RADARTUBAN - Buat kamu yang belum kenal Darryl Verdonk, wajib tahu nih! Dia adalah kakak dari bek sayap Timnas Indonesia, Calvin Verdonk. Meski bidang mereka beda—Calvin di sepak bola dan Darryl di kickboxing—ternyata ada satu kesamaan besar di antara mereka: daya tahan fisik yang luar biasa.
Darryl Verdonk bukan atlet biasa. Dari kompetisi lokal di Belanda, nama Darryl melambung di pentas internasional kickboxing, bahkan sampai ke K-1, liga kickboxing paling elite di dunia. Penasaran dengan perjalanan mereka? Yuk, kita bahas tuntas!
Darryl Verdonk: Sang Petarung Kelas Dunia
Ngomongin Darryl Verdonk nggak lengkap kalau nggak ngebahas awal kariernya. Atlet berusia 28 tahun ini memulai perjalanan kickboxing dari berbagai kompetisi lokal di Belanda.
Fokusnya ada di kelas lightweight, tapi siapa sangka kalau Darryl bakal menembus pentas internasional seperti Enfusion dan bahkan K-1, organisasi kickboxing paling bergengsi di dunia.
Buat yang belum familiar, Enfusion itu salah satu ajang kickboxing terbaik di dunia, dan di situ Darryl sukses besar. Dari tujuh pertandingan, dia berhasil menang enam kali, hanya kalah satu kali aja.
Puncaknya, Darryl berhasil meraih gelar Juara Dunia Enfusion 2022.Prestasi di Enfusion membuka jalan bagi Darryl ke K-1, tempat para legenda kickboxing berlaga. Di K-1, Darryl bertarung di kelas super welterweight (70 kg) dan mencatat beberapa kemenangan besar, salah satunya melawan Hiromiwajima.
Meski sempat kalah dari petarung Brasil Raphael Silva, Darryl enggan menyerah. Dia bangkit dan sukses mengalahkan Zhora Akopyan dari Armenia pada Oktober 2024.
Dukungan Darryl Verdonk untuk Calvin Verdonk
Walaupun beda bidang, Darryl selalu kasih dukungan penuh bagi sang adik, Calvin Verdonk. Di media sosial, Darryl sering terlihat bangga pada Calvin, bahkan dia sering mengenakan atribut Timnas Indonesia, seperti jersey Timnas, saat latihan.
Tak cuma itu, Darryl juga sering memakai bendera Indonesia dan Belanda secara bersamaan di atributnya, nunjukin betapa dia bangga pada dua negara yang mengalir di darahnya ini.
Salah satu momen lucu mereka adalah saat latihan bareng di gym. Darryl dan Calvin sering berbagi momen latihan fisik bareng, seperti menendang samsak tinju.
Dari situlah sangat terlihat daya tahan dan kekuatan fisik Calvin itu tak lepas dari “warisan” latihan keras ala Darryl. Mungkin, Calvin bisa tahan banting di lapangan juga karena latihan bareng kakaknya ini, ya!
Calvin Verdonk: Bek Sayap yang Tahan Banting
Kita geser sedikit ke Calvin Verdonk, pemain andalan Timnas Indonesia yang punya reputasi sebagai bek sayap tahan banting. Meski jalannya beda dengan kakaknya, Calvin tetap menunjukkan daya tahan fisik yang luar biasa.
Terbukti, sepanjang kariernya, Calvin absen di empat pertandingan saja, dua kali karena cedera ringan dan dua lainnya karena demam biasa.
Berbeda dengan wingback terkenal di Eropa, Reece James, yang sudah lebih dari 680 hari absen karena cedera dan melewatkan 129 pertandingan. Jadi, tidak heran kalau banyak yang kagum pada konsistensi Calvin di lapangan.
Kehadiran Calvin Verdonk di Timnas Indonesia tak hanya membuat permainan makin solid, tapi juga jadi inspirasi buat kita semua bahwa daya tahan fisik dan mental itu penting banget, apapun profesinya.
Verdonk Bersaudara: Bangga Bawa Nama Indonesia di Mata Dunia
Tidak banyak yang tahu, tapi Verdonk bersaudara ini adalah contoh nyata bagaimana atlet berdarah Indonesia mampu bersinar di pentas internasional. Calvin dengan sepak bolanya, dan Darryl dengan kickboxing-nya, sama-sama membuat kita bangga.
Keberhasilan Darryl di K-1 dan Enfusion adalah bukti bahwa darah juara mengalir di keluarga ini. Begitu juga dengan Calvin yang selalu jadi andalan di lini pertahanan Timnas Indonesia. Semangat, daya tahan, dan dedikasi mereka sangat bisa kita contoh di kehidupan sehari-hari.
Verdonk bersaudara adalah bukti nyata bahwa kerja keras, daya tahan fisik, dan semangat juang bisa membawa seseorang ke puncak prestasi. Mulai dari Darryl yang menaklukkan dunia kickboxing hingga Calvin yang selalu tampil konsisten di lapangan hijau, keduanya menginspirasi kita semua. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni