RADARTUBAN – Sering mengalami beberapa hal yang tidak menyenangkan? Mungkin saja ada karma leluhur atau jika dalam psikologi disebut dengan trauma antar generasi yang masih menurun di kehidupanmu yang sekarang.
Karma leluhur merupakan karma yang diturunkan nenek moyang berupa pola-pola negative (kesialan) yang terjadi secara berulang atau turun-menurun.
Menurut buku Karma karya Sadghuru, karma dapat terjadi dari pola pikir yang tertanam dalam pikiran bawah sadar. Jika pola pikir seseorang mengandung trauma yang sangat mendalam, maka hal tersebut dapat menarik frekuensi hal-hal buruk bahkan kejahatan dalam kehidupan.
Menurut Lia Lestari, seorang hypnoterapis melalui akun Instagramnya @lia_lestari29, karma leluhur dapat diturunkan pada generasi berikutnya karena pola pikir negative tersebut belum tuntas ketika nenek moyang meninggal dunia, sehingga karma tersebut tertanam dalam DNA mereka.
Saat mereka memiliki anak, DNA yang mengandung memori karma leluhur akan ikut terlahir pada tubuh anak tersebut. Sehingga anak tersebut secara bawah sadar akan mengulang gaya hidup, pola pikir dan karma yang sama dengan nenek moyangnya. Peristiwa tersebut juga rentan akan terjadi pada generasi-generasi berikutnya.
Berikut ini 8 jenis karma leluhur yang paling banyak terjadi di Indonesia menurut Lia Lestari:
1. Perselingkuhan
Pada kasus perselingkuhan yang banyak terjadi, ada yang namanya ikatan trauma (trauma bond) yang terdeteksi pada seseorang yang berselingkuh. Ketika anak sering melihat ayah atau ibunya berselingkuh, pikiran bawah sadarnya menjadi terlanjur melekat dengan pola tersebut.
Akibatnya, perilaku si anak dapat terpengaruh dengan pikiran bawah sadar terkait perselingkuhan. Entah menjadi seseorang yang berselingkuh, menjadi selingkuhan atau diselingkuhi.
2. Perceraian Berulang
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, faktor utama percerain karena pertengkaran terus menerus, bukan perselingkuhan. Sedangkan penyebab kedua karena ekonomi dan finansial. Disusul dengan perselingkuhan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), poligami, dan lain sebagainya.
Pertengkaran terus menerus dan finansial dapat terjadi karena tidak adanya kesetaraan pemikiran, visi-misi, kecerdasan emosional, kecocokan karakter, dan kesetaraan finansial. Hal tersebut dapat terjadi karena pernikahan hanya didasari “mumpung ada yang diajak nikah atau mumpung ada yang dinikahi” tanpa memikirkan risiko-risiko yang akan dihadapi.
Pertengkaran terus menerus terjadi dari obrolan yang tidak nyambung, komunikasi sulit, salah paham yang sering terjadi, merasa saling tersakiti dan tidak dipahami yang menyebabkan kelelahan batin dan berujung pada perceraian.
Sedangkan masalah finansial bisa dipicu dari kurang terbukanya kedua calon pasangan sebelum menikah terkait kondisi ekonomi masing-masing karena masih dianggap tabu dalam masyarakat. Banyak perempuan yang kurang memerhatikan kondisi pasangannya yang belum mapan dan dewasa. Akibatnya, setelah menikah Perempuan dituntut membantu menopang perekonomian dan merasa dieksploitasi lalu terjadilah perceraian.
3. KDRT Berulang
KDRT tidak hanya kekerasan fisik, tapi juga melingkupi kekerasan verbal, finansial, dan psikologi. Para orang tua sering kali menurunkan KDRT yang dialaminya kepada anaknya, seperti membentak, memaksa, berteriak, selalu menyalahkan anak padahal orang tua yang bersalah, terlalu menyetir kehidupan anak, sampai menanamkan pemikiran bahwa anak berhutang budi kepada orang tua.
Hal-hal tersebut akhirnya memicu sandwich generation, di mana anak dituntut menanggung finansial tiga generasi. Yakni mengurus pasangannya, anaknya dan orang tuanya.
4. Toxic Parenting
Toxic parenting merupakan hubungan orang tua dan anak yang mengacu pada perilaku negatif. Orang tua yang toxic adalah orang yang mengalami traumatik. Mereka menjadi toxic terhadap anaknya karena mereka juga tumbuh dan dibesarkan oleh perilaku-perilaku negatif dari lingkungan sekitar, seperti caci maki, hinaan, dibandingkan, terlalu dituntut, disiksa dan lain-lain.
Sering kali orang tua tidak menyadari bahwa ucapan kasar dan kekerasan yang dilakukan kepada anak merupakan bentuk proyeksi trauma dari masa kecilnya.
5. Hubungan Tidak Sehat
Jika banyak pasangan dalam sebuah keluarga terjebak dalam hubungan toxic, hal ini dapat mengindikasikan adanya trauma lintas generasi yang membutuhkan pemulihan. Hubungan toxic antara suami dan istri berisiko berkembang menjadi pola parenting yang toxic terhadap anak.
Ketika orang tua tidak bahagia dalam pernikahan, tekanan emosional yang mereka alami menumpuk di alam bawah sadar, maka akan menciptakan energi negatif dalam diri. Energi negatif ini tidak bisa disimpan terus-menerus dan akhirnya dilepaskan melalui perilaku yang seringkali tanpa disadari.
Meskipun orang tua berusaha terlihat baik di depan anak, energi negatif tetap memengaruhi sikap mereka. Contohnya, seorang ibu yang terluka karena perlakuan buruk bapak mungkin tanpa sadar melampiaskan emosinya dengan membentak anak, mudah tersulut emosi, atau menyalahkan anak atas hal-hal kecil. Ini adalah cara alam bawah sadar melepaskan beban emosi yang berlebihan.
6. Kasus dengan Narsistik
Jika dalam sebuah keluarga banyak anggota yang menjadi korban narsistik atau bahkan memiliki sifat narsistik, hal ini bisa menjadi tanda adanya pola karma leluhur yang perlu disadari.
Seorang anak dapat mengembangkan sifat narsistik akibat pola asuh yang salah. Misalnya, anak yang diabaikan orang tua cenderung mencari validasi secara berlebihan, sementara anak yang terlalu dimanjakan atau dipuji merasa dirinya paling unggul. Pola ini sebenarnya merupakan proyeksi dari toxic parenting, yang berakar pada trauma orang tua. Ketika seorang anak tumbuh menjadi narsistik, sifat ini berpotensi diwariskan ke generasi berikutnya.
Di sisi lain, korban narsistik biasanya adalah empath yang terluka. Hal ini terjadi karena trauma pengasuhan di masa kecil, seperti diabaikan, dikontrol secara berlebihan, atau tidak diberi ruang untuk menjadi diri sendiri.
Akibatnya, mereka tumbuh dengan rendahnya rasa cinta diri, harga diri, dan kemampuan menetapkan batas, sehingga lebih rentan dimanfaatkan atau dimanipulasi orang lain.
7. Kemiskinan Turun Temurun
Kemiskinan dapat diwariskan hingga beberapa generasi. Jika seseorang terlahir dalam keluarga dengan kemiskinan yang terus berulang meskipun telah berusaha keras untuk memperbaiki kondisi finansial, mungkin ada trauma finansial leluhur yang memengaruhi pola tersebut.
Trauma ini perlu disembuhkan terlebih dahulu agar tidak menciptakan trauma bond yang membuat keturunan mengulang siklus yang sama. Dengan menyembuhkan trauma ini, generasi berikutnya dapat membangun pola karma baru yang positif dan lebih mudah keluar dari kemiskinan degeneratif.
8. Penyakit yang Diturunkan
Penyakit yang diwariskan, seperti hipertensi, diabetes, asma, atau kanker, sering dianggap hal biasa karena begitu umum terjadi. Namun, ini sebenarnya merupakan bentuk karma leluhur yang berbahaya. Dari pada mewariskan penyakit, alangkah baiknya jika orang tua berupaya memperbaiki pola hidup dan mewariskan DNA yang lebih sehat kepada anak-anak mereka.
Penyakit degeneratif sering kali tersandikan dalam DNA, diwariskan dari orang tua bersama pola hidup yang menyebabkan penyakit tersebut. Namun, seorang anak dapat memutus siklus ini dengan mengubah DNA yang membawa potensi penyakit menjadi lebih sehat melalui perubahan gaya hidup.
Tidak cukup hanya berharap DNA "menulis ulang" sendiri, anak harus membalik kebiasaan buruk orang tua. Jika orang tua hidup penuh stres, makan sembarangan, dan memiliki pola tidur yang kacau, anak perlu menjalani gaya hidup yang lebih sehat.
Ini mencakup menjaga ketenangan batin, memperhatikan asupan gizi, menghindari konsumsi berlebihan makanan pemicu penyakit, serta memastikan pola tidur teratur.
Selain itu, rutin berolahraga dan berpuasa dapat membantu mencegah potensi penyakit degeneratif aktif kembali. Dengan komitmen pada pola hidup sehat, anak dapat mengatasi risiko penyakit yang diwariskan dan mewariskan DNA yang lebih sehat ke generasi berikutnya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama