RADARTUBAN - Tahun 2024 hampir dipastikan menjadi tahun terpanas dalam sejarah modern. Laporan Copernicus Climate Change Service (C3S) mencatat kenaikan suhu rata-rata global hingga 1,62°C di atas tingkat pra-industri, menandai lonjakan yang sangat mengkhawatirkan.
Dr. Samantha Burgess, Wakil Direktur C3S, menyatakan bahwa 2024 bisa menjadi tahun pertama suhu global melampaui ambang batas 1,5°C.
“Peringatan ini harus menjadi dorongan untuk aksi nyata dalam konferensi COP29,” katanya, mengutip The Guardian pada Jumat (22/11).
Suhu global pada Oktober 2024 tercatat sebagai yang terpanas kedua dalam sejarah, setelah rekor Oktober 2023.
Dalam 16 bulan terakhir, hanya satu bulan yang mencatat suhu di bawah ambang batas 1,5°C, mengindikasikan bahwa pemanasan global semakin sulit dikendalikan.
Selain itu, luas es di Kutub Utara menyusut hingga 19 persen di bawah rata-rata historis pada Oktober. Sementara di Antarktika, luas es juga terendah kedua, turun 8 persen.
Perubahan ini mempercepat kenaikan permukaan laut yang mengancam ekosistem dan kehidupan manusia di wilayah pesisir.
Menurut The Guardian, fenomena cuaca ekstrem semakin sering terjadi akibat pemanasan global. Di Eropa, banjir besar melanda Spanyol, menewaskan lebih dari 200 orang dan menghancurkan banyak desa.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim kini telah terasa di seluruh belahan dunia.
Laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan konsentrasi karbon dioksida global pada 2023, mencapai rekor tertinggi.
Kenaikan ini lebih dari 10 persen dalam dua dekade terakhir, menggarisbawahi perlunya tindakan segera untuk mengurangi emisi.
Dr. Carlo Buontempo, Direktur C3S menilai pengurangan emisi adalah solusi paling efektif untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim.
“Tanpa komitmen global yang lebih kuat, kita akan menghadapi bencana yang jauh lebih besar,” katanya.
Konferensi Perubahan Iklim COP29 di Baku, Azerbaijan, menjadi momen krusial bagi dunia. Pemimpin dunia diharapkan menetapkan langkah konkret untuk mempercepat pengurangan emisi demi menyelamatkan planet dari kerusakan lebih lanjut.
Tahun 2024 bukan hanya sekadar rekor baru, tetapi juga panggilan mendesak bagi umat manusia untuk bertindak sebelum terlambat. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama