RADARTUBAN – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi (Wamen Dikti) Prof Stella Christie PhD menyatakan prihatin terhadap mahasiswa terkait kenaikan uang kuliah tunggal (UKT) yang menambah beban keuangan mereka.
Stella mengatakan saat ini besaran UKT ditetapkan berdasarkan latar belakang ekonomi mahsiswa, namun masih terdapat rasa keberatan dari mahasiswa terhadap besaran biaya yang dihitung berdasarakan latar belakang keuangan tersebut.
Dia menilai adanya rasa keberatan terhadap kenaikan UKT bisa terjadi karena mahasiswa merasa bahwa biaya pendidikan yang dikeluarakan tidak sebanding dengan kualitas pendidikan yang diperoleh.
"Angka itu relatif. Saya yakin kalau para mahasiswa itu merasa bahwa yang mereka dapatkan dari pelajaran di universitas, di pendidikan tinggi itu adalah sesuatu yang sangat berkualitas, dengan angka yang sementara saya tahu itu sliding scale dari sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 7,5 juta, itu masih bisa diterima," kata Stella dikutip dari detikedu.
Stella juga menegasakan perbaikan kualitas pendidikan di perguruan tinggi di Indonesia masih menjadi PR. Perbaikan pendidikan ini harus dilakukan agar mahasiswa mendapatkan pendidikan yang sebanding dengan biaya yang mereka keluarkan.
"Tetapi kembali, pertanyaannya, mungkin mahasiswa merasa bahwa kualitas yang didapatkan itu belum sebanding dengan investasi yang mereka tanamkan dari segi finansial. Nah itu PR kita bersama, bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas pendidikan tinggi kita, kualitas universitas kita," sambungnya.
Menurut hasil penelitian, stella menilai akses pendidikan dasar dan menengahdi Indonesia sudah sangat baik. Namun kualitas pendidkan pada jenjang dasar, menengah dan tinggi masih menjadi PR yang perlu diatasi.
Oleh karena itu perlunya kerja sama dari berbgaia pihak untuk membenahi kualitas pendidikan di Indonesia.
Stella juga menggaris bawahi pernyataan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) yang menyoroti status akreditasi perguruan tinggi di Indonesia, dimana masih banyak yang belum mencapai akreditasi Unggul. Kondisi ini mengakibatkan sebagian mahasiswa lebih memilih melanjutkan studi ke luar negeri. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama