Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Begini Analisa Keuangan Global yang Terjadi Sebulan Pasca Prabowo Menjabat dan Dampaknya Bagi Indonesia

Bihan Mokodompit • Senin, 18 November 2024 | 22:10 WIB
Ilustrasi keuangan.
Ilustrasi keuangan.

RADARTUBAN - Tepat pada 20 Oktober 2024, Prabowo Subianto resmi mengemban tugas sebagai Presiden Republik Indonesia bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Namun, tekanan ekonomi langsung menghantam Indonesia, membuat pergerakan pasar keuangan domestik tampak lesu.

Tekanan ini tidak datang tanpa sebab. Sentimen negatif dari Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor yang memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia.

Dalam artikel ini, kita akan mengupas empat poin utama yang menggambarkan bagaimana tantangan global telah berdampak buruk pada kondisi ekonomi Indonesia.


1. Kenaikan Indeks Dolar AS (DXY): Mengapa Ini Jadi Masalah?

Indeks Dolar AS (DXY) menjadi perhatian utama karena merupakan indikator kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya. Pada Jumat (15/11/2024), DXY tercatat naik 0,14% ke level 106,82. Kenaikan ini terbilang signifikan dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di angka 106,67.

Apa pengaruhnya?
Ketika DXY menguat, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung melemah. Hal ini membuat impor menjadi lebih mahal dan memicu inflasi. Kondisi ini turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan domestik tampak lesu.

Bagi Indonesia, situasi ini menciptakan tantangan besar bagi pemerintahan Prabowo. Belum Ada Satu Bulan, Presiden Prabowo sudah harus menghadapi dampak negatif dari kebijakan moneter global. Langkah selanjutnya yang diambil pemerintah untuk menjaga stabilitas rupiah akan menjadi ujian pertama di periode kepemimpinan ini.

 

2. Lonjakan Imbal Hasil US Treasury (UST10Y)

Selain DXY, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun juga menjadi indikator yang sangat diperhatikan oleh pelaku pasar. Pada hari yang sama, imbal hasil ini melonjak ke angka 4,463%, level tertinggi dalam empat bulan terakhir sejak Juli 2024.

Mengapa lonjakan ini menjadi ancaman?

Kenaikan yield US Treasury biasanya menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap ekonomi AS. Namun, bagi negara lain seperti Indonesia, hal ini memicu aliran modal keluar karena investor lebih tertarik berinvestasi di aset berbasis dolar.

Bagi pemerintahan Prabowo-Gibran, situasi ini memperburuk kondisi keuangan domestik. Saat pergerakan pasar keuangan domestik tampak lesu, diperlukan kebijakan yang mampu menahan arus modal keluar. Sayangnya, belum ada satu bulan masa jabatan, cobaan ini sudah menjadi kenyataan pahit bagi Presiden Prabowo.

 

3. Pidato The Fed: Sinyal Perlambatan Pemangkasan Suku Bunga

Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam pidatonya menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi AS sangat kuat, bahkan menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Akibatnya, The Fed mengisyaratkan perlambatan dalam pemangkasan suku bunga.

Apa hubungannya dengan Indonesia?
Kebijakan suku bunga tinggi di AS membuat pasar global lebih tergantung pada dolar, sehingga negara-negara berkembang seperti Indonesia harus beradaptasi dengan biaya utang yang lebih tinggi. Ini menjadi tantangan tambahan bagi pemerintah Prabowo untuk menjaga ekonomi tetap stabil.

Selain itu, pidato ini memberikan tekanan psikologis pada pasar keuangan domestik. Prabowo sudah dapat cobaan besar untuk menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha lokal, yang mungkin merasa pesimis terhadap prospek ekonomi jangka pendek.

 

4. Nilai Tukar Rupiah: Terus Melemah

Rupiah mencatatkan tren melemah sejak akhir September hingga pertengahan November 2024. Pada 27 September, nilai tukar rupiah masih berada di Rp15.120 per dolar AS. Namun, pada 14 November, rupiah merosot hingga Rp15.850 per dolar AS, atau melemah sebesar 4,82%.

Dampaknya jelas terasa di berbagai sektor:
- Kenaikan harga barang impor: Dari kebutuhan pokok hingga bahan baku industri, semuanya menjadi lebih mahal.
- Tekanan inflasi: Melemahnya rupiah mendorong biaya hidup masyarakat semakin tinggi.
- Lesunya investasi asing: Ketidakpastian nilai tukar membuat investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal.

Dengan kondisi ini, tidak heran jika pergerakan pasar keuangan domestik tampak lesu. Pemerintahan Prabowo harus segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi depresiasi rupiah. Namun, mengingat belum ada satu bulan sejak ia dilantik, tugas ini menjadi beban yang cukup berat.

 

Belum Ada Satu Bulan Menjabat, Prabowo Sudah Dapat Cobaan besar dari pasar keuangan global. Empat tekanan utama—kenaikan DXY, lonjakan imbal hasil US Treasury, pidato The Fed, dan pelemahan rupiah—telah membuat pergerakan pasar keuangan domestik tampak lesu.

Meski tantangan ini terasa berat, pemerintah memiliki peluang untuk membuktikan kemampuan mereka dalam mengelola krisis. Jika langkah-langkah strategis diambil dengan tepat, Indonesia bisa kembali bangkit dan menguat di tengah tekanan global.


Dengan begitu, meski Prabowo sudah dapat cobaan, masyarakat Indonesia tetap menaruh harapan besar pada kepemimpinannya untuk membawa negeri ini keluar dari kesulitan ekonomi. (*)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#dolar as #ekonomi #sentimen negatif #gibran rakabuming raka #prabowo subianto