RADARTUBAN - Kebakaran terjadi di pabrik asam sulfat smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik pada Senin (14/10) sore.
Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Katri Krisnati, VP Corporate Communication PTFI, api mulai membakar area pabrik sekitar pukul 17.45 WIB.
Tim tanggap darurat PTFI bergerak cepat untuk menangani kejadian tersebut dan berhasil memadamkan api tidak lama setelah kebakaran terjadi.
"Keselamatan para karyawan merupakan prioritas kami," ujar Katri dalam keterangan resminya pada Senin sore.
Katri juga menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, dan pihaknya sedang melakukan penilaian lebih lanjut terkait dampak dari insiden tersebut.
Kebakaran ini menambah daftar tantangan bagi PTFI, yang baru saja mempercepat aktivitas operasional smelter mereka di KEK Gresik. Pihak perusahaan berkomitmen untuk terus menjaga keselamatan dan keberlangsungan operasional di lokasi pabrik setelah kejadian ini.
Sementara itu, diketahui kebakaran tersebut terjadi di tengah kabar aksi ribuan massa yang protes terhadap smelter.
Diketahui, warga Pulau Mengare, Gresik, Jawa Timur berencana melakukan aksi demonstrasi damai di sekitar pelabuhan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE pada Selasa (15/10).
Aksi ini dilatarbelakangi oleh keluhan minimnya lowongan pekerjaan, terutama di PT Freeport Indonesia (PTFI) dan di kawasan industri JIIPE secara umum.
Berdasarkan surat pemberitahuan yang telah disampaikan kepada Polsek Bungah, aksi tersebut akan diikuti oleh 1.000 warga dan berlangsung dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Para demonstran akan membawa bendera, poster, dan spanduk sebagai alat peraga.
"Sehubungan dengan minimnya lowongan pekerjaan di PTFI khususnya dan perusahaan di kawasan JIIPE pada umumnya, kami akan melakukan aksi demonstrasi damai," demikian tertulis dalam surat yang dikutip pada Senin (14/10).
Kapasitas Serapan Tenaga Kerja di Smelter Freeport
Dalam keterangannya, Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI, mengungkapkan bahwa smelter katoda tembaga baru di KEK JIIPE akan menyerap hingga 2.000 tenaga kerja ketika beroperasi penuh.
"Saat operasi penuh, kami akan mempekerjakan 2.000 orang, terdiri dari 1.200 karyawan kontraktor dan 800 karyawan langsung PTFI," ujar Tony.
Tony juga menyebutkan bahwa selama masa konstruksi smelter, perusahaan telah mempekerjakan 40.000 tenaga kerja kumulatif. Namun, warga setempat merasa belum mendapatkan kesempatan kerja yang cukup dan menuntut pemerataan lapangan pekerjaan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama