RADARTUBAN - Ni Luh Enik Ernawati menegaskan bahwa Hari Sumpah Pemuda menyimpan nilai-nilai kemandirian dan kreativitas yang sangat relevan di era modern, terutama dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (Ekraf).
“Nilai-nilai dari Sumpah Pemuda harus menjadi dorongan untuk terus mandiri dan inovatif dalam mengembangkan potensi bangsa,” ujarnya Senin (28/10).
Wakil Menteri (Wamen) Pariwisata tersebut menilai semangat Sumpah Pemuda masih sangat relevan, bukan sekadar sejarah, melainkan simbol persatuan dan komitmen bersama untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
“Sumpah Pemuda menjadi landasan bagi kemajuan bangsa,” katanya.
Sumpah Pemuda, yang dideklarasikan pada 28 Oktober 1928, merupakan tonggak penting dalam perjuangan melawan kolonialisme.
Semangat juang yang membara di kalangan pemuda Indonesia saat itu menginspirasi gerakan kemerdekaan yang berhasil dicapai pada 17 Agustus 1945.
Hingga kini, momen bersejarah ini tetap menjadi pengingat akan perjuangan panjang bangsa dalam meraih kemerdekaan dan menegakkan identitas nasional.
Di tengah tantangan global saat ini, perempuan yang dikenal dengan nama Ni Luh Puspa ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas budaya dan inovasi yang tetap berpegang pada lokalitas bangsa.
“Pemuda saat ini perlu menyadari pentingnya kolaborasi lintas budaya dan inovasi untuk mengatasi tantangan global,” jelasnya.
Ni Luh juga menyoroti kontribusi pemuda dalam memajukan pariwisata berkelanjutan. Menurut data terbaru, sektor pariwisata berkontribusi sebesar 3,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2023.
Pihaknya menekankan pentingnya inisiatif pemuda melalui program-program seperti Desa Wisata dan Beli Kreatif Lokal, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan komunitas daerah.
Melalui program-program ini, pemuda diharapkan dapat menjadi penggerak utama dalam menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan pariwisata yang inklusif.
Di Hari Sumpah Pemuda, Ni Luh mengajak generasi muda untuk aktif berkontribusi dalam pembangunan pariwisata yang memberikan dampak positif baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
“Mari kita gunakan semangat Sumpah Pemuda untuk terus berinovasi dan berkolaborasi demi pariwisata yang maju dan bermanfaat bagi masyarakat,” tutupnya.
Latar belakang Ni Luh yang berasal dari keluarga sederhana dan perjalanannya hingga menduduki jabatan penting di pemerintahan, setidaknya bisa menginspirasi para generasi muda.
Dilahirkan di Buleleng, Bali, pada 18 November 1986. Ia menghabiskan masa remaja untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga, sales keliling, dan cleaning service demi membiayai pendidikannya.
Setelah menyelesaikan sekolah di STIE Nobel Indonesia Makassar pada tahun 2016, kariernya berlanjut sebagai jurnalis di media radio dan televisi lokal, sebelum akhirnya masuk dalam Kabinet Merah Putih. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama