Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Waspada Grooming, Agar Skandal Link Video Mesum Gorontalo Tak Lagi Terulang

Mohammad Mukarom • Sabtu, 5 Oktober 2024 | 01:45 WIB
Ilustrasi grooming.
Ilustrasi grooming.

RADARTUBAN - Aksi pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum guru terhadap murid seperti link video mesum Gorontalo belakangan heboh, terlebih kasus skandal itu terjadi di lingkungan pendidikan.

Fenomena ini memicu perbincangan mengenai praktik "grooming", atau sebuah istilah modus pelecehan yang sering kali tidak disadari oleh korban maupun masyarakat luas.

Lalu, apa itu grooming, bagaimana modusnya, dan siapa saja yang rawan jadi mangsa para pelaku grooming? Mari kita simak lebih lanjut!

Apa Itu Grooming?

Grooming adalah sebuah proses manipulatif di mana seorang pelaku berusaha mendekati dan membangun kepercayaan korban, biasanya anak-anak atau remaja, dengan tujuan melakukan pelecehan seksual.

Grooming sering dilakukan secara bertahap dan sistematis, di mana pelaku berusaha menanamkan rasa aman dan ketergantungan pada korban agar dapat lebih mudah mengendalikan mereka.

Dalam kasus di Gorontalo, pelaku yang merupakan seorang guru, menggunakan posisinya untuk mendekati murid dan melancarkan aksinya. Vidio persetubuhan mereka tersebar di banyak kanal media.

Modus Grooming: Bagaimana Pelaku Menjerat Korban?

Modus grooming umumnya dimulai dengan pelaku mendekati calon korban dan mencoba menciptakan hubungan yang akrab. Ada beberapa tahapan dalam modus grooming, jika kamu mendapatinya, segeralah minta pertolongan ke orang lain.

1. Membangun Kepercayaan
Pelaku akan membangun kedekatan dengan korban melalui berbagai cara, seperti memberikan perhatian khusus, pujian, atau hadiah.

Oknum guru di Gorontalo misalnya, menggunakan cara-cara seperti memberikan perhatian khusus kepada korban dan dijanjikan gratis biaya bulanan sekolah.

2. Memisahkan Korban dari Orang Lain
Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku akan berusaha memisahkan korban dari lingkungannya, termasuk teman dan keluarga.

Hal ini dapat dilakukan secara fisik, seperti meminta korban untuk datang ke ruangannya sendirian, atau secara emosional, dengan menanamkan ketergantungan pada pelaku.

3. Normalisasi Kontak Fisik
Pelaku kemudian mulai menormalisasi kontak fisik dengan cara yang terlihat tidak mencurigakan, misalnya memeluk atau menyentuh secara halus. Lama-kelamaan, intensitas sentuhan ini dapat meningkat dan mengarah pada pelecehan seksual.

4. Manipulasi dan Ancaman
Jika korban mulai merasa curiga atau ingin melawan, pelaku tidak segan untuk menggunakan manipulasi, ancaman, atau rasa bersalah untuk menjaga korban tetap dalam kendali.

Ancaman bisa berupa visual, misalnya mencabut janji-janji yang sudah diberikan kepada korban atau menakut-nakuti akan menyebarkan aib ke publik. Selain itu, pelaku memungkinkan menggunakan ancaman fisik.

Siapa yang Jadi Sasaran Grooming?

Korban grooming paling umum adalah anak-anak dan remaja. Kelompok ini dianggap rentan karena keterbatasan pemahaman dan pengalaman mereka terhadap situasi yang dapat membahayakan.

Selain itu, korban yang kurang mendapat perhatian di rumah, memiliki masalah emosional, atau sedikit percaya diri cenderung lebih rentan menjadi sasaran grooming.

Pelaku grooming bisa dengan mudah mendeteksi kerentanan ini dan mengeksploitasinya untuk membentuk hubungan yang manipulatif.

Dalam kasus skandal di Gorontalo, korban yang dikabarkan merupakan anak yatim itu dimanfaatkan oleh pelaku berinisial DH, 57, sebagai celah melakukan grooming.

Diketahui, korban adalah siswi di sebuah SMA Negeri di Gorontalo. Ia dikenal sebagai anak berprestasi di kelas. Sayangnya, keadaan korban justru dipandang sebagai pintu masuk untuk melancarkan aksi bejat DH.

Kasus pelecehan seksual oleh oknum guru di Gorontalo harus menjadi peringatan untuk lebih waspada terhadap praktik grooming. Modus licik ini dapat menimpa siapa saja, terutama mereka yang paling rentan.

Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai grooming, kita bisa melindungi anak-anak dan remaja dari manipulasi pelaku yang berusaha menghancurkan masa depan mereka. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#pelecehan #Link video mesum Gorontalo #grooming