RADARTUBAN - Sutradara asal Batam Indonesia Mike Wiluan garap film Orang Ikan yang tayang di Tokyo International Film Festival (IFF) ke-37 pada Rabu (30/10) dan Minggu (3/11) mendatang.
Karya kolaborasi ahli perfilman dari Indonesia, Singapura, Jepang, dan Inggris tersebut mengambil latar waktu Perang Dunia II pada 1942.
Film yang dibintangi oleh Dean Fujioka dan Callum Woodhouse tersebut menceritakan tentang seorang tentara Jepang bernama Satio dan tawanan perang Inggris bernama Bronson yang terdampar di pulau terpencil karena kapal yang mereka tumpangi ditorpedo.
Meski bermusuhan, mereka harus bersatu melawan makhluk mengerikan bernama 'Orang Ikan' karena tragedi tersebut.
Memiliki durasi 85 menit, film tersebut menggabungkan kecanggihan teknologi gambar melalui studio dengan keaslian alam indah di Indonesia. Juga dibumbui ketegangan perang dengan kengerian mitos.
Film yang mulai produksi sejak Oktober 2023 di Infinite Studios Batam tersebut mendapatkan dukungan dari Singapore Film Commission (SFC).
Membawa harum nama Indonesia, film tersebut juga diproduseri oleh Eric Khoo, Alexandra Gottardo, Freddie Yeo, Tan Fong Cheng, Suzuki Lancaster Fumie, James Khii dan Darryl Yeo. Adapaun sinematografer adalah Asep Kalila dan Matsumoto Akihiko sebagai pengarah musik.
Selain sebagai sutradara, ternyata Mike Wiluan juga menggeluti dunia penulis dan produser. Berikut ini profil Mike Wiluan yang dirangkum dari berbagai sumber:
Mike Wiluan atau Michael Kristian Wiluan adalah anak kedua dari pasangan Kris Taenar Wiluan dan Elizabeth Wiluan yang merupakan pengusaha asal Batam. Ia lahir pada 1976 di Singapura.
Mike menyukai film sejak kecil. Ia bisa menonton 10 film dalam sehari saat senggang, di sekolah dan terjebak kemacetan Jakarta. Sejak itulah, ia bermimpi ingin membuat film sendiri.
Laki-laki yang menjadi owner dan CEO Infinite Studio dan CEO Nongsa Digital Park tersebut mendapat gelar pendidikan di bidang film dan seni dari Univetsity of Kent, Inggris.
Bapak dari Kaleo Wiluan, Simone Wiluan, dan Naomi Wiluan tersebut memiliki hobi olahraga air dan berlayar yang membuatnya ikut mengorganisir kompetensi berlayar seperti Singapore Straits Regatta dan Clipper, kapal pesiar berkeliling dunia.
Suami dari Laurie Wiluan tersebut pernah dinominasikan sebagai Ketua pada Festival Film Internasional Singapura (SGIFF) dan menjadi penasihat di Polytechnik Singapura dan MDIS’s school Singapura.
Dia juga pernah menjadi anggota penasehat ekonomi pada Kementrian Perdagangan dan Industri Singapura, khususnya industri media.
Mike Wiluan beberapa kali menjadi pembicara pada berbagai forum media seperti Asia Business Summit, Forum Televisi Asia, Screen Singapore Finance Forum, World Chinese Chamber of Commerce Congress and the ASEAN Film Summit.
Forbes Indonesia memberinya penghargaan sebagai tokoh paling progresif dalam industri media pada tahun 2014. Ia juga merupakan Presiden dari kelompok TURI yang beroperasi dan memiliki hotel butik, resor dan kawasan industri di Indonesia.
Mike berkiprah di Infinite Studio yang berlokasi di Turi Beach Resort, Jalan Hang Lekiu, Nongsa Pulau Batam yang berada di bawah bendera PT Kinema Systrans Multimedia.
PT tersebut menempati peringkat 7 dari 20 perusahaan dari Forbes Indonesia, sebagai Rising Global Star tahun 2015 atau perusahaan pendatang baru yang memiliki brand mendunia. Japan Times menempatkannya sebagai salah satu dari 100 Next Era Leaders in Asia tahun 2016 – 2017.
Studio yang mirip dapur produksi film Hollywood tersebut menjadi pemain utama dalam industri animasi di Asia Tenggara yang memperkerjakan puluhan anak-anak muda kreatif dan ratusan artis.
Studio tersebut juga membuat animasi sekelas Garfield Show dan Meraih Mimpi. Selain studio film, juga ada lokasi pembuatan film outdoor (blacklot) dan film wild west.
Karya-karya Mike Wiluan
Berikut ini karya-karya Mike Wiluan:
1. Sing to the Dawn (film animasi berbahasa Inggris pertama di Asia Tenggara).
2. My Magic dan Be With Me (tampil di Festival Film Cannes).
3. 881 (salah satu film terlaris di Singapura sepanjang masa).
4. 12 Lotus.
5. Sing to The Dawn dan live shoot Dead Mine.
6. Serangoon Road.
7. Dead Mine (menembus pasar internasional seperti Australia, Singapura)
8. Gorylah Pictures.
9. The Mo Brothers.
10. Tatsumi.
11. Joker Game (film Jepang terlaris pada tahun 2014).
12. Losmen Melati.
Salah satu proyek yang digarap adalah flm animasi Si Unyil Anak Indonesia yang dikerjakan dengan computer grafis dan dikemas dalam bentuk animasi tiga dimensi. Kualitasnya jauh lebih bagus dari Upin Ipin dua dimensi dari Malaysia. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama