaskan di atas juga harus diklarifikasi kejelasan dan kebenarannya. Serta harus ditindaklanjuti secara tegas jika terbukti kebenarannya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#undip #menyuntikkan obat #publik #ppds #dokter bunuh diri #Anestesi