Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

AHY Raih Gelar Doktor di Unair, Inilah yang Dibahas Pada Disertasinya

Nadia Nafifin • Selasa, 8 Oktober 2024 | 12:00 WIB
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) AHY telah selesai menjalani ujian doktor.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) AHY telah selesai menjalani ujian doktor.

RADARTUBAN - Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) telah selesai menjalani ujian doktor terbuka pada program studi Pengembangan Sumber Daya Manusia di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jawa Timur, Senin (7/10).

Ketua Umum Partai Demokrat tersebut mengangkat isu soal cita-cita bangsa Indonesia mencapai Indonesia Emas 2045. Dengan disertasinya berjudul "Transformational Leadership and Human Resources Orchestration towards Indonesia Emas 2045".

"Berdasarkan data tahun 2023, setiap pemimpin memiliki kekuatannya masing-masing. Mari kita beri apresiasi pada presiden kita. Namun, ada tantangan lain seperti demokrasi dan sistem politik kita. Untuk mengelola peluang tersebut, peneliti ini berfokus pada transformasi ekonomi dan merujuk pada teori pengelolaan sumber daya manusia. Teori ini diaplikasikan pada analisis tingkat negara," ujar AHY, dikutip dari detik.com

"Disertasi ini merumuskan sembilan pertanyaan penelitian yang akan dipublikasikan. Skema penelitian ini bertujuan pertama, untuk mendorong kontribusi ilmiah yang lebih kredibel, kedua meningkatkan portofolio akademis dan ketiga, memudahkan diseminasi ide," jelasnya.

AHY menyampaikan juga terdapat empat paper penelitian yang menyinggung adanya ketidaksesuaian SDM saat industri membutuhkan tenaga ahli.

Pada paper 1, AHY mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terwujudnya transformasi ekonomi, seperti kepemimpinan, kapasitas sumber daya manusia, tata kelola pemerintahan, sektor industri, lalu posisi global hingga ekonomi hijau.

Sedangkan dalam paper 2, AHY menemukan adanya kesenjangan antara program studi dan kebutuhan industri.

Menurutnya, ada ketidaksesuaian saat industri membutuhkan tenaga ahli, termasuk bidang manajemen dan informatika.

Sebagai contoh, di Kalimantan yang memiliki potensi tambang dan hutan, justru program studi didominasi oleh teknik nontambang.

Sedangkan di Sulawesi, NTB, dan NTT yang memiliki potensi besar di sektor agrikultur, perikanan, kehutanan, dan peternakan, program studi didominasi oleh bidang kesehatan dan pendidikan.

Lalu dalam paper 3, AHY menemukan ketidakselarasan antara tema prioritas penelitian secara nasional dengan penelitian yang dilakukan oleh akademisi.

Misalnya, kontribusi penelitian terhadap PDB di sektor manufaktur yang mencapai 19,85 persen dari PDB, namun publikasi akademik terkait hanya sekitar 7,80 persen.

Selain itu, dampaknya juga rendah dengan FWCI (Field-Weighted Citation Impact) sekitar 0,57 persen.

AHY juga menemukan rendahnya R&D investment, yang hanya sekitar 0,28 persen dari PDB selama 10 tahun terakhir.

Data yang ada, Indonesia jauh tertinggal dibandingkan Singapura (2,16 persen), Tiongkok (2,43 persen), dan Korea Selatan (4,93 persen). Untuk itu, perlu dilakukan kalibrasi ulang agar riset lebih mendukung pembangunan ekonomi.

Sementara dalam paper 4, AHY menunjukkan percepatan ekonomi memerlukan penguatan dimensi industri tersier sebagai prioritas nasional (39,6 persen), dengan sub-dimensi digital (8,9 persen).

Intinya, sektor industri tersier, primer, dan sekunder harus dialokasikan secara tepat untuk mewujudkan transformasi ekonomi.

"Penelitian ini memperkuat pelaksanaan UU No. 59 Tahun 2004 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)," ujarnya.

Ketum Partai Demokrat ini juga menyampaikan kesimpulan dari isu yang diangkat dalam penelitiannya, salah satunya dibutuhkan kepemimpinan transformasional untuk mengorkestrasi sumber daya manusia demi terwujudnya Indonesia Emas 2045.

"Kesimpulannya, kunci transformasi ekonomi terletak pada kepemimpinan yang efektif, kapasitas sumber daya manusia, serta tata kelola yang mendukung inovasi dan daya saing tinggi," bebernya.

Lalu, yang kedua, terdapat ketidaksesuaian antara program studi yang berkembang di dunia pendidikan nasional dengan kebutuhan sektor industri, di mana bidang studi non-STEM lebih dominan.

Sedangkan yang ketiga, terdapat ketidakselarasan antara output penelitian yang dihasilkan oleh dunia pendidikan dengan prioritas penelitian nasional, yang bertujuan menunjang transformasi ekonomi dan meningkatkan daya saing global.

"Yang keempat, untuk keluar dari jebakan middle-income trap, Indonesia perlu mengorkestrasi sektor prioritas ekonomi strategis dengan penguatan utama melalui peningkatan produktivitas dan eksploitasi sumber daya lokal. Dan yang kelima, dibutuhkan kepemimpinan transformasional untuk mengorkestrasi sumber daya manusia, terutama melalui sektor pendidikan dan pembangunan masyarakat kita," pungkas AHY. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#universitas airlangga (unair) #Ujian Doktor #Agus Harimurti Yudhoyono